Waspada, Ikan Sapu-Sapu dari Sungai Tercemar Berpotensi Picu Penyakit Kronis

Ricky Sulivan
ikan sapu-sapu (foto :alodokter.com)

Jakarta – Konsumsi ikan sapu-sapu dari perairan yang tercemar tidak selalu menimbulkan gejala penyakit secara langsung. Justru, ancaman kesehatan terbesar sering muncul secara perlahan akibat akumulasi zat berbahaya yang masuk ke dalam tubuh manusia.

Pakar penyakit dalam dari Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, menjelaskan bahwa dampak kesehatan dari konsumsi ikan yang hidup di perairan tercemar umumnya terbagi dalam dua fase, yakni efek jangka pendek dan jangka panjang.

“Pada jangka pendek tentu pasien bisa mengalami muntah-muntah setelah mengonsumsi ikan yang sudah tercemar,” ujar Ari, seperti dikutip dari Kompas.com, Minggu (8/3/2026).

Namun menurutnya, dampak yang lebih berbahaya justru terjadi dalam jangka panjang.

“Dalam jangka panjang tentu bisa menyebabkan kerusakan ginjal maupun liver pada pasien tersebut,” katanya.

Racun Terakumulasi Tanpa Gejala Awal

Ari menilai masih banyak masyarakat yang menganggap makanan aman dikonsumsi selama tidak menimbulkan gejala sakit secara langsung. Padahal, dalam kasus ikan dari perairan tercemar, anggapan tersebut bisa menyesatkan.

Paparan zat berbahaya seperti logam berat dapat terakumulasi secara perlahan di dalam tubuh tanpa menimbulkan keluhan pada tahap awal.

Menurut Ari, bahaya utama ikan sapu-sapu sebenarnya bukan terletak pada jenis ikannya, melainkan pada kondisi lingkungan tempat ikan tersebut hidup.

“Ikan bisa berbahaya jika tercemar berbagai bakteri, kuman, maupun logam berat,” ujarnya.

Ikan sapu-sapu dikenal hidup di dasar sungai, terutama di kawasan perkotaan dengan tingkat pencemaran tinggi. Sungai-sungai tersebut kerap menerima limbah rumah tangga, limbah industri, hingga berbagai polutan yang mengendap di dasar perairan.

Sebagai ikan dasar, ikan sapu-sapu mengonsumsi alga serta material organik yang menempel pada permukaan sungai. Dalam proses tersebut, berbagai zat berbahaya ikut terserap dan terakumulasi di dalam tubuh ikan.

Proses Memasak Tidak Selalu Menghilangkan Risiko

Ari juga mengingatkan bahwa proses pengolahan makanan tidak selalu mampu menghilangkan racun yang terkandung dalam ikan dari perairan tercemar.

Menurutnya, meskipun ikan dimasak dengan berbagai metode seperti digoreng atau dikukus, risiko dari logam berat tetap bisa bertahan.

Karena itu, dampak kesehatan dari konsumsi ikan tercemar sering kali baru disadari setelah terjadi gangguan organ dalam jangka panjang, seperti kerusakan ginjal maupun hati.

Risiko Kontaminasi Logam Berat

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menegaskan bahwa ikan sapu-sapu dari sungai tercemar tidak dapat dipastikan keamanannya sebagai bahan pangan.

Menurutnya, secara biologis ikan sapu-sapu memang bisa dikonsumsi apabila berasal dari hasil budidaya yang terkontrol. Namun kondisi berbeda terjadi jika ikan tersebut berasal dari perairan tercemar.

Penelitian menunjukkan ikan sapu-sapu dari sungai tercemar—seperti di wilayah Sungai Ciliwung—dapat mengandung berbagai logam berat berbahaya, antara lain arsen (As), kadmium (Cd), timbal (Pb), hingga merkuri (Hg).

Logam berat tersebut cenderung menumpuk dalam jaringan tubuh ikan yang kemudian dikonsumsi manusia. Jika terjadi secara berulang, kondisi ini dapat memicu keracunan kronis.

Selain logam berat, ikan dari perairan tercemar juga berpotensi membawa bakteri patogen seperti E. coli, parasit, hingga berbagai polutan lain seperti residu pestisida, mikroplastik, dan bahan kimia limbah.

Edukasi Masyarakat Jadi Kunci

Menurut Hasudungan, persoalan utama bukan hanya pada satu kali konsumsi, melainkan pada pola konsumsi berulang yang dapat meningkatkan akumulasi zat berbahaya dalam tubuh.

Di Indonesia, konsumsi ikan segar sebenarnya mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) yang menetapkan ambang batas maksimum kandungan logam berat seperti Pb, Cd, Hg, dan As dalam daging ikan.

Namun ikan sapu-sapu yang ditangkap dari sungai tercemar umumnya berada di luar sistem pengawasan tersebut.

Karena itu, pihak KPKP terus mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih sumber pangan.

Edukasi juga terus dilakukan melalui berbagai media agar masyarakat tidak mengonsumsi ikan dari perairan tercemar yang tidak memiliki jaminan mutu dan keamanan pangan.