Dubai Terpuruk Berdarah-Darah Akibat Krisis Teluk
Suara Pecari | Setiap kali mendengar kata Dubai, fantasi orang tertuju ke sebuah kota impian ultra modern. Namun, dalam hitungan minggu, Dubai berubah sepi ditinggal eksodus warganya. Kota yang hidup dari 90 persen pendatang kaya raya ini sekarang terpuruk berdarah-darah akibat krisis Teluk.
Dubai hidup dari 90 persen pendatang kaya raya. Jalanan Dubai mirip pemandangan di Monako, dipenuhi banyak supercar, singgah di hotel dan resort bintang tujuh. Harga propertinya termahal di dunia dan hanya para sultan yang mampu memilikinya. Namun, krisis Teluk mengubah segala kemegahan Dubai. Lebih dari 90 persen dari 1.700 proyektil Iran berhasil ditangkis sistem pertahanan UEA, tetapi beberapa di antaranya lolos menghantam target penting, pangkalan militer, kompleks industri, hotel ternama, dan bandara Dubai hingga lumpuh.
Para ekspatriat tajir berdatangan karena menganggap Dubai tempat paling aman dan berlimpah uang di kawasan Teluk. Namun, krisis Teluk mengubah segala kemegahan Dubai. Lebih dari 90 persen dari 1.700 proyektil Iran berhasil ditangkis sistem pertahanan UEA, tetapi beberapa di antaranya lolos menghantam target penting, pangkalan militer, kompleks industri, hotel ternama, dan bandara Dubai hingga lumpuh.
Banyak pencari kerja datang ke Dubai sebagai buruh, pekerja konstruksi, pengantar barang, dan pengemudi. Tak ada pesawat yang membawanya pulang. Terdapat dua juta warga India, 700.000 warga Nepal, dan 400 ribu warga Pakistan yang tinggal di Dubai. Banyak migran ekonomi berstatus rendah dan tidak bebas untuk pulang sesuka hati. Mereka takut berbicara hal-hal buruk tentang negara ini karena akan mendapat masalah.
Bandara Internasional Dubai melayani hampir 90 juta pelancong tahun lalu. Kini ribuan penerbangan dibatalkan, mengakibatkan pusat perjalanan tersibuk di kawasan Teluk itu lumpuh. Maskapai Emirates memangkas jadwal penerbangan, dan celakanya terjadi pada periode sibuk kunjungan wisata. Ribuan kamar hotel mewah kosong dan dijual jauh di bawah harga normal.
Proyek termahal di Dubai saat ini adalah mega-proyek perluasan Bandara Internasional Al Maktoum (DWC), dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp560 triliun. Proyek ini dirancang untuk menjadi bandara terbesar di dunia dengan kapasitas hingga 260 juta penumpang per tahun. Bandara ini akan memiliki lima landasan pacu dan 400 gerbang pesawat. Pembangunannya melampaui Burj Khalifa yang menelan dana Rp24 triliun.
Saat ini, Dubai terpuruk berdarah-darah akibat krisis Teluk. Warga asing super kaya meninggalkan begitu saja apartemen, rumah mewah, bahkan mobil supercar di lapangan parkir bandara. Binatang piaraan berkelas sultan juga meradang jadi gelandangan kota. Dan, pilar-pilar pariwisata dan surga belanja Dubai telah ambruk. Hari-hari ini tak ada lagi turis berani melancong ke sana.
Tangkap InfluencerKepolisian Dubai mengancam akan menangkap dan memenjarakan para influencer media sosial yang membagikan konten yang “bertentangan dengan pengumuman resmi atau yang dapat menyebabkan kepanikan sosial”.
Apakah hikmah di balik petaka Dubai? Bisa jadi saat para insinyur dan arsitek kondang merancang Dubai sebagai kota impian, terlupa menimbang aspek geopolitik Teluk. Kini kita tersadar, sebuah kawasan paling makmur pun dapat dalam sekejap terpuruk berdarah-darah.
Bandara Internasional Dubai melayani hampir 90 juta pelancong tahun lalu. Kini ribuan penerbangan dibatalkan, mengakibatkan pusat perjalanan tersibuk di kawasan Teluk itu lumpuh. Maskapai Emirates memangkas jadwal penerbangan, dan celakanya terjadi pada periode sibuk kunjungan wisata. Ribuan kamar hotel mewah kosong dan dijual jauh di bawah harga normal.
Dubai salah satu yang paling telak. Warga asing super kaya meninggalkan begitu saja apartemen, rumah mewah, bahkan mobil supercar di lapangan parkir bandara. Binatang piaraan berkelas sultan juga meradang jadi gelandangan kota. Dan, pilar-pilar pariwisata dan surga belanja Dubai telah ambruk. Hari-hari ini tak ada lagi turis berani melancong ke sana.
Para turis yang terdampar di Dubai sejak 28 Februari—hari dimulainya operasi AS-Israel di Iran—kehilangan kesabaran. Dua pesawat Air France yang disewa Prancis terpaksa mengevakuasi 400 hingga 500 orang ke Mesir. Sedangkan Emirates, maskapai penerbangan yang berbasis di Dubai, membatasi tiket emas yang berharga dan mencegah calon penumpang mencoba peruntungan di bandara. Wisatawan berebut meninggalkan Dubai yang kemarin berhasil menjual mimpi bintang tujuh di atas pasir dan pantainya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










