MRT Bergerak, Wajah Kota Beranjak

MRT Bergerak, Wajah Kota Beranjak

Suara Pecari, Jakarta – MRT Bergerak mengubah wajah kota Jakarta melalui pengembangan jalur transportasi dan kawasan berorientasi transit (TOD) yang membuka peluang ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas mobilitas masyarakat. Pembangunan MRT Jakarta Fase 2, yang mencakup koridor Bundaran HI hingga Kota, tengah berlangsung dengan progres signifikan dan dijadwalkan beroperasi sebagian mulai 2027.

Perluasan Jalur MRT Jakarta Fase 2

Pembangunan MRT Jakarta Fase 2 dibagi menjadi dua tahap. Fase 2A memiliki panjang sekitar 5,8 kilometer dengan tujuh stasiun bawah tanah, yakni Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Sedangkan Fase 2B direncanakan sepanjang enam kilometer dengan dua stasiun bawah tanah di Mangga Dua dan Ancol serta depo di Ancol Marina. Hingga Oktober 2026, progres Fase 2A sudah mencapai lebih dari 63 persen.

Baca juga:

Segmen Bundaran HI menuju Monas dan Harmoni ditargetkan menjalani uji coba pada pertengahan 2027 dan operasional akhir tahun itu. Sementara segmen Harmoni hingga Kota diperkirakan selesai pada akhir 2029. Perluasan jalur ini menghubungkan pusat bisnis dan pemerintahan di Jakarta Pusat dengan pusat perdagangan serta kawasan bersejarah di Jakarta Barat, memperkuat konektivitas transportasi di ibu kota.

Dampak Ekonomi dan Sosial MRT

Pembangunan MRT tidak hanya berdampak pada mobilitas, tetapi juga membawa manfaat ekonomi. Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menyebutkan potensi nilai output ekonomi Fase 2A mencapai puluhan triliun rupiah per tahun melalui efisiensi mobilitas, peningkatan penerimaan daerah, dan dampak berganda pada ekosistem usaha di sepanjang koridor.

Stasiun-stasiun seperti Glodok dan Kota membuka akses ke pusat perdagangan grosir dan kawasan bersejarah, sedangkan stasiun Thamrin, Monas, dan Harmoni memperkuat konektivitas kawasan bisnis. Pengembangan ini berpotensi meningkatkan nilai lahan dan mendorong pembangunan bangunan multifungsi serta mendukung UMKM dan sektor pariwisata.

Namun, Djoko juga mengingatkan dampak negatif sementara selama konstruksi, seperti gangguan aktivitas usaha dan potensi kenaikan harga sewa yang dapat menekan pelaku usaha lama.

Pengembangan Kawasan Berorientasi Transit (TOD)

MRT Jakarta juga mengembangkan konsep TOD di beberapa kawasan strategis, seperti Blok M, Dukuh Atas, dan Kota Tua. TOD menjadikan stasiun MRT sebagai pusat integrasi transportasi dan ruang publik yang menghubungkan fasilitas komersial, publik, dan pejalan kaki.

Blok M Hub tengah direvitalisasi dengan konsep Blok M Ultimate yang memadukan fungsi terminal transportasi, kawasan ritel, dan ruang publik. Transformasi ini bertujuan mempertahankan karakter Blok M sebagai pusat kuliner dan perbelanjaan sekaligus meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan pengunjung. Luas ruang publik di Blok M ditargetkan menjadi lima kali lebih besar dengan total pengembangan kawasan sepuluh kali lipat dari kondisi saat ini, dengan rencana rampung pada 2029.

Di Dukuh Atas, pengembangan pedestrian deck berbentuk cincin donat terinspirasi dari jembatan pejalan kaki di Osaka, Jepang, akan menghubungkan berbagai moda transportasi seperti MRT, LRT, KRL, dan TransJakarta. Kolaborasi dengan Urban Renaissance Agency Jepang bertujuan menciptakan akses pejalan kaki yang mudah dan mengurangi kemacetan serta polusi.

Baca juga:

Pengalaman Pengguna dan Harapan Masyarakat

MRT Jakarta sudah menjadi bagian dari rutinitas warga seperti Santi, yang beralih dari ojek online ke MRT untuk efisiensi waktu dan biaya. Kenyamanan, kebersihan, dan keteraturan menjadi alasan utama penggunaan MRT meski kepadatan pada jam sibuk masih menjadi tantangan. Santi berharap perluasan jalur hingga Kota dan kawasan wisata seperti Monas dan Kota Tua dapat semakin mempermudah mobilitas.

Di sisi lain, pembangunan proyek MRT juga memberikan peluang ekonomi bagi pelaku usaha kecil di sekitar lokasi konstruksi, seperti pedagang kopi keliling yang melayani para pekerja proyek.

Mewujudkan Wajah Kota yang Beranjak

Pembangunan MRT Jakarta dan pengembangan kawasan sekitarnya bertujuan lebih dari sekadar menyediakan sarana transportasi. Infrastruktur ini diharapkan meningkatkan konektivitas, membuka peluang ekonomi, dan menciptakan ruang kota yang nyaman dan bermanfaat bagi masyarakat. Keberhasilan proyek ini diukur dari peningkatan kualitas perjalanan, integrasi moda, serta dampak positif terhadap aktivitas ekonomi dan sosial di sekitar stasiun.

Perubahan wajah kota Jakarta melalui MRT bergerak membawa harapan baru bagi mobilitas yang efisien, pengembangan kawasan yang berkelanjutan, dan peningkatan kualitas hidup warganya.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *