Senyum dan Semangat Gadis Disabilitas: Ketika Kepedulian Menjadi Obat bagi Keterbatasan

pegiat sosial Banyuwangi mengunjungi Luk Luul, gadis penyandang disabilitas

Banyuwangi – Komunitas Gotong Royong 45 bersama sejumlah pegiat sosial Banyuwangi mengunjungi Luk Luul, gadis penyandang disabilitas asal Rogojampi, Banyuwangi, pada Minggu (9/11). Kunjungan tersebut menjadi awal harapan baru bagi Luk Luul yang sejak kecil hanya bisa beraktivitas di dalam rumah karena keterbatasan fisiknya.

Luk Luul tinggal bersama kedua orang tuanya, Mansur (57) dan Sumiyati (53), di rumah warisan kakek-neneknya di Banyuwangi. Ayahnya bekerja sebagai kernet bus jurusan Banyuwangi–Situbondo, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga.

Karena keterbatasan ekonomi dan kondisi fisik, Luk Luul tidak pernah menempuh pendidikan secara penuh. Ia hanya sempat bersekolah di taman kanak-kanak selama dua tahun. Sang ibu tak dapat mengantarnya ke sekolah karena tidak bisa mengendarai kendaraan bermotor.

Dalam kunjungan tersebut, Ketua Komunitas Gotong Royong 45, Bung Aguk Darsono, mengatakan bahwa Luk Luul memiliki semangat dan keceriaan luar biasa meski mengalami kesulitan berbicara.

“Luk Luul ini anak yang cerdas dan ceria. Walau ada sedikit kesulitan berbicara, semangatnya luar biasa. Dia tidak malu, malah terlihat senang saat diajak ngobrol,” ujar Bung Aguk.

Pamannya, Iwan (50), yang juga penyandang disabilitas akibat kecelakaan kerja di laut, mengatakan bahwa Luk Luul akan lebih mudah beraktivitas jika memiliki kursi roda.

“Selama ini dia hanya bisa duduk atau berbaring di kasur, jarang sekali keluar rumah,” tutur Iwan, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang servis elektronik.

Menanggapi hal itu, Bung Aguk langsung menghubungi Khoirul Hidayat, S.STP., M.Si., Kepala Bidang Pemberdayaan dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Banyuwangi. Khoirul menyatakan siap menindaklanjuti dan meminta pemerintah desa untuk aktif memperbarui data warga penyandang disabilitas.

“Kami akan segera tindak lanjuti. Ke depannya, pihak desa perlu lebih aktif melaporkan dan memperbarui data agar bantuan sosial bisa tepat sasaran,” ujar Khoirul melalui pesan singkat.

Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi, Maulana Affandi, S.S., perwakilan komunitas media yang turut hadir, mengapresiasi langkah cepat Dinsos Banyuwangi.

“Ini bukti bahwa kepedulian Dinsos Banyuwangi terhadap warga yang membutuhkan sangat tinggi,” ucapnya.

Affandi juga menambahkan bahwa Luk Luul belum terdata sebagai penyandang disabilitas di Kabupaten Banyuwangi. Karena itu, pihaknya menunggu pendataan resmi dari pekerja sosial setempat.

Selain bantuan kursi roda dan popok, Luk Luul yang gemar bernyanyi juga akan dilibatkan dalam acara Hari Disabilitas Internasional (HDI) mendatang. Ia akan didampingi relawan dari Komunitas Gotong Royong 45 dan Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI).

Koordinator Divisi Program YALI, Indah Catur Cahyaningtyas, menegaskan bahwa pihaknya akan memberikan pendampingan berkelanjutan kepada keluarga Luk Luul.

“Kami mencatat Luk Luul sebagai anggota dampingan baru. Harapannya, keluarga bisa lebih responsif, dan kami akan mengikutkan mereka dalam pelatihan bagi orang tua yang memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas,” jelas Indah.

Dengan penuh harap, sang ibu, Sumiyati, berharap bantuan kursi roda segera terwujud agar anaknya bisa beraktivitas di luar rumah.

“Bukan karena malu, tapi saya tidak ingin merepotkan tetangga. Saya menyesal dulu tidak menyekolahkan dan tidak membuatkan KIA. Baru mengurus KTP setelah usianya lewat 18 tahun,” ujarnya lirih.

Semangat dan senyum Luk Luul menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bermimpi. Di balik segala kekurangan, tersimpan keyakinan bahwa pertolongan selalu datang pada waktu yang tepat. (**aguk/maulana/tim)