Direktur Utama RSHS Bandung Ungkap Kronologi Bayi Nyaris Tertukar, Tanggapi Somasi
Suara Pecari – 17 April 2026 | Direktur Utama Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr. Rachim Dinata Marsidi, menanggapi publik atas insiden bayi hampir tertukar yang melibatkan keluarga Nina Saleha.
Insiden terjadi pada 8 April 2026, saat bayi dijadwalkan pulang setelah tiga hari perawatan untuk ikterus neonatal yang dimulai 5 April.
Menurut penjelasan direktur, dua keluarga menunggu di ruang NICU pada saat yang sama, dan gangguan singkat menyebabkan perawat menyerahkan bayi yang salah kepada orang tua yang lain.
Petugas menyadari kekeliruan sebelum ibu meninggalkan ruangan, segera mengambil kembali bayi dan menyerahkannya kepada orang tua yang sah.
Rachim menegaskan bahwa kejadian tersebut merupakan kegagalan komunikasi, bukan tindakan disengaja atau praktik ilegal apa pun.
Ia menambahkan bahwa perawat yang terlibat telah ditangguhkan sementara menunggu hasil penyelidikan internal.
Rumah sakit telah melaporkan kasus ini ke Kementerian Kesehatan dan siap bekerja sama dengan audit eksternal.
Keluarga bayi, diwakili kuasa hukum Mira Widyawati, mengajukan somasi yang menuntut kompensasi serta permohonan maaf resmi.
Direktur menyatakan bahwa permasalahan telah diselesaikan secara kekeluargaan pada 9 April, namun proses hukum somasi masih berlangsung.
Pihak Dinas Kesehatan Jawa Barat, termasuk Sekda Herman Suryatman, meminta tinjauan menyeluruh atas prosedur pemulangan pasien di rumah sakit.
Vini Adiani Dewi, Kadinkes Jawa Barat, menekankan pentingnya penegakan SOP yang lebih ketat demi keselamatan pasien.
Anggota DPRD Jawa Barat Zaini Shofari memperingatkan bahwa kelalaian berulang dapat memicu spekulasi tentang perdagangan anak di fasilitas publik.
Kasat Reskrim Polrestabes Bandung, AKBP Anton, mengonfirmasi penyelidikan tetap berjalan untuk menilai kemungkinan kelalaian kriminal.
Direktur menegaskan tidak ada bukti praktik jual‑beli bayi, dan audit internal menemukan bahwa insiden ini bersifat terisolasi.
RSHS telah memulai program pelatihan ulang bagi seluruh staf NICU dengan fokus pada verifikasi gelang identitas bayi sebelum penyerahan.
Rumah sakit juga akan memasang pemindai kode batang elektronik guna meminimalkan kesalahan manusia pada proses discharge.
Pasien kini diwajibkan menandatangani formulir double‑check yang menyatakan identitas bayi sebelum meninggalkan unit.
Insiden ini menjadi sorotan nasional setelah ibu memposting video singkat di TikTok mengungkapkan rasa takut melihat bayinya berada di pelukan orang lain.
Video tersebut cepat viral, memicu pertanyaan publik tentang standar keamanan di rumah sakit pendidikan utama Indonesia.
Tim komunikasi RSHS mengeluarkan pernyataan yang menekankan transparansi dan mengundang media untuk mengamati langkah perbaikan yang sedang diterapkan.
Pakarnya di bidang perawatan neonatus menilai bahwa kejadian serupa, meski jarang, menggarisbawahi pentingnya langkah verifikasi ganda di lingkungan berisiko tinggi.
Kementerian Kesehatan menjadwalkan kunjungan supervisi ke RSHS pada bulan Mei untuk menilai kepatuhan terhadap pedoman keselamatan pasien nasional.
Sementara itu, manajemen rumah sakit menjamin tidak ada gangguan layanan bagi pasien reguler selama proses audit berlangsung.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa institusi terkemuka sekalipun harus terus mengevaluasi protokol operasional demi melindungi pasien yang paling rentan.
Seiring penyelidikan berlanjut, RSHS berkomitmen memulihkan kepercayaan publik melalui akuntabilitas dan perbaikan sistematis.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







