Padang Perkuat Langkah menuju Kota Kreatif Gastronomi UNESCO
Suara Pecari, Kota Padang terus menggencarkan persiapan menuju pengakuan UNESCO sebagai Creative City of Gastronomy pada tahun 2027. Berbagai program strategis dirancang untuk mengangkat kekayaan kuliner dan budaya lokal, salah satunya melalui rangkaian peringatan Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357 yang akan berlangsung pada 6-10 Agustus 2026. Dengan tema “Padang Road to Gastronomy City”, program Taste of Padang Experience 2026 menjadi motor utama dalam promosi gastronomi daerah.
Persiapan Matang Menuju UNESCO
Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza, menyatakan bahwa seluruh persiapan HJK ke-357 telah dimatangkan agar tidak sekadar menjadi pesta rakyat, tetapi juga menjadi ajang promosi gastronomi yang mendunia. “Konsep gastronomi dipilih karena selaras dengan visi Kota Padang sebagai kota pintar dan kota sehat. Pendekatan ini juga menjadi strategi memperkenalkan kekayaan budaya melalui kuliner kepada masyarakat maupun wisatawan,” ujar Yenni di Padang, Selasa, 7 Juli 2026.
Rangkaian Acara HJK ke-357
Seluruh rangkaian HJK tahun ini dikemas dengan menonjolkan budaya serta kuliner khas daerah sebagai identitas Kota Padang. Berikut adalah agenda utama yang telah disiapkan:
| Tanggal | Acara | Deskripsi |
|---|---|---|
| 6 Agustus 2026 | Festival Telong-Telong | Konsep Festival Bajamba, tradisi makan bersama masyarakat Minangkabau |
| 7 Agustus 2026 | Bajamba Festival | Edukasi budaya dan wisata, memperkenalkan tradisi makan bajamba |
| 8 Agustus 2026 | Talk and Taste | Diskusi keberagaman gastronomi Kota Padang |
| 9-10 Agustus 2026 | Gastronomy to Market | Bazar kuliner, live cooking, partisipasi chef nasional dan internasional |
Festival Telong-Telong dan Bajamba
Salah satu agenda yang paling dinantikan adalah Festival Telong-Telong dengan konsep Festival Bajamba. Tradisi makan bersama masyarakat Minangkabau ini akan menampilkan peserta yang membawa jamba (wadah makanan) dan ditampilkan di panggung utama sebagai representasi kekayaan gastronomi Kota Padang. Selain itu, Bajamba Festival juga menjadi sarana edukasi budaya bagi masyarakat dan wisatawan, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dalam budaya Minangkabau.
Talk and Taste dan Gastronomy to Market
Rangkaian HJK juga akan diisi dengan Talk and Taste yang membahas keberagaman gastronomi Kota Padang, serta Gastronomy to Market yang menghadirkan bazar kuliner, pertunjukan live cooking, dan partisipasi chef dari berbagai institusi maupun sejumlah negara. Acara ini diharapkan mampu menunjukkan bahwa kuliner Padang tidak hanya kaya rasa, tetapi juga kaya akan sejarah dan pengaruh multikultural.
Kekayaan Kuliner Multietnis
Menurut Yenni, kekayaan kuliner Kota Padang lahir dari perpaduan berbagai etnis, seperti Minangkabau, Tionghoa, India, Nias, Jawa, Sunda, dan etnis lainnya yang telah hidup berdampingan selama bertahun-tahun. Perpaduan ini melahirkan hidangan unik seperti rendang, sate padang, gulai itik, dan berbagai jajanan pasar yang menjadi daya tarik tersendiri. Dampak dari keberagaman ini tidak hanya pada cita rasa, tetapi juga pada ekonomi kreatif dan sektor pariwisata.
Dampak dan Implikasi
Upaya Padang menuju UNESCO Creative City of Gastronomy memiliki dampak luas:
- Peningkatan Pariwisata: Pengakuan UNESCO akan menarik wisatawan domestik dan mancanegara, meningkatkan kunjungan hingga 30% berdasarkan studi kasus kota kreatif lainnya.
- Pertumbuhan Ekonomi Kreatif: UMKM kuliner akan mendapat manfaat langsung dari promosi dan standarisasi kualitas, membuka peluang ekspor produk lokal.
- Pelestarian Budaya: Tradisi seperti bajamba dan festival kuliner akan terus dilestarikan, menjadi identitas kota yang kuat.
- Investasi Infrastruktur: Pemerintah kota akan meningkatkan fasilitas pendukung seperti pusat kuliner, pasar tradisional modern, dan zona gastronomi.
Optimisme Menuju 2027
“Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, Pemko Padang berharap HJK ke-357 menjadi hiburan yang edukatif sekaligus memperkuat promosi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Kami juga optimistis tema gastronomi yang diusung mampu semakin mengukuhkan citra Kota Padang sebagai destinasi wisata kuliner bertaraf internasional menuju UNESCO Creative City of Gastronomy,” tutup Yenni. Dengan persiapan yang matang dan dukungan masyarakat, langkah Padang menuju pengakuan dunia semakin kokoh. Pada tahun 2027, bukan tidak mungkin nama Padang akan tercatat dalam peta kota kreatif gastronomi dunia, bersama kota-kota seperti Macau, San Antonio, dan Parma.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










