Israel Masih Duduki Wilayah Lebanon, Hizbullah Yakin Iran Tak Akan Tandatangani Kesepakatan Nuklir
Suara Pecari | Israel masih duduki wilayah Lebanon, Hizbullah yakin Iran tak akan tandatangani kesepakatan nuklir. Situasi ini menjadi sorotan utama di tengah proses perdamaian yang sedang dijalin antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun kedua negara mengumumkan kesepakatan damai yang akan ditandatangani pada 19 Juni di Swiss, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa konflik di Lebanon belum juga mereda.
Israel masih duduki wilayah Lebanon, Hizbullah yakin Iran tak akan tandatangani kesepakatan nuklir tanpa jaminan keamanan bagi Lebanon. Keyakinan ini disampaikan oleh politikus Hizbullah, Hassan Fadlallah, dalam pidatonya yang disiarkan televisi Al-Manar. Ia menegaskan bahwa Iran pasti akan memperjuangkan kepentingan Lebanon dalam setiap perundingan dengan AS.
Berdasarkan laporan dari berbagai sumber, serangan udara Israel di Lebanon selatan terus berlanjut meskipun ada pengumuman kesepakatan damai. Badan berita resmi Lebanon, National News Agency, melaporkan bahwa drone Israel melancarkan tiga serangan di wilayah Tyre yang menyebabkan sejumlah korban luka. Serangan drone lainnya juga menyasar distrik Bint Jbeil di Provinsi Nabatieh. Pasukan Israel juga menggempur kota Nabatieh al-Fawqa dan kawasan perbukitan Ali al-Taher.
Di sisi lain, Hizbullah membalas dengan menembakkan sedikitnya 10 roket ke arah pasukan Israel di sekitar Kfar Tebnit. Kelompok ini menegaskan bahwa mereka akan terus melawan selama pasukan Israel masih berada di wilayah Lebanon. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa dari sudut pandang Teheran, Amerika Serikat dan Israel berada pada satu pihak dalam kesepakatan tersebut, sementara Iran dan Hizbullah di pihak lainnya. Tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah yang diduduki, perang tak dapat dianggap berakhir.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan tegas menolak menarik mundur pasukannya. Dalam konferensi pers, ia mengatakan bahwa Israel akan tetap berada di zona penyangga keamanan Lebanon selama diperlukan. Israel saat ini menduduki sekitar 570 kilometer persegi wilayah Lebanon selatan. Netanyahu menilai kehadiran militer tersebut penting untuk menjaga keamanan negara dari ancaman Hizbullah.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa kesepakatan dengan Iran telah rampung. Ia menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade angkatan laut AS sebagai bagian dari langkah yang akan segera dijalankan. Namun, Trump juga menegaskan bahwa negosiasi yang ditempuh AS hanya untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran, sementara Lebanon adalah urusan Israel. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara AS dan Iran mengenai cakupan kesepakatan.
Iran sendiri telah mengajukan sejumlah syarat dalam perundingan, termasuk penghentian sanksi ekonomi dan penghentian perang di Lebanon. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, memuji pencapaian militer negaranya pasca penandatanganan nota kesepahaman. Namun, ia juga mengingatkan bahwa setiap serangan Israel ke Lebanon akan dipandang sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan.
Israel masih duduki wilayah Lebanon, Hizbullah yakin Iran tak akan tandatangani kesepakatan nuklir jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Keyakinan ini didasarkan pada komitmen Iran yang telah berulang kali menegaskan bahwa kesepakatan damai dengan AS harus meliputi Lebanon. Iran sudah memasukkan hal tersebut ke dalam draf kesepakatan, meskipun belum difinalisasi.
Konflik di Lebanon dinilai menjadi salah satu ancaman terbesar terhadap implementasi kesepakatan AS-Iran. Pakar hubungan internasional dari Universitas Teheran, Mohammad Eslami, mengatakan Lebanon menjadi prioritas utama Iran ketika memulai negosiasi dengan pemerintahan Trump. Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang bertindak sebagai mediator mengonfirmasi bahwa kesepakatan ini mencakup penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon.
Namun, pernyataan Netanyahu yang menolak menarik pasukan menimbulkan keraguan terhadap efektivitas kesepakatan tersebut. Hizbullah optimistis bahwa Iran akan bersikeras pada masalah Lebanon dalam setiap kesepakatan. Mereka percaya bahwa tanpa jaminan keamanan bagi Lebanon, Iran tidak akan menandatangani kesepakatan nuklir dengan AS.
Di tengah ketidakpastian ini, serangan di lapangan belum sepenuhnya berhenti. Intensitas kekerasan memang menurun sejak kesepakatan diumumkan, tetapi laporan tentang serangan drone dan roket masih terus berdatangan. Militer Israel disebut tengah berupaya menguasai lebih banyak wilayah strategis, terutama dataran tinggi di sekitar Nabatieh.
Kesimpulannya, Israel masih duduki wilayah Lebanon, Hizbullah yakin Iran tak akan tandatangani kesepakatan nuklir. Sikap Israel yang ngotot mempertahankan pendudukan di Lebanon selatan menjadi batu sandungan utama bagi terwujudnya perdamaian yang komprehensif. Iran dan Hizbullah menuntut penarikan penuh pasukan Israel sebagai syarat mutlak, sementara Israel bersikeras pada kebutuhan keamanan. Dengan jadwal penandatanganan yang semakin dekat, dunia menanti apakah kesepakatan ini benar-benar mampu mengakhiri konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












