Negara Teluk Rencanakan Jalur Pipa Baru untuk Hindari Ketergantungan pada Selat Hormuz

Negara Teluk Rencanakan Jalur Pipa Baru untuk Hindari Ketergantungan pada Selat Hormuz

Suara Pecari – 03 April 2026 | Negara-negara Teluk tengah menimbang pembangunan jalur pipa minyak dan gas baru yang tidak melintasi Selat Hormuz, sebagai respons terhadap ketegangan geopolitik yang meningkat.

Penutupan sementara Selat Hormuz oleh Iran setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari menahan ratusan kapal tanker, menggangu pasokan minyak ke Asia dan menimbulkan ketidakpastian pasar global.

Arab Saudi mengandalkan jalur East‑West Pipeline yang menghubungkan ladang minyak di wilayah timur dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sehingga dapat menyalurkan minyak tanpa melewati selat yang berbahaya.

Negara‑negara Teluk kini mengevaluasi opsi memperluas jaringan pipa dengan menghubungkan Semenanjung Arab ke Laut Mediterania, termasuk melalui pelabuhan Haifa di Israel, untuk menciptakan rute alternatif yang lebih aman.

Proyek IMEC (India‑Middle East‑Europe Corridor) yang didukung Amerika Serikat menjadi kerangka kerja integrasi transportasi lintas benua, menggabungkan pipa, jalur kereta, dan jalan darat demi kelancaran distribusi energi.

Seorang eksekutif senior energi Teluk menyatakan, “Jika dilihat ke belakang, jalur pipa Timur‑Barat tampak seperti langkah jenius, dan kini kami meninjau jalur baru demi keamanan pasokan.”

Yossi Abu, kepala eksekutif NewMed Energy, menekankan pentingnya jaringan pipa dan kereta api yang tidak tergantung pada pihak luar, “Anda membutuhkan jalur pipa minyak, konektivitas kereta api di seluruh wilayah, tanpa hambatan yang dapat mencekik kami.”

Pembangunan kembali pipa Timur‑Barat diperkirakan menelan biaya minimal USD 5 miliar, sementara rute yang melintasi Irak, Yordania, Suriah, atau Turki dapat memerlukan investasi antara USD 15‑20 miliar.

Rute melalui Irak menghadapi risiko keamanan tinggi, termasuk bom yang belum meledak dan kehadiran kelompok militan, yang menambah kekhawatiran investor terhadap kelancaran proyek.

Alternatif melalui Oman dipersulit oleh kondisi geografis gurun dan pegunungan serta potensi sengketa politik terkait kepemilikan dan pengoperasian infrastruktur.

Dalam jangka pendek, opsi yang paling realistis adalah memperluas pipa yang sudah ada, seperti East‑West Saudi dan jalur Abu Dhabi‑Fujairah, untuk meningkatkan kapasitas pengiriman energi.

Inggris menyelenggarakan pertemuan daring dengan 35 negara pada 2 April, bertujuan membentuk koalisi internasional yang dapat membuka kembali Selat Hormuz serta mengeksplorasi alternatif transportasi energi.

Ketidakamanan di Selat Hormuz telah mendorong kenaikan harga minyak global, menambah biaya pengiriman dan asuransi, serta menimbulkan tekanan pada ekonomi dunia.

Negara‑negara Teluk menilai diversifikasi rute sebagai langkah penting untuk melindungi ekspor energi dan mencegah dampak negatif pada pertumbuhan ekonomi global.

Walaupun tantangan politik, keuangan, dan keamanan masih signifikan, proyek pipa baru terus dipertimbangkan sebagai sarana mengurangi ketergantungan pada jalur yang rentan.

Pembangunan infrastruktur tersebut juga harus memenuhi standar lingkungan yang ketat, dengan regulasi Saudi dan UAE serta potensi penolakan dari organisasi lingkungan.

Iran kemungkinan menganggap jalur pipa alternatif sebagai provokasi, meningkatkan risiko sabotase, namun Teluk menegaskan bahwa langkah ini bersifat defensif untuk menjaga kestabilan pasokan energi.

Tinggalkan Balasan