Debu Tebal Dari Proyek Sekolah Rakyat Ganggu Warga Muncar, Anggota DPR RI Sonny Minta Pemerintah Bertindak

Truk proyek keluar masuk lokasi pembangunan Sekolah Rakyat di Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Aktivitas kendaraan tersebut dikeluhkan warga karena menimbulkan debu di sekitar permukiman. Sumber foto: (Ao Dokumentasi warga)

BANYUWANGI. Debu tebal yang beterbangan dari aktivitas kendaraan proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, mulai memicu keluhan warga. Setiap hari, truk-truk proyek yang keluar masuk lokasi pembangunan melintas di jalan desa yang berada dekat permukiman.

Bagi warga Dusun Mangunrejo, pemandangan itu kini menjadi rutinitas. Saat cuaca panas, debu dari jalan kering beterbangan dan menyelimuti rumah serta jalan yang dilalui masyarakat. Sebaliknya, ketika hujan turun, kondisi jalan berubah licin dan berlumpur.

Keluhan tersebut disampaikan seorang warga yang juga dikenal sebagai influencer lokal. Ia menggambarkan kondisi lingkungan yang berubah sejak aktivitas proyek semakin intens.

Menurutnya, lalu lintas kendaraan proyek membuat jalan desa yang sebelumnya relatif tenang kini dipenuhi debu.

“Setiap truk lewat, debunya langsung beterbangan. Rumah warga jadi kotor, napas juga terasa sesak. Kami khawatir kalau kondisi ini terus berlangsung,” ujarnya.

Ia juga menyebut sebagian warga mulai mengeluhkan gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan. Beberapa di antaranya mengalami batuk dan gejala yang mengarah pada Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).

Selain itu, kondisi jalan yang tertutup debu juga dinilai membahayakan pengendara yang melintas, terutama bagi pengguna sepeda motor.

Keluhan warga tersebut akhirnya sampai ke anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur III, Sonny T. Danaparamita. Politisi itu mengaku segera menindaklanjuti laporan masyarakat dengan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

“Saya sudah berkomunikasi dengan Pemkab Banyuwangi, khususnya pihak yang menangani pembangunan, agar persoalan ini mendapatkan perhatian serius,” kata Sonny, Selasa (10/3/2026) kemarin.

Ia menegaskan, pembangunan Sekolah Rakyat merupakan program nasional yang bertujuan memperluas akses pendidikan bagi masyarakat. Namun di sisi lain, pelaksanaan proyek tetap harus memperhatikan kondisi warga di sekitar lokasi.

Menurut Sonny, pembangunan tidak seharusnya menimbulkan dampak yang justru merugikan masyarakat.

“Program ini tentu penting karena berkaitan dengan pemerataan pendidikan. Tetapi dampak yang dirasakan warga juga tidak boleh diabaikan. Harus ada solusi agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengorbankan kenyamanan masyarakat,” ujarnya.

Sonny juga mendorong agar langkah-langkah mitigasi segera dilakukan oleh pihak terkait. Di antaranya dengan mengendalikan debu dari jalan proyek, melakukan penyiraman jalan secara rutin, serta mengatur lalu lintas kendaraan proyek agar tidak mengganggu aktivitas warga.

Ia menilai koordinasi antara pemerintah daerah, kontraktor proyek, dan kementerian yang terlibat menjadi kunci agar persoalan tersebut dapat segera diselesaikan.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, proyek pembangunan Sekolah Rakyat tersebut merupakan bagian dari program pemerintah pusat yang melibatkan sejumlah kementerian, seperti Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Sosial, dan Kementerian Ketenagakerjaan.

Karena itu, Sonny berharap kementerian terkait juga segera merespons keluhan masyarakat.

“Harapan kami sederhana, pembangunan tetap berjalan, tetapi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi proyek juga merasa aman dan terlindungi,” katanya.

Bagi warga Dusun Mangunrejo, perhatian dari berbagai pihak kini menjadi harapan agar aktivitas pembangunan tidak lagi meninggalkan debu yang setiap hari harus mereka hirup.

Tinggalkan Balasan