Kisah Sulistyowati Warga Surabaya Desil 6-10 Sakit dan Terimpit Biaya Hidup
Suara Pecari, Surabaya – Sulistyowati (48), seorang warga Surabaya yang tinggal di kawasan Kedung Turi Gang 4, menghadapi tantangan berat akibat kondisi kesehatannya yang menurun. Sulistyowati tidak dapat bekerja selama dua minggu terakhir karena menderita hipertensi dan asam urat yang membuatnya kesulitan berjalan dan sering merasa pusing. Kondisi ini memaksa ia untuk bergantung pada bantuan dari kedua anaknya demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membayar sewa rumah kos kecil yang mereka tempati.
Kisah Hidup dan Kondisi Ekonomi Sulistyowati
Sulistyowati adalah orang tua tunggal yang telah membesarkan kedua anak laki-lakinya seorang diri sejak bercerai pada tahun 2006. Selama lebih dari satu dekade, ia bekerja di sebuah toko benang dengan penghasilan yang sangat terbatas. Dari pekerjaan tersebut, ia menghidupi keluarga, membayar sewa kos berukuran 3×3 meter, dan membiayai pendidikan kedua anaknya yang sempat bersekolah di SMP dan SMA swasta.
Meskipun berstatus warga asli Surabaya, Sulistyowati tidak pernah secara rutin menerima bantuan sosial pemerintah. Dalam pendataan terbaru, ia justru masuk dalam kategori desil 6 hingga 10 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), yang menunjukkan kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan menengah hingga atas. Namun, Sulistyowati mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan sosial secara konsisten, kecuali beberapa kali saat program Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Kendala Status Tempat Tinggal dan Pendataan
Salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab tidak tersentuhnya bantuan sosial adalah status tempat tinggal Sulistyowati yang hanya menyewa rumah kos. Ia tidak memiliki rumah sendiri karena memilih tinggal di kos setelah meninggalnya orang tua dan menghindari konflik dengan saudara. Kondisi ini membuatnya tidak terdata oleh RT dan RW setempat dalam pendataan bantuan sosial.
Dampak Kesehatan terhadap Kehidupan Sulistyowati
Sejak 22 September 2026, Sulistyowati tidak bisa melanjutkan pekerjaannya akibat penyakit hipertensi dan asam urat yang dideritanya. Penyakit tersebut menyebabkan kesulitan berjalan dan sering pusing sehingga mengganggu aktivitas sehari-harinya. Kini, ia hanya dapat beristirahat di kasurnya dengan kondisi kaki lurus.
Dengan kondisi ini, seluruh kebutuhan makan dan pembayaran sewa kos kini sepenuhnya bergantung pada kedua anaknya yang bekerja di bidang restoran dan servis elektronik. Sulistyowati berharap dapat segera pulih agar bisa kembali bekerja dan membantu keluarga secara mandiri.
Respons dan Tindak Lanjut
Kumparan telah berusaha menghubungi Kepala Dinas Sosial Surabaya, Antiek Sugiharti, untuk menanyakan tentang status desil Sulistyowati dan kemungkinan bantuan sosial, namun belum memperoleh respons hingga berita ini ditulis.
Kisah Sulistyowati mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh sebagian warga di perkotaan, terutama mereka yang memiliki kondisi kesehatan dan keterbatasan ekonomi. Hal ini menunjukkan pentingnya pendataan yang akurat dan bantuan sosial yang tepat sasaran untuk menjangkau warga yang membutuhkan, termasuk mereka yang berstatus penyewa dan tidak memiliki rumah sendiri.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










