Tanggapi Aksi Mahasiswa, Qodari Jelaskan Penyebab Kenaikan BBM Nonsubsidi

Tanggapi Aksi Mahasiswa, Qodari Jelaskan Penyebab Kenaikan BBM Nonsubsidi

Suara Pecari | Jakarta – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Kabakom) Muhammad Qodari angkat bicara menanggapi gelombang aksi mahasiswa yang menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi. Dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 13 Juni 2026, Qodari menegaskan bahwa kenaikan tersebut tidak terlepas dari dinamika global yang kompleks, mulai dari konflik geopolitik hingga ketidakmampuan produksi dalam negeri memenuhi kebutuhan energi nasional.

Kronologi Aksi Mahasiswa dan Respons Pemerintah

Aksi penyampaian pendapat mahasiswa terkait kenaikan harga BBM nonsubsidi berlangsung pada Jumat, 12 Juni 2026, di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Mahasiswa menuntut pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan kenaikan harga BBM nonsubsidi yang dinilai memberatkan masyarakat, terutama di tengah tekanan ekonomi yang masih tinggi. Menanggapi hal tersebut, Qodari selaku Kabakom memberikan penjelasan resmi keesokan harinya.

Faktor Global Dominasi Penyebab Kenaikan

Menurut Qodari, kenaikan harga BBM nonsubsidi di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar minyak dunia yang fluktuatif. Beberapa faktor global yang mempengaruhi antara lain:

  • Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, mengganggu rantai pasok minyak global.
  • Kebijakan produksi negara-negara OPEC+ yang membatasi pasokan untuk menjaga harga.
  • Peningkatan permintaan energi seiring pemulihan ekonomi global pascapandemi.

Qodari mencontohkan, harga minyak mentah dunia sempat menyentuh level 90 dolar AS per barel pada awal Juni 2026, meningkat signifikan dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya. Hal ini langsung berdampak pada harga BBM nonsubsidi yang mengikuti mekanisme pasar.

Kemandirian Energi: Agenda Besar Pemerintah

Dalam kesempatan itu, Qodari kembali menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto sejak awal telah menempatkan kemandirian energi sebagai agenda utama. Ia menyebutkan beberapa langkah strategis yang sedang dijalankan:

  • Mendorong produksi minyak dalam negeri melalui optimalisasi blok migas existing dan eksplorasi baru.
  • Mempercepat transisi ke energi baru terbarukan (EBT) seperti biodiesel B50 dan campuran etanol E20.
  • Membangun infrastruktur penyimpanan dan distribusi energi yang lebih efisien.

Namun, Qodari mengakui bahwa tantangan di sektor energi jauh lebih berat dibandingkan sektor pangan. Ia membandingkan, untuk pangan pemerintah berhasil meningkatkan produksi beras dan pupuk sehingga ketergantungan impor berkurang. Sementara di energi, impor minyak masih sangat besar.

Data Produksi vs Kebutuhan Energi Nasional

Berikut adalah data perbandingan produksi dan konsumsi BBM nasional yang disampaikan Qodari:

JenisVolume per HariKeterangan
Kebutuhan Nasional1,6 juta literTotal konsumsi BBM (subsidi + nonsubsidi)
Produksi Dalam Negeri600 ribu literHanya mampu memenuhi 37,5% kebutuhan
Impor1 juta liter62,5% kebutuhan dipenuhi impor

Data tersebut menunjukkan betapa besarnya ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari luar negeri. Akibatnya, setiap gejolak harga minyak global langsung berdampak pada harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.

Dampak dan Implikasi Kenaikan BBM Nonsubsidi

Kenaikan harga BBM nonsubsidi diperkirakan akan berdampak pada berbagai sektor, antara lain:

  • Transportasi: Biaya logistik meningkat, berpotensi mendorong kenaikan harga barang kebutuhan pokok.
  • Industri: Sektor manufaktur dan jasa yang bergantung pada BBM nonsubsidi akan mengalami peningkatan biaya produksi.
  • Masyarakat: Daya beli masyarakat kelas menengah ke atas yang menggunakan BBM nonsubsidi akan tertekan, namun pemerintah menjamin harga BBM bersubsidi (Pertalite) tetap stabil.

Qodari mengingatkan bahwa BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan, sehingga masyarakat kurang mampu tidak perlu khawatir. Ia juga menekankan pentingnya pemahaman bahwa ada dua jenis BBM: subsidi dan nonsubsidi. “Jangan lupa bahwa BBM di kita ini ada dua. Ada yang disubsidi, ada yang harga pasar, yang disubsidi kan nggak naik, tetap,” ujarnya.

Upaya Jangka Panjang: Transisi Energi dan Diversifikasi

Pemerintah tidak tinggal diam. Selain program biodiesel B50 dan etanol E20, pemerintah juga menggencarkan penggunaan kendaraan listrik dan pembangunan kilang minyak baru. Qodari optimistis bahwa dalam beberapa tahun ke depan, ketergantungan terhadap impor minyak bisa dikurangi secara signifikan. “Bangsa ini harus mandiri, bangsa ini harus maju, lepas dari ketergantungan pangan, lepas dari ketergantungan energi. Itu kan semua (usaha) Pak Prabowo,” tegasnya.

Ia menambahkan, reformasi struktural di sektor energi membutuhkan waktu, namun pemerintah berkomitmen untuk terus menjalankan agenda tersebut. Masyarakat diharapkan mendukung kebijakan pemerintah dan bersabar dalam proses transisi menuju kemandirian energi.

Penjelasan Qodari ini diharapkan dapat meredakan kekhawatiran publik sekaligus memberikan gambaran utuh tentang kompleksitas permasalahan energi di Indonesia. Meskipun aksi mahasiswa tetap berlangsung, pemerintah berharap dialog terbuka dapat terus terjalin untuk mencapai solusi terbaik bagi bangsa.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan