Viral di Medsos, Bakso Bioskop Lamo Kembali Ramai Pengunjung
Suara Pecari, Palembang – Bakso Bioskop Lamo, sebuah warung bakso legendaris di kawasan Kertapati, Palembang, kembali menjadi pusat perhatian setelah viral di media sosial. Fenomena ini tidak hanya menghidupkan kembali ingatan akan cita rasa khas yang telah ada sejak 1987, tetapi juga membuktikan kekuatan media sosial dalam mengangkat kembali bisnis kuliner tradisional. Dalam sepekan terakhir, antrean panjang pengunjung terlihat setiap hari, terutama pada jam makan siang dan sore hari.
Sejarah dan Perjalanan Bakso Bioskop Lamo
Bakso Bioskop Lamo memulai perjalanannya sebagai pedagang keliling dengan gerobak pada tahun 1987. Nama “Bioskop Lamo” sendiri diambil dari lokasi awal berjualan yang berada di dekat bioskop tua di pusat Kota Palembang. Seiring waktu, usaha ini berkembang dan membuka beberapa cabang, salah satunya di Kertapati yang mulai beroperasi pada awal 2000-an. Hingga kini, warung ini tetap mempertahankan resep turun-temurun yang membuat pelanggan setia terus kembali.
Viralitas di Media Sosial: Pemicu Lonjakan Pengunjung
Fenomena viral Bakso Bioskop Lamo bermula dari unggahan beberapa pengguna TikTok yang mereview pengalaman makan mereka. Video-video tersebut menampilkan bakso dengan tekstur kenyal, isian daging yang melimpah, serta kuah gurih yang menggugah selera. Dalam hitungan hari, video-video itu mendapat jutaan tayangan dan ribuan komentar. Riki, salah seorang pegawai, mengonfirmasi bahwa sejak viral, jumlah pengunjung meningkat drastis. “Biasanya ramai di akhir pekan, tapi sekarang setiap hari penuh, terutama anak muda yang penasaran,” ujarnya, Minggu, 12 Juli 2026.
Menu Andalan dan Harga yang Bersahabat
Bakso Bioskop Lamo menawarkan berbagai menu, namun mi ayam dan bakso isi daging menjadi primadona. Setiap hari, warung ini mampu menjual hingga 140 porsi. Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau, mulai dari Rp11.000 hingga Rp26.000 per porsi. Berikut adalah daftar menu dan harga:
| Menu | Harga |
|---|---|
| Bakso Isi Daging | Rp15.000 |
| Mi Ayam | Rp11.000 |
| Bakso Campur | Rp20.000 |
| Bakso Komplit | Rp26.000 |
Testimoni Pengunjung: Antara Rasa dan Kenangan
Salah seorang pelanggan, Fajar (20), warga Sungki, mengaku mengetahui tempat ini dari TikTok. “Aku tahu tempat ini dari TikTok. Pas aku coba ternyata memang lemak nian, baksonyo teraso dagingnyo, mie ayamnyo jugo gurih. Hargonyo masih terjangkau lah, jadi menurut aku memang layak rame cak ini,” katanya. Banyak pengunjung lain juga mengungkapkan hal serupa, bahwa cita rasa bakso ini membawa nostalgia masa kecil. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi alat promosi, tetapi juga wadah untuk berbagi pengalaman kuliner yang autentik.
Dampak dan Implikasi bagi Industri Kuliner Lokal
Kembali ramainya Bakso Bioskop Lamo memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Selain meningkatkan pendapatan warung, hal ini juga menarik perhatian pada kuliner tradisional Palembang yang kaya rasa. Para pelaku usaha kuliner lain pun mulai memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan dagangannya. Namun, fenomena ini juga menimbulkan tantangan, seperti menjaga konsistensi rasa dan pelayanan di tengah lonjakan permintaan. Riki berkomitmen untuk tetap mempertahankan kualitas dan meningkatkan pelayanan agar pelanggan puas.
Kronologi Viral Bakso Bioskop Lamo
- Awal Juli 2026: Sejumlah video review Bakso Bioskop Lamo diunggah di TikTok.
- 7-10 Juli 2026: Video-video tersebut mulai viral, ditonton jutaan kali.
- 11 Juli 2026: Pengunjung mulai berdatangan dalam jumlah besar, antrean mengular.
- 12 Juli 2026: Riki memberikan pernyataan resmi tentang peningkatan penjualan.
- 17 Juli 2026: Bakso Bioskop Lamo menjadi topik hangat di media sosial dan berita lokal.
Penutup: Lebih dari Sekadar Bakso
Viralnya Bakso Bioskop Lamo bukan sekadar fenomena sesaat. Ini adalah bukti bahwa cita rasa tradisional yang dijaga dengan konsisten mampu bersaing di era digital. Di tengah maraknya kuliner modern, warung bakso sederhana ini berhasil menarik perhatian generasi muda melalui kejujuran rasa dan harga yang ramah di kantong. Ke depannya, diharapkan semakin banyak kuliner lokal yang mendapat sorotan serupa, sehingga kekayaan gastronomi Indonesia semakin dikenal luas.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.









