Jordy Tutuarima Ungkap Gaji Tertunggak di Persis Solo, Impian Nasional Terhambat

Ricky Sulivan
Jordy Tutuarima Ungkap Gaji Tertunggak di Persis Solo, Impian Nasional Terhambat

Suara Pecari – 16 April 2026 | Jordy Tutuarima, bek tengah yang pernah bermain untuk Persis Solo, mengungkapkan bahwa gajinya belum dibayar selama tiga bulan pada musim lalu. Pernyataan itu muncul di tengah sorotan masalah keuangan klub di Liga Indonesia.

Pemain tersebut menyebutkan bahwa penundaan pembayaran membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, termasuk biaya hidup harian. Ia menekankan bahwa hak pemain harus dipenuhi sesuai kontrak.

Tuduhan Jordy tidak muncul begitu saja; kasus serupa belakangan ini meluas ke klub lain, contohnya PSBS Biak yang menulis surat kepada manajemen, operator liga, dan PSSI mengenai tunggakan gaji tiga bulan. Surat PSBS Biak menegaskan bahwa keterlambatan pembayaran mengganggu persiapan tim, bahkan mengakibatkan pemain tak dapat mengakses fasilitas latihan.

Hal ini menambah tekanan pada klub yang tengah berjuang di klasemen bawah. Jordy menambahkan bahwa ia sempat bermimpi mengenakan seragam Tim Nasional Indonesia, namun realitas finansial menghalangi fokusnya di lapangan.

Impian itu tetap hidup meski harus berjuang melawan masalah administrasi. Ia mengaku pernah menandatangani kontrak dengan Persis Solo dengan harapan stabilitas gaji dan peluang bermain di kompetisi tingkat tinggi.

Namun, setelah tiga bulan tidak menerima pembayaran, ia mengirimkan surat resmi kepada klub. Surat tersebut meminta penjelasan resmi dan penyelesaian segera, sambil menegaskan bahwa ia tetap menghormati klub serta ingin menyelesaikan masalah secara damai.

Jordy menolak menimbulkan konflik, melainkan mengharapkan solusi profesional. Pihak manajemen Persis Solo belum memberikan respons publik, namun beberapa laporan internal menyebutkan adanya masalah likuiditas yang mempengaruhi kemampuan klub membayar pemain.

Situasi ini menimbulkan kecemasan di kalangan skuad. Sejumlah pemain lain di Persis Solo juga melaporkan keterlambatan serupa, memperkuat indikasi adanya masalah struktural dalam pengelolaan keuangan klub.

Mereka menuntut transparansi dan audit atas aliran dana. Keterlambatan gaji tidak hanya berdampak pada kondisi ekonomi pemain, tetapi juga menurunkan motivasi dan performa tim di lapangan.

Persis Solo kini berada di zona relegasi, mencerminkan konsekuensi dari krisis internal. PSSI, sebagai otoritas sepakbola nasional, menerima surat dari PSBS Biak dan pemain Persis Solo, dan berjanji menindaklanjuti melalui Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI).

Upaya ini diharapkan mendorong penyelesaian yang adil. Di tengah tekanan tersebut, Jordy tetap fokus pada target karirnya, termasuk memperbaiki kemampuan teknis dan fisik untuk menarik perhatian pelatih Timnas.

Ia berharap situasi keuangan klub tidak menghalangi peluang internasionalnya. Pengalaman Jordy menyoroti perlunya regulasi yang lebih ketat mengenai pembayaran gaji pemain di liga domestik.

Beberapa pakar sepakbola menyarankan penalti finansial bagi klub yang melanggar. Sementara itu, liga iLeague berjanji meningkatkan pengawasan terhadap kepatuhan klub, termasuk sistem verifikasi pembayaran bulanan.

Langkah ini diharapkan mencegah kasus serupa di masa depan. Hingga kini, belum ada kepastian kapan Persis Solo akan melunasi tunggakan gaji Jordy dan rekan-rekannya, namun pemain menegaskan komitmen mereka untuk tetap berjuang demi klub dan impian nasional.

Tinggalkan Balasan