KORSDA Rogojampi Catat History Dam dan Pintu Air di Wilayah Kerjanya

BANYUWANGI, Suarapecari.com – Empat Daerah Aliran Sungai (DAS) yang menjadi unggulan Koordinator Sumber Daya Air (KORSDA) wilayah Rogojampi seperti dam Concrong, dam Kelir, dam Takir dan Pintu Air (PA) Sasak Jeruk menjadi prioritas utama yang di ikut sertakan dalam Festival Kali Bersih Tahun 2022. Dikarenakan dam dan PA ini mempunyai nilai historis terkait sebutan nama, bangunan dan fungsinya. 
Dalam hal ini, KORSDA Rogojampi Eko Susanto saat diwawancarai di kantornya (4/3/2022) terkait history Empat aliran sungai beliau langsung angkat bicara menceritakan riwayat Tiga Dam dan satu PA yang ada di wilayah kerjanya itu. 
Eko panggilan akrab KORSDA wilayah Rogojampi mengawali cerita dengan mengulik kisah dam Concrong yang terletak di Dusun Krajan, Desa Rogojampi. Beliau menceritakan bahwa dam Concrong yang masih dalam keadaan darurat waktu dulu, mempunyai sebutan nama di masyarakat setempat antara lain seperti Dawuan dan Talang Concrong.
Korsda Rogojampi disela kegiatan di dam Concrong
Dikarenakan pembuatannya dulu di tempat yang menyudut atau dengan bahasa lokal di sebut mojok atau nyoncrong. Dari kata nyoncrong itulah cikal bakal nama Concrong muncul dari
masyarakat setempat. Akhirnya aliran air ini di beri nama concrong agar mempermudah masyarakat dalam penyebutannya.
Lalu pada tahun 1960 dam Concrong dibangun secara permanen yang berfungsi sebagai bangunan bendung untuk menaikan permukaan air sungai sehingga dapat di alirkan ke saluran sekunder tersier kuarter dan ke petak petak sawah yang berguna mencukupi kebutuhan air untuk usaha pertanian baik pertanian tanaman ataupun hortikultura.
Selain itu dam Congcrong mengaliri baku sawah sebanyak 617 Hektar dengan debit rata rata 1814 I/dt. Aliran air dam ini mengaliri lahan pertanian di beberapa Desa yaitu Desa Rogojampi sebanyak 14 hektar Desa Karangbendo 106 hektar Desa Badean 17 hektar Desa Blimbingsari 162 hektar dan Desa Watukebo 318 hektar terangnya.
Untuk deskripsi bangunannya Eko juga menjelaskan bahwa dam Concrong ini memiliki konstruksi pasangan batu kali dengan memiliki lebar bendung 18 meter dan elevasi 7.00. Selain itu dam ini di lengkapi dengan pintu pembilas 1 buah pintu intake 2 buah pintu penguras kantong lumpur 1 buah pintu pengendali banjir 2 buah dan pintu pelimpah samping 2 buah jelasnya.
Selain dam Concrong Koordinator wilayah Rogojampi juga mengupas kisah dam Kelir. Dalam hal ini beliau mengatakan bahwa asal mula penyebutan dam Kelir di karenakan di wilayah tersebut memang terdapat perkampungan yang bernama Kelir. Maka dari itu wilayah bangunan aliran air tersebut secara otomatis langsung  dinamakan dam Kelir. Fungsi dam Kelir ini sendiri mengaliri lahan pertanian di wilayah Desa Gombolirang dan Desa Bunder. Dengan total baku sawah 191 hektar dengan debit rata rata 305.L/dt katanya kepada media suarapecari.com
Lanjut Eko sedangkan untuk asal mula dam Takir berawal dari bentuk asli dam ini sebelum di bangun permanen bentuknya seperti entok (Takir) akhirnya masyarakat setempat menyebutnya dam Takir. Sebutan dam Takir ini masih di pergunakan hingga sekarang ucap Eko.
Selain itu dam Takir mengaliri baku sawah dengan total 118 hektar
dengan debit rata rata 236.L/dt berfungsi untuk mencukupi kebutuhan air di lahan pertanian di dua Desa seperti Desa Balak dan Desa Bareng. Dengan rincian petak sawah yang di aliri di Desa Balak ada 113 hektar dan Desa Bareng sebanyak 5 hektar kata Kepala KORSDA wilayah Rogojampi.
Untuk kisah PA Sasak Jeruk dulunya ada jembatan dekat dam ini dan di sekitar pelerengannya banyak di kelilingi tanaman jeruk sehingga masyarakat menamakan dengan sebutan Sasak Jeruk. Hingga sekarang bangunan masih tetap di namakan PA Sasak Jeruk oleh Dinas P.U Pengairan.
Fungsinya mengaliri petak sawah di 4 wilayah yaitu wilayah Desa Karangbendo Desa Badean Desa Blimbingsari dan Desa Watukebo.Dalam mengaliri baku sawah aliran PA.Sasak Jeruk di bagi menjadi dua yaitu aliran tersier dan kuarter. Semua aliran ini berfungsi untuk mencukupi kebutuhan air di lahan pertanian seluas 447 hektar.
Untuk aliran terseirnya (B.Cc 2 te) mengaliri baku sawah total 188 hektar yang terbagi di tiga Desa seperti Desa Karangbendo 9 hektar Desa Badean 17 hektar dan Desa Blimbingsari 162 hektar.Dengan debit air rata rata 552 L/dt.
Sedangkan aliran Kuarter (B. WK) hanya mengaliri Desa Watukebo dengan total baku sawahnya 259 Hektar dengan rata rata debitnya 761 L/dt. imbuh Eko
Eko juga mengatakan tiga dam dan satu PA ini historisnya sudah kami inventarisasi semua ke Dinas kata Eko sembari menutup cerita DAS di wilayah kerjanya. (Ganda)