Influencer Klaim HIV Tak Ada, Dokter Tegaskan Hoaks, Ustaz Solmed Laporkan Akun Penyebar

Dian Pranata
Influencer Klaim HIV Tak Ada, Dokter Tegaskan Hoaks, Ustaz Solmed Laporkan Akun Penyebar

Suara Pecari – 18 April 2026 | Seorang influencer populer di Facebook mengklaim bahwa virus HIV tidak ada, menimbulkan kegemparan di dunia maya.

Pernyataan itu segera dipertanyakan oleh tenaga medis yang menilai klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah.

Dokter spesialis penyakit dalam menegaskan bahwa HIV tetap menjadi patogen yang terbukti menyebabkan AIDS pada jutaan orang.

Mereka menambahkan bahwa menyebarkan informasi palsu tentang HIV dapat mengancam upaya pencegahan dan pengobatan.

Menurut Kementerian Kesehatan, data resmi menunjukkan angka prevalensi HIV di Indonesia masih signifikan dan memerlukan perhatian khusus.

Petugas kesehatan memperingatkan bahwa hoaks semacam ini dapat menurunkan kesadaran publik terhadap pentingnya tes dan penggunaan kondom.

Di sisi lain, Ustaz Solmed mengajukan laporan resmi terhadap puluhan akun media sosial yang dianggap menyebarkan fitnah terkait dirinya.

Laporan tersebut diserahkan di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polda Metro Jaya pada Jumat, 17 April 2026.

Ustaz Solmed menyatakan nama baiknya tercemar oleh konten yang menuduhnya menyebarkan hoaks tentang HIV.

Ia menekankan bahwa sebagai warga negara, ia mengharapkan proses hukum berjalan adil dan transparan.

Kuasa hukum Ustaz Solmed, Afrian Bonjol, menambahkan bahwa tindakan hukum diperlukan untuk menghentikan penyebaran informasi menyesatkan.

Polisi menanggapi laporan tersebut dengan membuka penyelidikan terhadap akun-akun yang teridentifikasi.

Beberapa akun tersebut berada di platform TikTok dan Instagram, serta menyebarkan klaim serupa tentang HIV.

Pihak kepolisian mengingatkan bahwa penyebaran hoaks dapat dikenai sanksi pidana sesuai Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Para ahli media menilai fenomena ini mencerminkan tingginya tingkat literasi digital yang masih rendah di masyarakat.

Mereka menyarankan edukasi kritis agar publik dapat memverifikasi fakta sebelum menyebarkan informasi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus menekankan pentingnya edukasi tentang HIV untuk menurunkan stigma dan misinformasi.

WHO menegaskan bahwa penanganan HIV memerlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga kesehatan, dan masyarakat luas.

Pengamat sosial mencatat bahwa klaim kontroversial sering dimanfaatkan oleh influencer untuk meningkatkan engagement.

Namun, dampak negatifnya dapat meluas, terutama bila menyangkut isu kesehatan publik yang sensitif.

Beberapa netizen mengkritik perilaku influencer tersebut, menyebutnya tidak bertanggung jawab.

Di media sosial, komentar netizen beragam, ada yang menuntut permintaan maaf dan penarikan konten.

Pihak platform media sosial telah menerima laporan dan berjanji untuk meninjau konten yang melanggar kebijakan kesehatan.

Jika terbukti melanggar, akun terkait dapat dikenai pembatasan atau penghapusan.

Kasus ini menambah daftar contoh penyebaran hoaks kesehatan yang menimbulkan keresahan publik.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk selalu mengandalkan sumber resmi dalam memperoleh informasi medis.

Kesimpulannya, klaim HIV tidak ada dinyatakan hoaks oleh dokter, sementara Ustaz Solmed menuntut keadilan atas fitnah yang tersebar.

Upaya hukum dan edukasi bersama diharapkan dapat menekan laju penyebaran informasi menyesatkan di era digital.

Tinggalkan Balasan