Kurniawan Dwi Yulianto Ungkap Penyebab Kegagalan Taktik Timnas U-17 di Piala AFF 2026
Suara Pecari – 18 April 2026 | Timnas Indonesia U-17 mengalami kekalahan 0-1 atas Malaysia pada laga kedua Grup A Piala AFF U-17 2026, menempatkan mereka di posisi ketiga dengan tiga poin.
Kekalahan tersebut menyoroti taktik yang kaku; Kurniawan menyatakan tim terjebak dalam formasi “macet” yang menghambat kelancaran permainan.
Ia menjelaskan bahwa lini tengah gagal menghubungkan pertahanan dengan serangan, memberi ruang bagi Malaysia menguasai penguasaan bola.
Satu-satunya gol Malaysia dicetak oleh Fareez pada menit ke‑33 setelah serangan balik cepat.
Kurniawan meminta maaf atas hasil yang mengecewakan, menekankan pentingnya melindungi kepercayaan diri pemain muda.
Ia menambahkan bahwa usia di bawah 17 tahun merupakan fase perkembangan sensitif, sehingga tidak boleh dibiarkan jatuh mental.
Indonesia harus memenangkan laga penentuan melawan Vietnam untuk tetap menjaga peluang ke semifinal.
Vietnam, yang telah mengumpulkan enam poin, sebelumnya mengalahkan Malaysia 4-0 dan Timor Leste 10-0, menunjukkan kekuatan ofensif yang besar.
Sejak kegagalan di fase grup 2017, Timnas U-17 Indonesia belum pernah kembali terhenti, kecuali pada tahun tersebut.
Di bawah asuhan Fakhri Husaini, tim bangkit menjadi juara pada edisi 2018 setelah kegagalan grup tahun sebelumnya.
Pelatih Bima Sakti membawa tim ke peringkat tiga pada 2019 dan meraih gelar juara pada 2022.
Nova Arianto mencatat peringkat tiga pada 2024 serta mengantarkan generasi ke Piala Dunia U‑17 2025.
Jika kekalahan ini berlanjut, catatan Kurniawan berpotensi menjadi yang terburuk di antara pelatih sebelumnya.
Ia menekankan perlunya penyesuaian taktik, terutama mengadopsi formasi menyerang yang lebih dinamis.
Rencananya, tim akan beralih ke formasi 4‑3‑3 untuk menciptakan lebar lapangan dan menyerang sisi sayap.
Kurniawan juga akan memberi kebebasan lebih kepada penyerang Fardan Farras Prawita yang sebelumnya ditekan ketat oleh Malaysia.
Latihan tendangan bola mati akan diperketat untuk memanfaatkan peluang dari situasi set‑piece melawan Vietnam.
Pelatih mengajak suporter dan masyarakat tetap mendukung “adek‑adek” yang sedang berkembang.
Ia menegaskan bahwa tanggung jawab penuh atas hasil berada di pundak dirinya dan tim kepelatihan.
PSSI menyatakan keyakinan pada potensi skuad muda meski menghadapi tantangan.
Pengamat menilai kurangnya strategi pressing yang jelas menjadi faktor utama kekalahan.
Serangan balik cepat Malaysia mengekspos celah pada lini belakang Indonesia.
Kurniawan mengakui stamina pemain menurun di babak kedua, memengaruhi konsentrasi.
Latihan minggu ini akan difokuskan pada drill intensitas tinggi untuk meningkatkan kebugaran.
Resiliensi mental akan diperkuat melalui sesi psikologi olahraga menjelang pertandingan melawan Vietnam.
Jika Indonesia menang, mereka berpeluang finis di posisi kedua dengan selisih gol.
Seri akan membuat mereka tetap di peringkat tiga dan kehilangan kesempatan melaju ke semifinal.
Pertandingan melawan Vietnam dijadwalkan pada 19 April di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik.
Kurniawan menutup dengan keyakinan bahwa pengalaman ini akan membentuk pemain untuk tugas di tim nasional senior di masa depan.
Perkembangan skuad U‑17 tetap menjadi indikator penting program pembinaan sepakbola Indonesia.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







