Kemenpar: Kenduri Seni Melayu Perkuat Daya Tarik Wisata Batam
Suara Pecari, Batam, 13 Juli 2026 – Pengembangan pariwisata tidak hanya bergantung pada keindahan alam, tetapi juga membutuhkan kekuatan budaya sebagai daya tarik utama. Hal tersebut disampaikan Plt Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan sekaligus Asisten Deputi Event Internasional Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Hafiz Agung Rifai, pada pembukaan Kenduri Seni Melayu Kota Batam yang digelar Jumat, 3 Juli 2026, di Dataran Engku Puteri. Acara ini menjadi panggung bagi kekayaan budaya Melayu sekaligus strategi pemerintah untuk memperkuat posisi Batam sebagai destinasi wisata unggulan di kawasan regional.
Posisi Strategis Batam sebagai Gerbang Pariwisata
Menurut Hafiz, Batam memiliki posisi strategis sebagai gerbang utama pariwisata Indonesia karena berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. Kondisi tersebut menjadi peluang besar untuk menghadirkan atraksi budaya yang mampu menarik wisatawan datang sekaligus memperpanjang lama tinggal mereka. “Batam sebagai gerbang utama pariwisata Indonesia memiliki posisi strategis yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, didukung kekayaan budaya Melayu sebagai akar identitas daerah,” ujar Hafiz Agung Rifai. Letak geografis yang unik ini menjadikan Batam pintu masuk utama bagi wisatawan mancanegara, terutama dari Asia Tenggara.
Kenduri Seni Melayu: Lebih dari Sekadar Pertunjukan
Hafiz menegaskan bahwa Kenduri Seni Melayu bukan sekadar ruang pertunjukan kesenian, melainkan sarana untuk memperkenalkan jati diri masyarakat Melayu kepada wisatawan yang datang ke Batam. Acara ini menampilkan berbagai seni tradisional seperti tari zapin, musik gambus, dan teater rakyat yang sarat makna. “Kenduri Seni Melayu bukan sekadar ekspresi seni, melainkan juga panggung memperkenalkan jati diri Melayu kepada dunia sekaligus mendorong peningkatan lama tinggal wisatawan dan perluasan wisata belanja,” katanya. Dengan demikian, event ini menjadi medium diplomasi budaya yang efektif.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Kehadiran event budaya seperti Kenduri Seni Melayu memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Hafiz menambahkan, event ini mampu mendorong wisatawan tinggal lebih lama dan mengunjungi berbagai destinasi maupun pusat perbelanjaan di Batam. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Batam, rata-rata lama tinggal wisatawan meningkat 0,5 hari selama penyelenggaraan event dibandingkan hari biasa. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan okupansi hotel, kunjungan ke mal, dan kuliner lokal.
| Indikator | Sebelum Event | Saat Event | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Lama Tinggal (hari) | 2,1 | 2,6 | +0,5 |
| Okupansi Hotel (%) | 65 | 78 | +13% |
| Kunjungan Wisatawan (ribu) | 12 | 18 | +50% |
Sinergi Budaya dan Pariwisata sebagai Strategi Bersaing
Hafiz berharap penyelenggaraan Kenduri Seni Melayu terus dikembangkan dengan menghadirkan berbagai inovasi sehingga mampu memberikan pengalaman budaya yang lebih berkesan bagi wisatawan. Ia menilai sinergi antara sektor budaya dan pariwisata menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan daya saing Batam sebagai destinasi wisata di kawasan regional. Beberapa inovasi yang direncanakan antara lain:
- Integrasi teknologi augmented reality untuk memperkaya pengalaman pengunjung.
- Kolaborasi dengan pelaku UMKM untuk menjual produk kerajinan khas Melayu.
- Paket wisata tematik yang menggabungkan kunjungan ke lokasi sejarah dan pusat perbelanjaan.
Kronologi dan Pelaksanaan Kenduri Seni Melayu
Kenduri Seni Melayu Kota Batam berlangsung selama tiga hari, mulai 3 hingga 5 Juli 2026. Acara dimulai dengan prosesi pembukaan oleh pejabat daerah dan Kemenpar, dilanjutkan dengan pertunjukan seni dari berbagai sanggar di Kepulauan Riau. Hari kedua diisi dengan workshop tari dan musik tradisional, sementara hari ketiga ditutup dengan pameran kuliner dan kerajinan. Acara ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan wisatawan, dengan total pengunjung mencapai 18.000 orang.
Implikasi bagi Industri Pariwisata Nasional
Keberhasilan Kenduri Seni Melayu di Batam diharapkan menjadi model bagi daerah lain dalam mengembangkan pariwisata berbasis budaya. Kemenpar berencana mereplikasi konsep serupa di destinasi lain seperti Danau Toba, Mandalika, dan Labuan Bajo. Dengan pendekatan ini, Indonesia tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga kekayaan budaya yang autentik. Hal ini sejalan dengan visi pariwisata berkelanjutan yang mengedepankan pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Di tengah persaingan pariwisata global, Batam menunjukkan bahwa identitas budaya yang kuat dapat menjadi pembeda. Kenduri Seni Melayu bukan sekadar perayaan, melainkan investasi jangka panjang untuk memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi yang kaya akan tradisi dan keramahan. Dengan dukungan semua pihak, event ini diharapkan terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi perekonomian dan kebanggaan masyarakat Melayu.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










