Wall Street Ditutup Beragam, S&P 500 dan Nasdaq Anjlok Imbas Keraguan terhadap AI

Suara Pecari – Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, pada perdagangan Kamis (22/10) menutup sesi dengan hasil yang beragam. Indeks S&P 500 dan Nasdaq mengalami penurunan signifikan, sementara Dow Jones Industrial Average mencatat kenaikan tipis. Penurunan ini terutama dipicu oleh kekhawatiran investor terkait investasi besar perusahaan dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mulai menimbulkan keraguan atas potensi keuntungannya.

Penurunan Signifikan di Sektor Teknologi dan Semikonduktor

Nasdaq Composite mencatat penurunan harian terdalam sejak awal Juni, turun 2,60 persen atau 694 poin ke level 26.008,86. Indeks S&P 500 juga turun sebesar 1,21 persen menjadi 7.663,43, sedangkan Dow Jones naik tipis 0,02 persen ke level 52.867,98.

Baca juga:

Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi dan semikonduktor. Saham Meta Platforms anjlok 7 persen meskipun melaporkan kinerja yang melampaui ekspektasi analis. Saham Tesla juga melemah 3,1 persen. Sektor semikonduktor bahkan mengalami aksi jual tajam, dengan indeks Philadelphia Semiconductor (SOX) merosot 6,7 persen, penurunan persentase harian terbesar sejak 23 Juni. Produsen chip seperti Intel, AMD, Sandisk, dan Marvell masing-masing turun lebih dari 8 persen.

Kekhawatiran Investor terhadap Investasi AI

Menurut Paul Nolte, penasihat kekayaan senior dan ahli strategi pasar di Murphy Sylvest, saham teknologi yang sebelumnya menjadi pendorong utama penguatan pasar kini menjadi yang paling terpukul akibat investor mulai menyadari adanya celah dalam narasi AI. Tekanan pada saham teknologi ini turut memengaruhi indeks utama AS yang memiliki bobot besar dari sektor tersebut.

Perkembangan Geopolitik dan Inflasi

Selain kekhawatiran terhadap investasi AI, investor juga mencermati situasi geopolitik di Timur Tengah. Serangan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap target di Arab Saudi mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Kenaikan harga minyak ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan dapat mempertahankan inflasi pada level tinggi, yang pada gilirannya berpotensi mendorong Federal Reserve (The Fed) untuk terus menaikkan suku bunga.

Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran masih berada di dekat level terendah dalam beberapa dekade, menunjukkan stabilitas pasar tenaga kerja yang memberi ruang bagi The Fed untuk fokus mengendalikan inflasi. Pelaku pasar memperkirakan The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun.

Baca juga:

Saham yang Menguat di Tengah Pelemahan Pasar

Di tengah pelemahan pasar secara umum, beberapa saham justru menguat setelah perusahaan melaporkan kinerja lebih baik dari perkiraan atau meningkatkan proyeksi bisnisnya. Contohnya, saham Procter & Gamble naik 5,6 persen dan saham Blackstone menguat 8,4 persen.

Kesimpulan

Penutupan beragam di Wall Street pada 22 Oktober 2026 mencerminkan sentimen pasar yang sedang berhati-hati terhadap investasi besar di sektor teknologi, khususnya AI, serta dampak kondisi geopolitik dan inflasi global. Investor terus memantau perkembangan ini sebagai faktor kunci dalam menentukan arah pasar saham AS ke depan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *