Bupati Ipuk Luncurkan Koin Wangi, Kompetisi Inovasi untuk Dorong Ide Kreatif ASN dan Warga Banyuwangi

Bupati Ipuk Luncurkan Koin Wangi, Kompetisi Inovasi untuk Dorong Ide Kreatif ASN dan Warga Banyuwangi

Banyuwangi – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali mendorong lahirnya gagasan kreatif dari masyarakat melalui Kompetisi Inovasi Kabupaten Banyuwangi (Koin Wangi). Program yang digagas Bupati Ipuk Fiestiandani ini terbuka bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun masyarakat umum.

Kompetisi tersebut digelar sebagai ruang kolaborasi untuk menjaring ide-ide inovatif yang dapat menjadi referensi kebijakan pembangunan daerah.

“Ajang ini bukan sekadar lomba, namun ruang kolaborasi untuk melahirkan ide-ide kreatif, solutif, dan berdampak bagi masyarakat,” ujar Ipuk, Kamis (5/3/2026).

Selama ini Banyuwangi dikenal sebagai daerah yang konsisten melahirkan inovasi di berbagai sektor. Bahkan sejak 2018, Banyuwangi delapan kali berturut-turut meraih predikat Kabupaten Terinovatif dalam ajang Indonesia Government Award (IGA) yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri.

Menurut Ipuk, Koin Wangi dirancang sebagai wadah untuk menjaring talenta inovatif dari berbagai kalangan. Melalui kompetisi ini, pemerintah daerah berharap muncul gagasan yang mampu meningkatkan daya saing sekaligus mempercepat pembangunan Banyuwangi.

Kompetisi ini terbuka bagi ASN, tenaga pelayanan publik, akademisi, hingga masyarakat umum. Peserta dapat mengajukan ide inovasi yang telah dijalankan maupun masih dalam bentuk konsep.

“Ini bagian dari upaya membangun ekosistem inovasi yang inklusif, di mana setiap gagasan memiliki ruang untuk tumbuh dan dikembangkan,” jelasnya.

Berbagai inovasi sebelumnya telah lahir dari Banyuwangi, mulai dari sektor pelayanan publik, pariwisata, pendidikan, administrasi kependudukan, kesehatan, hingga ekonomi dan sosial budaya.

Salah satu inovasi yang cukup dikenal adalah program Smart Kampung, yang menghadirkan layanan publik berbasis teknologi informasi hingga tingkat desa. Melalui sistem ini, masyarakat dapat mengurus berbagai layanan seperti administrasi kependudukan, perizinan usaha, hingga layanan kesehatan langsung dari desa.

Di bidang sosial, Banyuwangi juga memiliki program Rantang Kasih yang menyediakan makanan bergizi bagi lansia sebatang kara hingga tiga kali sehari. Sementara di sektor pendidikan, terdapat program Siswa Asuh Sebaya (SAS) yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Asuh Sekolah.

Kepala Bappeda Banyuwangi, Suyanto Waspo Tondo, menambahkan bahwa Koin Wangi terbuka bagi peserta individu maupun kelompok yang beranggotakan maksimal tiga orang.

Peserta dapat berasal dari ASN, masyarakat yang memiliki KTP Banyuwangi, maupun kalangan akademisi seperti pengajar dan dosen.

“Pendaftaran dibuka mulai 1 hingga 28 Maret 2026,” ujar Yayan, sapaan akrabnya.

Kompetisi ini memiliki dua kategori utama, yakni inovasi digital dan inovasi non-digital. Ruang lingkupnya meliputi berbagai bidang seperti pelayanan publik, tata kelola pemerintahan, pertanian, pariwisata, dan sektor lainnya yang menjadi kewenangan pemerintah daerah.

“Inovasi yang diajukan boleh berupa ide maupun yang sudah diimplementasikan. Namun, inovasi tersebut belum pernah memenangkan penghargaan apa pun, baik di tingkat lokal maupun nasional,” jelasnya.

Penilaian akan dilakukan melalui evaluasi proposal serta presentasi peserta di hadapan dewan juri yang berasal dari unsur birokrasi, akademisi, dan praktisi.

“Para pemenang akan mendapatkan piagam penghargaan, trofi, uang pembinaan, serta fasilitasi pengurusan Hak Kekayaan Intelektual berupa hak cipta,” tambah Yayan.

Tinggalkan Balasan