Thailand Ubah Strategi Pariwisata: Tak Lagi Kejar Jumlah Turis, Kini Fokus pada Wisatawan dengan Pengeluaran Tinggi

Thailand Ubah Strategi Pariwisata: Tak Lagi Kejar Jumlah Turis, Kini Fokus pada Wisatawan dengan Pengeluaran Tinggi

Suara Pecari | Thailand, yang selama puluhan tahun dikenal sebagai destinasi wisata massal dengan rekor jumlah kunjungan, kini mengubah haluan. Pemerintah Thailand tidak lagi mengejar rekor jumlah wisatawan, melainkan memprioritaskan besarnya pengeluaran setiap wisatawan. Langkah ini diambil di tengah ketatnya persaingan regional dan ketegangan geopolitik. Artikel ini mengupas tuntas perubahan strategi, dampaknya terhadap industri pariwisata, serta prospek ekonomi Thailand ke depan.

Latar Belakang Perubahan Strategi

Sejak awal 2000-an, Thailand menjadi magnet pariwisata global berkat pantai eksotis, kehidupan malam yang semarak, dan biaya perjalanan yang terjangkau. Pada 2019, Thailand mencatat rekor hampir 40 juta wisatawan mancanegara. Namun, pandemi Covid-19 menghentikan laju tersebut. Setelah pandemi, pemulihan tidak secepat yang diharapkan. Pada 2025, Thailand hanya menerima 32,97 juta wisatawan, turun tipis dari target. Kini, untuk 2026, target ditetapkan hanya 33 juta wisatawan, jauh di bawah capaian 2019. Jika realisasi lebih rendah dari 2025, Thailand akan mencatat penurunan jumlah wisatawan asing dua tahun berturut-turut di luar masa pandemi untuk pertama kalinya sejak 1995.

Deputi Gubernur Otoritas Pariwisata Thailand, Nithee Seepraesaid, menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik dan persaingan ketat di kawasan membuat strategi menarik wisatawan dengan pengeluaran tinggi menjadi lebih penting. “Kami tidak terlalu khawatir dengan jumlah wisatawan karena kami ingin menghasilkan pendapatan yang lebih besar dari setiap pengunjung,” ujarnya.

Fokus Baru: Wisatawan dengan Pengeluaran Tinggi

Otoritas Pariwisata Thailand kini membidik segmen wisatawan yang datang untuk layanan kesehatan, wellness, konser, festival, golf, maraton, dan ajang olahraga lainnya. Kelompok ini cenderung tinggal lebih lama dan membelanjakan uang lebih banyak. Rata-rata pengeluaran wisatawan saat ini sekitar USD 1.500 per perjalanan. Pemerintah menargetkan angka tersebut naik menjadi USD 2.400.

Untuk mendukung strategi ini, Thailand menggelar promosi di kota-kota seperti Oxford dan Manchester di Inggris. Situs resmi pariwisata Thailand kini menonjolkan konsep wisata mewah dan wellness, dengan ajakan untuk memulihkan diri dan menjadi pribadi yang lebih bahagia.

Perubahan Kebijakan Visa

Salah satu perubahan paling jelas adalah pencabutan berbagai kemudahan visa yang diperkenalkan pasca-pandemi. Pemerintah mengaitkan kemudahan tersebut dengan meningkatnya kasus pekerja ilegal, pelanggaran izin tinggal, dan tindak kriminal yang melibatkan warga asing. Contohnya, penangkapan pria Australia di Bandara Suvarnabhumi yang diduga membunuh remaja Thailand. Kebijakan visa yang lebih ketat diharapkan dapat menyaring wisatawan berkualitas.

Tantangan dan Dampak

Pergeseran strategi ini tidak tanpa tantangan. Sektor pariwisata menyumbang sekitar seperlima perekonomian Thailand. Ekosistem hotel, restoran, transportasi, dan biro perjalanan di Phuket dan Chiang Mai dibangun untuk melayani pariwisata massal. Beralih ke wisatawan dengan pengeluaran tinggi namun jumlah lebih sedikit membutuhkan penyesuaian besar.

Selain itu, Thailand menghadapi persaingan ketat dari Vietnam dan Indonesia yang menawarkan destinasi serupa dengan harga lebih murah. Penguatan nilai tukar baht dalam beberapa tahun terakhir juga mengikis keunggulan biaya Thailand.

Proyeksi Pendapatan dan Data Terkini

Indikator 2019 2025 2026 (Target)
Jumlah Wisatawan (juta) ~40 32,97 33
Rata-rata Pengeluaran per Wisatawan (USD) ~1.200 ~1.500 ~2.400
Penerimaan Pariwisata (triliun baht) 1,91 1,54 1,55

Meskipun target pendapatan hanya naik tipis menjadi 1,55 triliun baht (USD 46,5 miliar), pemerintah optimistis bahwa fokus pada kualitas akan meningkatkan pendapatan jangka panjang.

Dampak bagi Industri Pariwisata

  • Hotel dan Akomodasi: Peralihan dari wisata massal ke wisatawan kelas atas mendorong pengembangan hotel butik dan resort mewah.
  • Restoran dan Kuliner: Restoran fine dining dan pengalaman kuliner eksklusif akan lebih diminati.
  • Transportasi: Layanan transportasi pribadi dan sewa mobil mewah diperkirakan meningkat.
  • Biro Perjalanan: Paket wisata tematik seperti wellness retreat dan tur golf akan menjadi andalan.

Implikasi bagi Masyarakat dan Pemerintah

Perubahan strategi ini berpotensi mengurangi dampak negatif pariwisata massal, seperti kemacetan, kerusakan lingkungan, dan eksploitasi tenaga kerja. Namun, juga berisiko meminggirkan pelaku usaha kecil yang bergantung pada wisatawan beranggaran rendah. Pemerintah perlu menyediakan program pelatihan dan dukungan bagi UMKM agar dapat beradaptasi.

Nithee menegaskan bahwa strategi baru ini tidak berarti menutup pintu bagi wisatawan dengan anggaran terbatas. “Bagi Thailand, kemewahan berarti pengalaman yang bermakna dan eksklusif,” ujarnya. Artinya, Thailand tetap membuka diri untuk semua kalangan, namun dengan penekanan pada kualitas pengalaman.

Kronologi Perubahan Kebijakan

  1. 2019: Thailand mencapai rekor 40 juta wisatawan.
  2. 2020-2021: Pandemi Covid-19 menyebabkan penurunan drastis jumlah wisatawan.
  3. 2022-2023: Pemerintah melonggarkan visa untuk mendorong pemulihan.
  4. 2024: Mulai ada kekhawatiran tentang pekerja ilegal dan kriminalitas terkait wisatawan.
  5. 2025: Jumlah wisatawan 32,97 juta, di bawah target. Pemerintah mulai mengkaji ulang strategi.
  6. 2026: Resmi beralih ke strategi wisatawan dengan pengeluaran tinggi, mencabut kemudahan visa, dan menargetkan 33 juta wisatawan.

Thailand berada di persimpangan jalan. Dengan meninggalkan model pariwisata massal yang telah menjadi tulang punggung ekonominya, negara ini mengambil risiko yang diperhitungkan. Keberhasilan strategi baru ini akan bergantung pada kemampuan Thailand untuk menawarkan pengalaman eksklusif yang bernilai tinggi, sambil tetap mempertahankan daya tarik budaya dan keramahan yang telah menjadi ciri khasnya. Di tengah persaingan regional yang semakin sengit, langkah berani ini bisa menjadi cetak biru bagi destinasi lain yang ingin menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan