Kapolresta Banyuwangi Ajak Insan Pers Bersyukur, Sejumlah Wartawan Kecewa
BANYUWANGI. Ramadan biasanya menghadirkan suasana yang hangat. Meja panjang, air mineral dingin, kurma yang mulai disentuh lima menit sebelum azan, dan obrolan ringan yang kadang lebih panjang dari ceramahnya. Namun di sebuah acara buka puasa bersama yang digelar Polresta Banyuwangi bersama insan pers di sebuah ballroom hotel di Kota Banyuwangi, suasana hangat itu sempat terasa berbeda, Selasa (3/3/2026) kemarin.
Acara bertajuk “Berbuka Puasa Polri Bersama Insan Pers” tersebut dihadiri sejumlah perwakilan organisasi pers. Wartawan dari berbagai penjuru Banyuwangi datang dengan niat sederhana: bersilaturahmi, berbuka bersama, lalu pulang dengan perut kenyang dan hati senang.
Di awal acara, dalam sambutannya Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Dr. Rofiq Ripto Himawan, S.I.K., S.H., M.H. menyampaikan ajakan agar Ramadan dijadikan momentum bersyukur mempererat kebersamaan dan memperkuat komunikasi antara kepolisian dan media.
“Rekan-rekan dari PWI, IJTI, dan AJI, mari kita bersyukur. Yang diundang sekitar seratus orang, yang hadir bahkan lebih dari itu. Itu patut kita syukuri,” ujar Rofiq di hadapan para undangan.
Namun cerita di luar ruang utama tidak sepenuhnya seirama dengan suasana di dalam.
Beberapa wartawan mengaku tidak dapat memasuki lokasi karena nama mereka tidak tercantum dalam daftar reservasi. Padahal, menurut mereka, informasi undangan telah diterima. Sebagian sempat mengecek ulang ponsel masing-masing, memastikan pesan yang diterima bukan mimpi menjelang magrib.
Ada yang tersenyum tipis, ada pula yang memilih menarik napas panjang. Seorang wartawan bahkan berseloroh pelan, “Jangan-jangan ini buka bersama sistem zonasi.”
Di antara mereka, Amin, wartawan Forum Nusantara, menyampaikan kekecewaannya secara langsung.
“Naskahnya ini kegiatan media bersama Kapolresta, bersilaturahmi berbuka bersama, itu kan undangan nya”
Kalimat itu singkat. Namun cukup menggambarkan harapan yang tidak sepenuhnya bertemu dengan kenyataan.
Perbincangan pun berkembang. Sebagian menduga persoalan ini murni teknis mungkin soal kapasitas tempat atau sistem pendataan. Namun ada pula opini liar yang mulai beredar di antara sesama jurnalis: apakah kegiatan ini hanya untuk kelompok tertentu? Dugaan itu belum mendapat penjelasan resmi, tetapi cukup membuat suasana menjadi canggung.
Beberapa wartawan akhirnya memilih pulang sebelum azan berkumandang. “Takut batal puasanya bukan karena lapar, tapi karena emosi,” celetuk salah satu di antaranya dengan nada bercanda, mencoba mencairkan suasana.
Di sisi lain, sejumlah wartawan tetap mengikuti acara hingga selesai. Mereka berharap persoalan tersebut tidak diperbesar dan dapat menjadi bahan evaluasi bersama.
Situasi ini menunjukkan satu hal sederhana: dalam dunia jurnalistik, persoalan daftar nama bisa terasa lebih sensitif dari sekadar absensi. Bagi wartawan, kehadiran bukan hanya soal makan bersama, tetapi juga soal pengakuan dan kesetaraan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari panitia terkait mekanisme daftar undangan dan sistem reservasi. Klarifikasi tersebut dinilai penting agar tidak berkembang menjadi persepsi yang semakin jauh dari fakta.
Ramadan selalu mengajarkan tentang menahan diri dan memperbaiki hubungan. Dalam konteks ini, mungkin yang dibutuhkan bukan sekadar kursi tambahan, melainkan komunikasi yang lebih terbuka. Karena bagi insan pers, silaturahmi yang paling hangat bukan hanya di meja makan tetapi juga dalam rasa saling dihargai.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












