Ekspor Minyak Saudi Turun 50 Persen, Krisis Energi Global Meningkat Setelah Penutupan Selat Hormuz

Ekspor Minyak Saudi Turun 50 Persen, Krisis Energi Global Meningkat Setelah Penutupan Selat Hormuz

Suara Pecari – 03 April 2026 | Arab Saudi melaporkan penurunan ekspor minyak mentah sebesar lima puluh persen pada bulan Maret 2026 setelah Iran menutup Selat Hormuz.

Rata‑rata pengiriman menurun menjadi tiga koma tiga tiga juta barel per hari, jauh di bawah tujuh koma satu juta barel pada Februari.

Penutupan selat menghentikan kapal tanker dari Teluk Persia, memaksa Saudi Aramco mengalihkan aliran melalui pipa East‑West sepanjang 750 mil ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Pipa tersebut dapat mengalirkan tujuh juta barel per hari, namun fasilitas pelabuhan Yanbu tidak dirancang untuk menangani volume mendadak, menyebabkan antrean lebih tiga puluh kapal dan waktu tunggu hingga lima hari.

Pada 20 Maret 2026, serangan drone di dekat kilang Yanbu menghentikan sementara operasi terminal, menambah ketidakpastian pasokan.

Harga minyak Brent naik mendekati seratus dua puluh dolar per barel sebelum sedikit turun setelah International Energy Agency melepaskan cadangan daruratnya.

Johannes Raubal dari Kpler mencatat bahwa minyak yang tertahan di tanker wilayah Timur Tengah melonjak dari sepuluh juta barel menjadi lebih lima puluh juta barel dalam seminggu.

Para analis menilai krisis ini lebih parah daripada krisis minyak 1970‑an karena penutupan fisik Selat Hormuz dapat mengurangi hingga dua puluh juta barel per hari, setara satu perlima kebutuhan global.

Lars Jensen, pakar perkapalan, memperingatkan bahwa stok yang tersisa akan habis cepat, sehingga tekanan pada pasar akan berlanjut meski selat dibuka kembali.

Negara‑negara Teluk mempertimbangkan pembangunan pipa alternatif yang tidak melintasi Hormuz, termasuk rencana jaringan lintas darat dan rel kereta yang terhubung ke Mediterania.

Uni Emirat Arab secara resmi meminta Perserikatan Bangsa‑Bangsa menggunakan Bab VII Piagam PBB untuk melakukan intervensi militer demi membuka kembali selat yang terkunci.

Para pejabat menilai tindakan militer sebagai upaya terakhir setelah asuransi kapal menjadi sangat mahal dan banyak operator menghindari wilayah Teluk.

Situasi ini menekan ekonomi Saudi, yang mengandalkan ekspor minyak sebagai pilar pendapatan negara, serta memicu kekhawatiran inflasi di pasar energi global.

Dengan penurunan produksi hingga sepuluh juta barel per hari dan keterbatasan jalur alternatif, pasar diprediksi akan tetap volatil selama setidaknya satu tahun ke depan.

Krisis ini menegaskan pentingnya diversifikasi sumber energi dan infrastruktur logistik yang lebih tahan terhadap gangguan geopolitik.

Tinggalkan Balasan