Bolu Kemojo Dapoer Ummi: Oleh-oleh Riau yang Lahir dari Peluang dan Inovasi
Suara Pecari, Pekanbaru – Oleh-oleh khas daerah tidak hanya menjadi buah tangan bagi wisatawan, tetapi juga menjadi cara memperkenalkan kekayaan kuliner lokal kepada masyarakat luas. Hal ini terbukti dari kesuksesan Dapoer Ummi, sebuah usaha rumahan yang sukses mengangkat bolu kemojo sebagai ikon oleh-oleh Riau. Dalam program Obrolan Teras UMKM Programa 4 RRI Pekanbaru, Kamis 9 Juli 2026, Owner Dapoer Ummi, Nurhayati, berbagi cerita tentang perjalanan bisnisnya yang penuh liku.
Bolu Kemojo: Warisan Kuliner yang Terus Berinovasi
Bolu kemojo merupakan kue tradisional khas Provinsi Riau yang telah dikenal luas. Namun, Dapoer Ummi berhasil memberikan sentuhan berbeda pada kue ini. Nurhayati menjelaskan bahwa bolu kemojo buatannya memiliki tekstur unik: bagian luar sedikit renyah, sementara bagian dalam tetap lembut. Ukurannya pun dibuat lebih kecil sehingga praktis dinikmati, dengan cita rasa yang tidak terlalu manis sehingga cocok untuk berbagai kalangan, termasuk orang tua dan anak-anak.
| Karakteristik | Bolu Kemojo Dapoer Ummi | Bolu Kemojo Tradisional |
|---|---|---|
| Tekstur luar | Renyah | Lembut |
| Tekstur dalam | Lembut | Lembut |
| Ukuran | Kecil, praktis | Bervariasi |
| Tingkat kemanisan | Tidak terlalu manis | Manis |
| Masa simpan | 3 hari (tanpa pengawet) | 1-2 hari |
Inovasi ini tidak datang secara instan. Nurhayati mengaku melalui proses riset dan pengembangan yang panjang. “Kami selalu menjaga konsistensi rasa. Mulai dari gramasi bahan, proses pembuatan, hingga waktu pemanggangan semuanya harus sesuai standar agar kualitas produk tetap sama setiap hari,” ujarnya. Komitmen terhadap kualitas ini membuat Dapoer Ummi tidak menggunakan bahan pengawet, sehingga bolu kemojo hanya bertahan sekitar tiga hari. Hal ini justru menjadi nilai jual karena pelanggan mendapatkan produk segar setiap kali membeli.
Dari Hobi Menjadi Peluang Bisnis
Menariknya, Nurhayati bukanlah putri daerah Riau. Ia berasal dari Jakarta, namun kecintaannya pada kuliner membawanya merantau dan melihat peluang besar pada makanan tradisional Melayu. “Berawal dari hobi menyukai berbagai jenis kue, saya kemudian memberanikan diri membuka usaha dengan membaca peluang pasar,” ceritanya. Keputusannya untuk pindah ke Pekanbaru dan memulai usaha bolu kemojo adalah langkah berani yang membuahkan hasil.
Proses adaptasi tidak mudah. Sebagai perantau, ia harus belajar memahami selera lokal dan membangun kepercayaan konsumen. Namun, kegigihan dan kemauan untuk terus belajar menjadi modal utamanya. Kini, Dapoer Ummi telah berkembang pesat dan mampu menyerap sekitar 20 tenaga kerja. Nurhayati menekankan pentingnya pembinaan karyawan secara berkelanjutan untuk menjaga kualitas produk dan pelayanan.
Kronologi Perjalanan Usaha Dapoer Ummi
- 2018: Nurhayati mulai merintis usaha bolu kemojo dari dapur rumahnya di Pekanbaru.
- 2019: Produk mulai dikenal di kalangan tetangga dan kerabat. Pesanan mulai berdatangan untuk acara-acara kecil.
- 2020: Pandemi COVID-19 menjadi tantangan besar. Penjualan turun drastis, namun Nurhayati justru memanfaatkan waktu untuk menyempurnakan resep dan kemasan.
- 2021: Dapoer Ummi mulai aktif di media sosial dan platform pesan-antar makanan. Permintaan mulai pulih.
- 2022: Usaha berkembang sehingga membutuhkan tempat produksi yang lebih besar. Pindah ke lokasi di Jalan Arifin Ahmad, Pekanbaru.
- 2023: Menerima pesanan dari instansi pemerintah dan swasta untuk oleh-oleh tamu. Jumlah karyawan bertambah menjadi 20 orang.
- 2024-2026: Produk semakin dikenal hingga ke luar Riau. Dapoer Ummi menjadi salah satu oleh-oleh wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Pekanbaru.
Dampak dan Implikasi bagi UMKM Lokal
Kisah sukses Dapoer Ummi memberikan dampak positif bagi ekosistem UMKM di Riau. Pertama, secara ekonomi, usaha ini menciptakan lapangan kerja bagi 20 orang, sebagian besar ibu rumah tangga di sekitar lokasi produksi. Kedua, secara budaya, Dapoer Ummi turut melestarikan bolu kemojo sebagai warisan kuliner Melayu dengan memberikan inovasi tanpa meninggalkan cita rasa asli. Ketiga, secara sosial, keberhasilan Nurhayati sebagai perantau menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk berani memulai usaha di daerah orang.
Nurhayati berpesan kepada calon pengusaha UMKM untuk tidak takut gagal. “Usaha itu penuh proses. Kami pernah jatuh bangun dan menerima banyak kritik. Tetapi justru dari situlah kami belajar untuk terus memperbaiki diri,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa kunci utama adalah konsistensi kualitas, kemauan belajar, dan pantang menyerah.
Pelayanan dan Distribusi
Dapoer Ummi tidak hanya mengandalkan pembelian langsung di tempat produksi. Untuk memudahkan pelanggan, mereka menyediakan layanan pengantaran untuk wilayah Pekanbaru. Selain itu, mereka juga aktif di platform pesan-antar makanan dan media sosial untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Nurhayati berencana untuk memperluas jangkauan ke kota-kota lain di Riau dan bahkan ke luar provinsi melalui kerja sama dengan jasa pengiriman.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Pekanbaru, bolu kemojo Dapoer Ummi kini menjadi salah satu oleh-oleh yang wajib dibawa pulang. Dengan kemasan yang menarik dan cita rasa yang khas, produk ini tidak hanya memuaskan lidah tetapi juga membawa cerita tentang semangat kewirausahaan seorang perantau yang sukses mengangkat potensi lokal.
Di tengah persaingan industri kuliner yang semakin ketat, Dapoer Ummi membuktikan bahwa inovasi dan konsistensi adalah kunci untuk bertahan dan berkembang. Kisah Nurhayati mengajarkan bahwa peluang bisa datang dari mana saja, asalkan kita berani melihat dan mengambilnya. Bolu kemojo bukan sekadar kue, melainkan simbol dari perpaduan antara tradisi dan modernitas, serta antara kerja keras dan mimpi yang menjadi nyata.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.








