Pendamping Disabilitas Dapat Bekal Baru Lewat Program Awareness Raising

Pendamping Disabilitas Dapat Bekal Baru Lewat Program Awareness Raising

BANYUWANGI – Program Awareness Raising yang digagas Building Effective Network (BEN) bekerja sama dengan Aura Lentera dan Rumah Literasi Indonesia berlangsung hangat dan sarat makna pada Jumat (14/11) di aula SLB dekat GOR dan LPP Blambangan FM. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan bagi penyandang disabilitas, orang tua, pendamping, guru, aktivis literasi, hingga pemerhati inklusivitas di Banyuwangi.

Acara dibuka oleh Ketua Rumah Literasi Indonesia Banyuwangi, NS Tunggul Harwanto, M.Kes. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan tujuan utama program BEN, yakni membangun jejaring kolaboratif lintas lembaga dan komunitas yang bergerak pada isu disabilitas. Tunggul menegaskan pentingnya ruang aman bagi penyandang disabilitas untuk berkarya dan bersuara.

“Kami berharap kegiatan ini bukan hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga wadah bagi teman-teman disabilitas untuk menunjukkan kemampuan dan menginspirasi masyarakat. Mereka memiliki potensi besar, dan kita harus menjadi lingkaran dukungan yang kuat,” ujarnya.

Sementara itu, Indah Catur Cahyaningtyas dari Yayasan Aura Lentera Indonesia selaku moderator menyoroti pentingnya peningkatan kesadaran publik tentang hak-hak disabilitas. Ia menekankan bahwa edukasi dan jejaring kerja sama menjadi kunci agar upaya pemberdayaan dapat berjalan efektif.

Pemahaman Inklusi dan Pendidikan Humanis

Materi pertama disampaikan oleh Masfufah, M.Pd, perwakilan Perkins Internasional, yang memaparkan kondisi isu disabilitas di Banyuwangi serta urgensi pendekatan humanis dalam pendampingan, layanan publik, dan penyediaan sarana prasarana. Kepala sekolah ini menegaskan bahwa inklusivitas harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sebatas slogan.

“Kita perlu memastikan setiap penyandang disabilitas merasa diterima. Inklusivitas adalah perlakuan setara bagi semua,” ujarnya lembut.

Masfufah, yang akrab disapa Ufa, juga menjelaskan konsep CBR (Community-Based Rehabilitation) sebagai strategi pengembangan masyarakat berbasis rehabilitasi, pemberdayaan, dan penguatan relasi sosial. Menurutnya, CBR membantu meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas sekaligus mendorong mereka terlibat dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

“Menjadi orang tua dari anak disabilitas memang bukan pilihan. Namun memilih untuk mendampingi mereka dengan penuh cinta adalah kekuatan besar dalam sebuah keluarga,” tutupnya.

Kisah Arsy, Penyemangat Peserta

Dari puluhan peserta, perhatian tertuju pada Arsy, penyandang daksa asal Desa Kedaleman, Rogojampi. Arsy hadir bersama ibunya yang mengaku terbantu oleh kegiatan ini karena bisa berkonsultasi langsung dengan para pegiat disabilitas.

“Kami bersyukur bisa hadir. Banyak pengetahuan baru yang kami dapatkan,” ujarnya.

Arsy, yang kini duduk di kelas 2 MI Kedaleman, dikenal berprestasi dan berhasil meraih peringkat satu di kelas. Kisahnya menjadi inspirasi tersendiri bagi peserta lainnya.

Menjawab Kebutuhan Nyata

Pada sesi akhir, peserta mendapatkan pendampingan langsung dari Isti, konsultan Program BEN Indonesia. Sesi ini menjadi bagian paling interaktif karena membahas kebutuhan konkret yang dihadapi penyandang disabilitas dan keluarganya.

Isti memberikan arahan teknis maupun psikologis, mulai dari pendampingan emosional di rumah, stimulasi perkembangan sesuai usia, hingga pentingnya komunikasi antara orang tua, guru, dan komunitas. Ia juga menyoroti cara meningkatkan kepercayaan diri anak serta memetakan minat dan bakat mereka.

Kegiatan ini turut dihadiri pihak donor dari NLR Liliane Fonds dan konsultan Maman Sutarman. Sebelum acara, Maman bersama tim telah melakukan FGD dengan PJ Kusta dari Puskesmas Sobo dan Kertosari untuk menggali kondisi OYPMK serta layanan kesehatan terkait kusta.

Program Awareness Raising diharapkan menjadi penguatan gerakan inklusi di Banyuwangi, sekaligus mendorong masyarakat melihat penyandang disabilitas sebagai individu yang mampu berkarya dan berkontribusi nyata. (tim)

Tinggalkan Balasan