Balap Liar Resahkan Warga Banyuwangi, Laporan Ke Polisi Dinilai Tak Secepat Dulu
BANYUWANGI. Dini hari di bulan Ramadan biasanya identik dengan suasana tenang. Sebagian warga beristirahat setelah tarawih, sebagian lainnya bersiap menyambut sahur. Namun suasana berbeda justru dirasakan warga di kawasan Jalan Basuki Rahmat, Banyuwangi.
Di sekitar area Klinik Parahita, Kamis dini hari (12/3/2026), keramaian justru datang dari deru kendaraan dan teriakan sekelompok pemuda yang diduga melakukan balap liar. Aktivitas tersebut bukan hanya memecah kesunyian malam, tetapi juga memicu keresahan warga sekitar.
Bagi warga Lingkungan Karang Agung, Kelurahan Singotrunan, kejadian itu bukan cerita baru. Mereka mengaku aktivitas serupa sudah beberapa kali muncul di lokasi yang sama.
Ketua RT 02/RW 03 Karang Agung, Ari Bastian, mengatakan warga sebenarnya tidak tinggal diam. Beberapa warga berusaha melaporkan kejadian tersebut melalui layanan darurat kepolisian 110 dengan harapan ada petugas yang segera datang ke lokasi.
Namun harapan itu tidak sepenuhnya berjalan seperti yang dibayangkan.
“Beberapa kali kejadian seperti ini sudah terjadi. Tadi malam kami mencoba menghubungi nomor 110, tapi cukup sulit tersambung. Setelah tersambung pun, kami belum melihat ada tindakan cepat di lokasi,” kata Ari.
Upaya lain juga dilakukan warga. Informasi kejadian tersebut bahkan sempat disampaikan kepada pimpinan kepolisian setempat melalui pesan WhatsApp yang dikirim melalui perantara rekan wartawan.
Menurut Ari, pesan tersebut diketahui sudah terbaca. Namun hingga situasi di lapangan berlangsung, respons yang diharapkan warga belum juga datang.
“Kami juga mencoba menyampaikan pesan kepada Kapolresta melalui teman wartawan yang kebetulan warga sini. Pesannya terlihat sudah dibaca, tetapi belum ada balasan saat kejadian berlangsung,” ujarnya.
Situasi itu membuat warga akhirnya memilih bertindak sendiri. Beberapa warga bersama pemuda kampung mendatangi lokasi keramaian dan meminta para pemuda yang diduga terlibat balap liar untuk membubarkan diri.
Motor para pemuda bahkan sempat diparkir di gang-gang permukiman sebelum akhirnya mereka meninggalkan lokasi.
“Motor mereka sempat ditaruh di gang sekitar kampung. Karena sudah meresahkan, warga bersama anak-anak kampung akhirnya meminta mereka pergi,” kata Ari.
Di tengah situasi tersebut, perbincangan warga tidak berhenti pada persoalan balap liar saja. Di tingkat kampung hingga percakapan warganet lokal, muncul perbandingan mengenai respons pelayanan pengaduan masyarakat.
Ari menyebut, pada periode pimpinan kepolisian sebelumnya, warga merasa memiliki saluran komunikasi yang lebih cepat.
“Dulu ada program ‘Wadul Kapolresta’ saat Kapolresta sebelumnya, Pak Rama. Waktu itu laporan warga terasa lebih cepat ditindaklanjuti,” ucapnya.
Perbandingan semacam itu perlahan berkembang menjadi obrolan warga. Sebagian menilai respons aparat saat ini terasa lebih lambat dibanding sebelumnya. Meski demikian, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait keluhan tersebut.
Bagi warga, persoalan ini sebenarnya sederhana: mereka hanya berharap laporan masyarakat dapat ditanggapi dengan cepat, terutama ketika menyangkut gangguan keamanan di ruang publik.
Apalagi aksi balap liar yang terjadi di jalan protokol tidak hanya mengganggu ketenangan warga yang sedang menjalankan ibadah Ramadan, tetapi juga berpotensi membahayakan pengguna jalan lain.
Di tengah malam yang seharusnya tenang, warga Karang Agung justru harus memastikan sendiri ketertiban di lingkungannya. Sebuah situasi yang bagi sebagian warga terasa seperti paradoks ketika laporan sudah disampaikan, namun respons yang dinanti belum juga datang.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












