Muslimat NU Riau Deklarasikan Seruan Perdamaian Dunia kepada PBB: Momentum Harlah ke-80

Muslimat NU Riau Deklarasikan Seruan Perdamaian Dunia kepada PBB: Momentum Harlah ke-80

Suara Pecari, Pekanbaru — PW Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi Riau mengambil langkah berani dengan mendeklarasikan sembilan himbauan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menghentikan berbagai konflik bersenjata di dunia. Deklarasi tersebut disampaikan pada perayaan Harlah ke-80 PW Muslimat NU Riau yang berlangsung di Pekanbaru, dan disaksikan langsung oleh Menteri Sosial sekaligus Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa.

Konteks Global yang Mendesak

Deklarasi ini lahir di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia. Konflik bersenjata di Ukraina, Gaza, Myanmar, dan sejumlah negara Afrika masih terus memakan korban sipil, termasuk anak-anak dan perempuan. Menurut data PBB, jumlah pengungsi global telah melampaui 100 juta jiwa untuk pertama kalinya dalam sejarah. Dalam situasi seperti ini, suara organisasi masyarakat sipil seperti Muslimat NU menjadi penting untuk mendorong dialog dan perdamaian.

Ketua PW Muslimat NU Riau, Ny. Hj. Siti Zubaidah, dalam sambutannya menegaskan bahwa deklarasi ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen nyata untuk terus menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan. “Kami ingin PBB tidak hanya menjadi saksi bisu, tetapi bertindak nyata menghentikan kekerasan. Anak-anak berhak hidup damai, pendidikan harus terus berjalan, dan tenaga kesehatan serta jurnalis harus dilindungi,” ujarnya.

Sembilan Seruan Perdamaian

Dalam deklarasinya, Muslimat NU Riau merumuskan sembilan poin himbauan yang disampaikan kepada PBB. Berikut rinciannya:

NoPoin SeruanFokus Utama
1Hentikan segala bentuk konflik bersenjataGencatan senjata global
2Lindungi anak-anak dari dampak perangHak anak
3Jamin kelangsungan layanan pendidikan di zona konflikPendidikan
4Jaga akses dan keamanan layanan kesehatanKesehatan
5Lindungi keselamatan jurnalis dan pekerja mediaKebebasan pers
6Hormati hak asasi manusia dan hukum humaniter internasionalHAM
7Fasilitasi dialog damai antarpihak yang bertikaiDiplomasi
8Perkuat peran perempuan dalam resolusi konflikPemberdayaan perempuan
9Tingkatkan bantuan kemanusiaan untuk pengungsiKemanusiaan

Apresiasi Khofifah dan Langkah Strategis Muslimat NU

Khofifah Indar Parawansa memberikan apresiasi tinggi atas deklarasi tersebut. Dalam siaran pers pada Jumat, 10 Juli 2026, ia menyatakan bahwa langkah ini menunjukkan kepedulian Muslimat NU terhadap isu kemanusiaan global. “Muslimat akan terus senantiasa berjuang menyerukan perdamaian di muka bumi. Salah satunya melalui seruan kepada PBB agar seluruh pihak menjaga anak-anak, menjaga layanan pendidikan, menjaga layanan kesehatan, termasuk menjaga keselamatan jurnalis, dan yang paling penting menjaga kehidupan kemanusiaan,” ujar Khofifah.

Ia menambahkan bahwa perjuangan Muslimat NU tidak hanya melalui program sosial dan pemberdayaan masyarakat. Gerakan sosial dan spiritual juga terus diperkuat untuk menjaga persatuan bangsa. “Muslimat ingin menjaga negeri ini agar tetap damai. Suasana persaudaraan harus dibangun dengan semangat saling membantu, mewujudkan perdamaian dan kesejukan di tengah masyarakat,” katanya.

Inisiatif Baru: Asosiasi Profesor Perempuan, Paralegal, dan Peace Maker

Dalam kesempatan yang sama, Khofifah juga mengungkapkan sejumlah program baru yang dikembangkan Muslimat NU untuk memperkuat kontribusi organisasi di tingkat nasional dan global. Program-program tersebut meliputi:

  • Asosiasi Profesor Perempuan: Wadah bagi akademisi perempuan untuk berkontribusi dalam riset dan advokasi kebijakan publik yang berperspektif gender dan perdamaian.
  • Layanan Paralegal: Memberikan bantuan hukum gratis bagi masyarakat rentan, khususnya perempuan dan anak korban konflik atau kekerasan.
  • Program Peace Maker: Pelatihan mediator perdamaian bagi kader Muslimat di daerah rawan konflik, baik di Indonesia maupun di negara lain.

“Dengan kekuatan organisasi, penguatan sumber daya manusia, serta semangat pengabdian yang terus dijaga, Muslimat NU akan terus hadir memberikan manfaat dan menjadi bagian penting dalam menjaga perdamaian, persatuan, dan kemajuan bangsa,” pungkas Khofifah.

Dampak dan Implikasi Deklarasi

Deklarasi ini memiliki dampak multidimensi. Pertama, secara diplomatis, seruan resmi kepada PBB dapat menjadi tekanan moral bagi negara-negara anggota untuk lebih serius menangani konflik. Kedua, di tingkat nasional, langkah ini memperkuat posisi Muslimat NU sebagai organisasi Islam moderat yang peduli pada isu global, sekaligus menepis anggapan bahwa ormas keagamaan hanya fokus pada urusan domestik. Ketiga, bagi masyarakat Riau, deklarasi ini menjadi momentum edukasi tentang pentingnya perdamaian dan solidaritas kemanusiaan.

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Riau, Dr. Ahmad Syarif, menilai bahwa langkah Muslimat NU ini strategis. “Indonesia memiliki tradisi diplomasi multi-track. Muslimat NU, sebagai bagian dari civil society, bisa menjadi jembatan antara pemerintah dan komunitas internasional. Seruan ini, jika ditindaklanjuti dengan lobi dan advokasi, bisa memengaruhi agenda PBB,” ujarnya.

Kronologi Peristiwa

Berikut kronologi peristiwa terkait deklarasi ini:

  1. 10 Juli 2026: PW Muslimat NU Riau menggelar Harlah ke-80 di Pekanbaru, dihadiri ribuan anggota dan tamu undangan.
  2. Sesi Deklarasi: Dalam acara puncak, pengurus membacakan sembilan poin seruan perdamaian yang ditujukan kepada PBB.
  3. Sambutan Khofifah: Menteri Sosial memberikan sambutan sekaligus menyaksikan deklarasi, menekankan komitmen Muslimat NU pada perdamaian global.
  4. Rilis Pers: Pada hari yang sama, PP Muslimat NU mengeluarkan siaran pers resmi yang mengumumkan deklarasi tersebut ke publik.

Harapan ke Depan

Deklarasi ini diharapkan tidak berhenti sebagai pernyataan. Muslimat NU Riau berencana mengirimkan dokumen seruan secara resmi ke kantor PBB di New York melalui perwakilan Indonesia, serta menggalang dukungan dari organisasi perempuan lainnya di Asia Tenggara. Selain itu, program peace maker yang dicanangkan akan mulai diuji coba di daerah perbatasan Riau-Sumatera Barat yang rawan konflik lahan.

Di tengah hiruk-pikuk politik global yang kerap melupakan suara rakyat kecil, langkah Muslimat NU mengingatkan bahwa perdamaian adalah tanggung jawab semua pihak. Dari Pekanbaru, seruan itu bergema: hentikan perang, rawat kemanusiaan. Semoga PBB mendengar.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *