Era Emas Didier Deschamps Berakhir, Zidane Siap Gantikan?
Suara Pecari, Kekalahan pahit 0-2 dari Spanyol di semifinal Piala Dunia 2026 menjadi penutup perjalanan panjang Didier Deschamps sebagai arsitek Timnas Perancis. Pelatih berusia 57 tahun itu harus mengakui keunggulan La Roja di Dallas, Selasa malam, sekaligus mengakhiri era yang telah melahirkan satu gelar juara dunia dan konsistensi luar biasa di turnamen besar.
Sejak ditunjuk pada 2012, Didier Deschamps berhasil membangkitkan kembali Les Bleus yang tercoreng oleh insiden pemogokan pemain di Piala Dunia 2010. Di bawah kepemimpinannya, Perancis menjelma menjadi mesin turnamen yang tangguh: juara Piala Dunia 2018, finalis Euro 2016, juara Nations League 2021, finalis Piala Dunia 2022, dan semifinalis Piala Dunia 2026. Dengan rekor 20 kemenangan sebagai pelatih di Piala Dunia, Deschamps meninggalkan warisan yang sulit ditandingi.
Namun, perjalanan Didier Deschamps tidak lepas dari kritik. Gaya bermain yang cenderung pragmatis dan mengutamakan keseimbangan kerap dipertanyakan, terutama saat menghadapi tim penguasa bola seperti Spanyol. Dalam laga semifinal, kekalahan tersebut memicu pernyataan pedas dari sang pelatih. Deschamps melontarkan kritik terhadap wasit Ivan Barton, mempertanyakan kapasitasnya memimpin partai sebesar semifinal Piala Dunia. “Apakah wasit ini layak untuk semifinal? Ada penalti yang kontroversial, dan beberapa situasi lain merugikan kami,” ujarnya. Namun, ia juga mengakui bahwa timnya tampil di bawah standar.
Kapten Perancis, Kylian Mbappe, turut menyuarakan kekecewaannya. Ia secara terbuka mempertanyakan taktik Deschamps yang dinilai kurang agresif dalam pressing. “Kami tiga lawan dua di lini tengah, melawan Spanyol itu berat. Fabian Ruiz dan Rodri punya banyak waktu. Seharusnya kami melakukan pressing satu lawan satu,” kritik Mbappe. Pernyataan ini menambah dinamika menjelang transisi kepelatihan.
Dengan berakhirnya kontrak Deschamps, kursi pelatih Les Bleus kini terbuka lebar. Zinedine Zidane, legenda sepak bola Perancis yang juga pernah menjadi rekan setim Deschamps di Piala Dunia 1998, telah lama disebut sebagai pengganti utama. Zidane yang sukses membawa Real Madrid meraih tiga gelar Liga Champions berturut-turut, diyakini siap mengemban tugas berat meneruskan warisan Didier Deschamps.
Pertandingan perebutan tempat ketiga melawan tim yang kalah di semifinal lainnya akan menjadi laga terakhir Deschamps. Meski berakhir dengan kekecewaan, pencapaiannya tetap monumental: membawa Perancis ke semifinal dalam tiga Piala Dunia beruntun, sebuah konsistensi yang jarang terjadi. Kini, para penggemar sepak bola Perancis menantikan era baru di bawah Zidane, dengan harapan bahwa gaya permainan yang lebih atraktif dapat mengantar Les Bleus kembali ke puncak dunia.
Warisan Deschamps tidak hanya diukur dari trofi, tetapi juga dari fondasi kuat yang ia bangun. Ia meninggalkan skuad bertalenta dalam dengan kedalaman luar biasa. Tugas Zidane atau siapapun penggantinya adalah mengubah potensi itu menjadi prestasi yang lebih gemilang. Selamat tinggal, era Deschamps. Selamat datang, babak baru sepak bola Perancis.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










