Demi Oleh-Oleh Jemaah Rela Kurangi Barang Bawaan, Kisah di Balik Koper Haji
Suara Pecari | Makkah – Menjelang kepulangan ke Tanah Air, jemaah haji Indonesia mulai sibuk menimbang koper. Proses ini memunculkan kisah unik: Demi Oleh-Oleh Jemaah Rela Kurangi Barang Bawaan LPP RRI. Banyak jemaah yang memilih meninggalkan pakaian atau perlengkapan pribadi demi memastikan buah tangan untuk keluarga di rumah tetap masuk ke dalam koper.
Penimbangan koper dilakukan secara ketat di hotel-hotel tempat jemaah menginap. Petugas dari maskapai Garuda Indonesia, Norman Fajar, menjelaskan bahwa koper bagasi maksimal 32 kilogram, sedangkan koper kabin hanya 7 kilogram. Jika melebihi, jemaah harus mengurangi sendiri barang bawaannya. “Kami minta jemaah untuk mengurangi terlebih dahulu,” ujarnya di Makkah, Kamis (4/6/2026). Tidak ada opsi membayar kelebihan berat, sehingga jemaah harus rela memilah barang.
Fenomena Demi Oleh-Oleh Jemaah Rela Kurangi Barang Bawaan LPP RRI terlihat jelas di kalangan jemaah asal Wajo, Sulawesi Selatan. Junarti Ramli, misalnya, mengaku membawa banyak oleh-oleh untuk sanak saudara. “Saya mengutamakan oleh-oleh yang harus dibawa pulang. Buah tangan untuk sanak keluarga,” katanya. Ia rela meninggalkan sebagian pakaian dan perlengkapan mandi demi memastikan cendera mata dari Tanah Suci tetap masuk koper.
Cerita serupa diungkapkan Andi Tenri Olle, juga dari Sulawesi Selatan. Ia membeli berbagai cendera mata seperti tasbih, sajadah, dan kurma untuk keluarga di kampung. “Kami sangat antusias beli oleh-oleh buat keluarga di kampung. Alhamdulillah biar berkah,” ujarnya. Baginya, oleh-oleh bukan sekadar barang, melainkan simbol keberkahan setelah menunaikan ibadah haji.
Bagi sebagian besar jemaah, oleh-oleh memiliki makna lebih dari sekadar buah tangan. Ia menjadi simbol kasih sayang dan kebersamaan setelah berbulan-bulan berpisah. Karena itu, Demi Oleh-Oleh Jemaah Rela Kurangi Barang Bawaan LPP RRI menjadi pemandangan umum di setiap musim haji. Barang pribadi seperti pakaian ganti atau alas kaki sering dikorbankan demi muatan oleh-oleh yang lebih banyak.
Petugas di lapangan terus mengingatkan jemaah untuk menimbang koper sejak jauh-jauh hari agar tidak terburu-buru. Namun, antusiasme membawa oleh-oleh seringkali membuat jemaah abai. “Kami selalu imbau jemaah untuk packing dengan cermat. Tapi ya, namanya juga oleh-oleh, pasti ingin bawa sebanyak mungkin,” kata seorang petugas MCH yang enggan disebut namanya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan jemaah reguler, tetapi juga jemaah haji plus dan Furoda. Mereka rela mengeluarkan biaya tambahan untuk koper ekstra atau bahkan membeli koper baru demi menampung oleh-oleh. Namun, karena kebijakan maskapai tidak memperbolehkan pembayaran kelebihan berat, solusi satu-satunya adalah mengurangi barang.
Kisah Demi Oleh-Oleh Jemaah Rela Kurangi Barang Bawaan LPP RRI ini menjadi cermin betapa besarnya rasa cinta dan perhatian jemaah kepada keluarga di rumah. Meski harus berkorban, mereka tetap bahagia karena bisa membawa pulang kebahagiaan dalam bentuk oleh-oleh. Semoga semangat berbagi ini terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi kita semua.
Kesimpulannya, tradisi membawa oleh-oleh haji bukan sekadar budaya, melainkan wujud kasih sayang yang mendalam. Jemaah rela mengurangi kenyamanan pribadi demi membahagiakan orang tercinta. Semoga setiap buah tangan yang dibawa pulang membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi seluruh keluarga.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












