Siswa MAN 3 Banyuwangi Tampil Memukau di pagelaran Budaya “Pandome Urip Wojiwo”

Ricky Sulivan
Damar Adji Adyaksa dalam pagelaran Pandome Urip Wojiwo

BANYUWANGI, — Penampilan Damar Adji Adyaksa dalam pagelaran Pandome Urip Wojiwo sukses mencuri perhatian publik. Meski masih berstatus pelajar di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi, Damar menunjukkan kualitas vokal yang matang dengan penghayatan kuat, selaras dengan narasi sejarah yang diangkat. Di atas panggung, ia tidak sekadar bernyanyi, melainkan menghadirkan kembali ruh tradisi Using dengan penjiwaan yang mendalam.

Pertunjukan yang digelar di Gelanggang Seni dan Budaya Banyuwangi Sabtu Malam (25/4) itu dipadati penonton yang larut dalam atmosfer artistik. Garapan kelompok musik Joyokaryo ini menggabungkan elemen teater dan musik tradisional, menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran historis.

Kolaborasi antara Yons DD dan Damar Adji menjadi magnet utama. Yons tetap konsisten dengan gaya khasnya dalam merawat budaya Using, sementara Damar tampil sebagai simbol regenerasi—mewakili generasi muda yang membawa harapan bagi keberlanjutan seni tradisi.

Pagelaran ini berada di bawah arahan Elvin Hendrata, yang dikenal aktif dalam pelestarian seni tradisional Banyuwangi. Melalui Sanggar Seni Joyokaryo, ia terus membuka ruang kreatif bagi generasi muda untuk berkarya tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Mengusung tema “Banyuwangi 1771”, pertunjukan ini merekonstruksi kembali kisah heroik Perang Bayu—salah satu peristiwa penting dalam sejarah Blambangan. Perpaduan dramatika panggung dan musik etnik menciptakan suasana kuat yang seolah membawa penonton menelusuri lorong waktu ke masa lalu.

Sejumlah tokoh seni dan budaya turut hadir memberikan apresiasi, di antaranya Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri, perwakilan pemerintah daerah, serta Ketua Lentera Sastra Banyuwangi Syafaat. Dukungan orang tua peserta juga menambah semarak, menyaksikan generasi muda tampil percaya diri di panggung budaya.

Syafaat menegaskan pentingnya pertunjukan berbasis budaya sebagai sarana edukasi sejarah. Menurutnya, generasi muda perlu dikenalkan langsung dengan warisan sejarah agar tetap terhubung dengan identitas kedaerahan.

Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan berbagai pihak, termasuk LPDP, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dan Dewan Kesenian Blambangan. Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa seni tradisi tetap memiliki tempat penting di tengah dinamika kehidupan modern.

Lebih dari sekadar pertunjukan, “Pandome Urip Wojiwo” menjadi cermin keberagaman Banyuwangi. Perpaduan lintas budaya, termasuk pengaruh dari Bali, menghadirkan harmoni yang khas dan terasa kuat sepanjang pementasan.

Melalui karya ini, Joyokaryo kembali menegaskan komitmennya sebagai penjaga sekaligus penggerak kebudayaan. Di tengah arus perubahan zaman, seni tradisi tetap hidup—tumbuh, beradaptasi, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan