Asap Karhutla Meluas, Gangguan Penerbangan Sampai ke Ambon dan Papua

Suara Pecari – Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas telah mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Ambon dan Papua. Sejak 11 Agustus hingga 21 Oktober 2026, sebanyak 2.775 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak oleh asap karhutla.

Fakta Utama Gangguan Penerbangan

Data dari Kementerian Perhubungan mencatat 1.170 penerbangan mengalami keterlambatan, 1.544 penerbangan dibatalkan atau ditunda, 25 penerbangan dialihkan ke bandar udara lain, enam penerbangan kembali ke bandar udara keberangkatan, dan 30 penerbangan dimajukan jadwalnya. Penyesuaian jadwal ini dilakukan demi keselamatan penerbangan karena jarak pandang yang belum memenuhi batas minimum operasional akibat asap.

Baca juga:

Wilayah Terdampak

Selain Ambon dan Papua, daerah lain yang terdampak asap karhutla meliputi Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Bandar udara di sejumlah kota juga mengalami dampak, antara lain:

  • Iskandar (Pangkalan Bun)
  • Supadio (Pontianak)
  • Mutiara SIS Al-Jufrie (Palu)
  • Sultan Babullah (Ternate)
  • Pattimura (Ambon)
  • Mozes Kilangin (Timika)
  • Rendani (Manokwari)
  • H Hasan Aroeboesman (Ende)
  • Sultan Thaha (Jambi)
  • Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang)

Asap yang mengurangi jarak pandang di sekitar bandar udara menyebabkan proses lepas landas, pendaratan, dan pergerakan pesawat terganggu, yang berujung pada keterlambatan, pengalihan, atau pembatalan penerbangan.

Dampak pada Penerbangan Internasional dan Faktor Lain

Pada penerbangan internasional, 14 penerbangan dibatalkan akibat asap karhutla. Contohnya adalah pembatalan 12 penerbangan pulang-pergi Singapura-Pontianak pada September 2026 dan dua penerbangan pulang-pergi Singapura-Palembang pada Oktober 2026. Selain asap karhutla, sejumlah penerbangan dalam negeri juga dibatalkan karena abu vulkanik Gunung Lewotolok dan Gunung Dukono, cuaca buruk, angin kencang, serta gangguan teknis pesawat.

Upaya Kesiapsiagaan dan Penanganan

Kementerian Perhubungan bersama AirNav Indonesia dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan seperti penerapan Low Visibility Procedures (LVP) untuk operasi penerbangan saat jarak pandang rendah. Selain itu, penerbitan Notice to Airmen (NOTAM) memberikan informasi penting kepada pilot dan operator penerbangan. Di sisi pelayanan penumpang, penyampaian informasi secara berkala dan penyediaan masker dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan.

Baca juga:

Calon penumpang disarankan untuk rutin memeriksa status penerbangan mereka agar dapat mengantisipasi perubahan jadwal akibat asap karhutla.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *