Mahasiswa Poltekkes Surabaya Lakukan Praktik Kerja Komunitas untuk Tingkatkan Sanitasi dan Air Bersih di Banyuwangi

Suara Pecari – 07 April 2026 | Puluhan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Surabaya memulai Praktik Kerja Komunitas (PKK) di Banyuwangi selama 20 hari, mulai 6 hingga 25 April, dengan tujuan mengidentifikasi dan membantu penanganan permasalahan kesehatan masyarakat setempat.

Sebanyak 82 mahasiswa semester enam program studi Sanitasi D3, jurusan Kesehatan Lingkungan, ditempatkan di tiga puskesmas wilayah Banyuwangi, yakni Wonosobo, Srono, dan Tembokrejo, untuk melaksanakan kegiatan lapangan.

Kedatangan mahasiswa disambut di Pendopo Sabha Swagata Blambangan oleh pejabat setempat, termasuk Kepala Desa Ipuk, yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim kesehatan muda tersebut.

Ipuk menekankan perbedaan antara teori akademik dan realitas lapangan, serta menyatakan bahwa pengalaman ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa mengasah kepekaan sosial dan kemampuan merumuskan solusi praktis.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa 6,78 persen rumah tangga di Banyuwangi belum memiliki akses air minum yang layak, sementara hanya 10,30 persen yang menikmati sanitasi aman, menandakan masih adanya tantangan signifikan dalam sektor kesehatan lingkungan.

Kondisi tersebut diperparah oleh fakta bahwa proporsi rumah tangga dengan sanitasi layak di Jawa Timur secara keseluruhan belum mencapai 90 persen, sehingga intervensi berbasis komunitas menjadi sangat diperlukan.

Mahasiswa Poltekkes akan melakukan survei rumah, menguji kualitas air, serta memberikan edukasi tentang praktik kebersihan dan pengelolaan limbah kepada warga yang teridentifikasi memiliki risiko tinggi.

Selama masa PKK, tim mahasiswa dibekali dengan peralatan laboratorium sederhana, seperti kit uji kualitas air dan alat ukur mikrobiologi, untuk memastikan data yang dikumpulkan bersifat ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.

Direktur Poltekkes Kemenkes Surabaya, Luthfi Rusyadi, menjelaskan bahwa program tahun ini difokuskan pada tiga kecamatan dengan harapan dapat memperluas jangkauan di tahun berikutnya hingga melibatkan lebih dari 170 mahasiswa sarjana terapan.

Rusyadi juga mengindikasikan rencana pembukaan program studi baru di Banyuwangi, yang bertujuan memudahkan akses pendidikan tinggi bagi warga lokal dan memperkuat jaringan tenaga kesehatan di daerah tersebut.

Puskesmas Wonosobo, Srono, dan Tembokrejo masing‑masing menyiapkan fasilitas pendukung, termasuk ruang pertemuan dan laboratorium mobil, untuk memfasilitasi kegiatan pengujian dan pelatihan yang dilakukan oleh mahasiswa.

Selama dua minggu kegiatan, mahasiswa diharapkan menghasilkan laporan terperinci mengenai temuan lapangan, rekomendasi perbaikan, serta rencana tindak lanjut yang dapat diadopsi oleh pemerintah daerah.

Pendekatan yang diambil bersifat partisipatif; tim mahasiswa bekerja sama dengan tokoh masyarakat, kelompok perempuan, dan lembaga swadaya masyarakat setempat untuk memastikan solusi yang diusulkan sesuai dengan kebutuhan dan budaya lokal.

Salah satu fokus utama adalah peningkatan kesadaran tentang pentingnya sanitasi dasar, termasuk penggunaan jamban yang aman, pemeliharaan sistem pembuangan limbah, dan praktik cuci tangan dengan sabun.

Pada aspek air bersih, mahasiswa melakukan pengujian mikrobiologis terhadap sumur dan sumber air permukaan, serta memberikan rekomendasi instalasi filter sederhana atau sistem penampungan hujan bagi rumah yang belum terhubung ke jaringan air bersih.

Hasil awal menunjukkan adanya kontaminasi Escherichia coli pada beberapa sumber air, yang menandakan perlunya tindakan perbaikan segera untuk mencegah risiko penyakit menular.

Warga yang menerima pelatihan melaporkan peningkatan pemahaman tentang hubungan antara kebersihan lingkungan dan kesehatan pribadi, serta kesiapan untuk menerapkan perubahan perilaku dalam jangka panjang.

Setelah PKK selesai, tim Poltekkes akan menyerahkan hasil evaluasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, yang diharapkan menjadi dasar perencanaan program sanitasi dan air bersih jangka panjang.

Upaya kolaboratif ini diharapkan tidak hanya meningkatkan akses sanitasi dan air bersih, tetapi juga memperkuat kapasitas lokal dalam mengidentifikasi masalah kesehatan, sehingga ketahanan komunitas dapat ditingkatkan.

Dengan dukungan institusi pendidikan, pemerintah daerah, dan partisipasi aktif masyarakat, program PKK di Banyuwangi menjadi contoh konkret bagaimana sumber daya manusia muda dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pembangunan kesehatan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan