Sinergi Kemenkop-Kemenpar: Transformasi Pokdarwis Melalui Koperasi untuk Pariwisata Berkelanjutan
Suara Pecari, Jakarta – Kementerian Koperasi (Kemenkop) dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) resmi meluncurkan program integrasi dan transformasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) menjadi badan usaha koperasi. Langkah ini diharapkan mampu mendorong profesionalisme pengelolaan destinasi wisata desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Program percontohan (pilot project) dimulai di delapan desa wisata, salah satunya Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Latar Belakang: Mengapa Pokdarwis Perlu Bertransformasi?
Pokdarwis selama ini menjadi ujung tombak pengembangan pariwisata di tingkat desa. Namun, statusnya sebagai kelompok informal seringkali menghambat akses terhadap pembiayaan, pelatihan, dan kemitraan formal. Tanpa badan hukum yang jelas, pengelolaan usaha pariwisata seperti homestay, paket wisata, dan kuliner lokal kurang terstruktur dan akuntabel. Akibatnya, potensi ekonomi yang besar belum termaksimalkan secara optimal.
Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, dalam sambutannya di Pendopo Pantai Tanjung Kelayang, Belitung, menegaskan bahwa transformasi ini merupakan jawaban atas tantangan tersebut. “Dengan menjadi koperasi, kegiatan usaha pariwisata yang sebelumnya dikelola secara informal akan terkonsolidasi dalam badan usaha formal yang lebih terstruktur, akuntabel, dan berdaya saing,” ujarnya.
Kronologi Peluncuran Program
| Tanggal | Kegiatan | Lokasi |
|---|---|---|
| 15 Juli 2026 | Launching Integrasi dan Transformasi Pokdarwis Melalui Koperasi | Pendopo Pantai Tanjung Kelayang, Belitung |
| 15 Juli 2026 | Deklarasi dan Penandatanganan Komitmen Bersama | Belitung |
Dampak dan Manfaat Transformasi
Transformasi Pokdarwis menjadi koperasi membawa sejumlah manfaat konkret, antara lain:
- Akses Pembiayaan: Koperasi dapat mengakses kredit usaha rakyat (KUR) dan program pembiayaan lainnya dari perbankan dan lembaga keuangan.
- Peningkatan Kapasitas SDM: Kemenkop dan Kemenpar akan memberikan pelatihan manajemen usaha, pemasaran digital, dan pelayanan prima bagi anggota koperasi.
- Pendampingan Kelembagaan dan Usaha: Pendampingan intensif untuk memastikan koperasi berjalan sesuai prinsip koperasi dan menghasilkan keuntungan.
- Fasilitasi Sarana dan Prasarana: Pemerintah akan memfasilitasi pembangunan atau perbaikan infrastruktur pariwisata seperti homestay, pusat informasi, dan area parkir.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menambahkan bahwa sinergi ini merupakan upaya bersama untuk memajukan sektor pariwisata guna penguatan ekonomi desa sekaligus pengentasan kemiskinan. “Pokdarwis sebagai ujung tombak pariwisata desa selama ini belum memiliki legalitas sebagai badan usaha. Koperasi hadir sebagai wadah untuk memperkuat peran serta masyarakat dan memastikan nilai tambah pariwisata kembali ke masyarakat,” jelasnya.
Pilot Project di Belitung: Menuju Destinasi Kelas Dunia
Belitung dipilih sebagai salah satu lokasi pilot project karena potensi wisata bahari yang luar biasa, seperti Pantai Tanjung Kelayang dan Pulau Lengkuas. Bupati Belitung, Djoni Alamsyah Hidayat, menyambut positif program ini dan menegaskan komitmen daerah untuk menjadikan koperasi sebagai lokomotif baru penggerak ekonomi rakyat. “Saya mengajak seluruh kepala desa agar tidak melihat koperasi sekadar papan nama administratif, melainkan wadah nyata penciptaan lapangan kerja,” tegasnya.
Djoni juga mengungkapkan mimpi besar Belitung untuk dikenal bukan hanya karena pantai indahnya, tetapi juga karena koperasi yang maju dan sehat. “Jika mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat, kami yakin kepercayaan investor akan meningkat, ekonomi masyarakat bergerak, dan posisi Belitung sebagai destinasi pariwisata kelas dunia semakin kuat,” ujarnya.
Kolaborasi dengan Koperasi Desa Merah Putih
Menkop Ferry menjelaskan bahwa kegiatan usaha koperasi hasil transformasi Pokdarwis dapat dikolaborasikan dengan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang sudah ada. Hal ini memungkinkan sinergi dalam rantai pasok, pemasaran bersama, dan pengembangan produk wisata yang lebih terintegrasi. Dalam acara peluncuran, dilakukan deklarasi integrasi dan transformasi Pokdarwis menjadi koperasi yang ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama antara Ketua Pokdarwis, Ketua KDKMP, dan dinas terkait di Kabupaten Belitung.
Implikasi bagi Masyarakat dan Industri Pariwisata
Transformasi ini diharapkan memberikan dampak berantai (multiplier effect) bagi perekonomian desa. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemilik usaha pariwisata yang sah. Dengan kelembagaan yang kuat, koperasi dapat mengelola homestay, paket wisata, kuliner, dan kerajinan lokal secara profesional. Pendapatan daerah dari sektor pariwisata juga diprediksi meningkat karena pengelolaan yang lebih tertib dan promosi yang lebih efektif.
Bagi industri pariwisata nasional, hadirnya koperasi-koperasi desa yang sehat akan memperkuat rantai pasok pariwisata, meningkatkan kualitas layanan, dan mendorong pariwisata berkelanjutan yang berbasis komunitas. Hal ini sejalan dengan program pemerintah untuk mengembangkan desa wisata sebagai salah satu pilar pemulihan ekonomi pasca-pandemi.
Penutup
Langkah Kemenkop dan Kemenpar mengintegrasikan Pokdarwis ke dalam wadah koperasi merupakan terobosan strategis yang tidak hanya memperkuat kelembagaan pariwisata desa, tetapi juga membuka akses yang lebih luas terhadap sumber daya dan pasar. Dengan komitmen dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat, pilot project di Belitung diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di seluruh Indonesia. Transformasi ini bukan sekadar perubahan struktur, melainkan perubahan paradigma: dari pengelolaan informal menuju bisnis pariwisata yang profesional, inklusif, dan berkelanjutan. Kini, saatnya Pokdarwis bertransformasi, koperasi bersinergi, dan pariwisata desa berjaya.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.









