Pemkot Malang Ajak Ayah Antar Anak ke Sekolah Cegah Fatherless
Latar Belakang: Fenomena Fatherless di Indonesia
Suara Pecari, Fenomena fatherless atau ketidakhadiran figur ayah dalam proses pengasuhan anak menjadi perhatian serius di Indonesia. Berdasarkan hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga Tahun 2025, angka fatherless di Indonesia mencapai 25,8 persen. Artinya, sekitar satu dari empat anak Indonesia tumbuh tanpa keterlibatan aktif figur ayah dalam pengasuhan. Kondisi ini mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk mengambil langkah konkret melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) yang akan dilaksanakan pada 13 Juli 2026, bertepatan dengan dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027.
GAMAS: Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah
GAMAS merupakan bagian dari Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia yang digagas oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN. Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Dinas Sosial P3AP2KB Kota Malang, Dian Sonyalia Caturrina, menjelaskan bahwa gerakan ini lahir sebagai respons terhadap tingginya fenomena fatherless di Indonesia. “Gerakan ini merupakan salah satu bagian dari Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia. Tujuannya untuk menghadapi fenomena fatherless yang masih cukup tinggi di Indonesia,” ujarnya dalam dialog bersama RRI Malang, Jumat (3/7/2026).
Dukungan Regulasi dan Sosialisasi
Untuk mendukung implementasi program tersebut, Pemkot Malang telah menerbitkan Surat Edaran Wali Kota Malang Nomor 19 Tahun 2026 tertanggal 26 Juni 2026. Surat edaran itu ditujukan tidak hanya kepada perangkat daerah, tetapi juga BUMD, satuan pendidikan, hingga perusahaan swasta agar memberikan kesempatan kepada para ayah mengantar anaknya pada hari pertama sekolah. Pemkot juga akan menggencarkan sosialisasi melalui berbagai media, termasuk media sosial, agar gerakan tersebut dapat diikuti masyarakat secara luas.
Analisis Dampak dan Implikasi
GAMAS diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu mengubah pola pikir masyarakat tentang peran ayah dalam pengasuhan. Selama ini, ayah seringkali hanya dipandang sebagai pencari nafkah utama, sementara peran dalam pendidikan dan pembentukan karakter anak dianggap sebagai tanggung jawab ibu. Padahal, kehadiran ayah secara aktif terbukti memberikan dampak positif bagi perkembangan emosional, sosial, dan kognitif anak.
Menurut Dian Sonyalia Caturrina, jam masuk sekolah yang umumnya dimulai pukul 07.00 WIB masih memungkinkan bagi para ayah untuk mengantar anak sebelum berangkat bekerja. “Kami berharap ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi perubahan pola pikir bahwa ayah harus hadir secara aktif dalam pendidikan dan pengasuhan anak,” katanya.
Data Fatherless di Indonesia
| Tahun | Persentase Fatherless | Sumber Data |
|---|---|---|
| 2025 | 25,8% | Pemutakhiran Pendataan Keluarga |
Program Penguatan Keluarga Lainnya
Selain GAMAS, Dinas Sosial P3AP2KB Kota Malang juga menjalankan berbagai program penguatan keluarga, antara lain:
- Sekolah Siaga Kependudukan
- Pusat Informasi dan Konseling Remaja
- Forum Generasi Berencana (GenRe)
- Pembinaan Konselor Sebaya
- Forum Anak
Program-program ini merupakan upaya membangun generasi yang lebih berkualitas dengan melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk ayah.
Kronologi Peristiwa
- 26 Juni 2026: Penerbitan Surat Edaran Wali Kota Malang Nomor 19 Tahun 2026 tentang GAMAS.
- 3 Juli 2026: Sosialisasi GAMAS melalui dialog di RRI Malang oleh Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana.
- 13 Juli 2026: Pelaksanaan GAMAS bertepatan dengan hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru 2026/2027.
Penutup
Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) bukan sekadar ajakan simbolis, melainkan sebuah langkah strategis untuk memutus rantai fatherless di Indonesia. Dengan melibatkan ayah secara aktif sejak pagi hari, diharapkan terbentuk kebiasaan positif yang berkelanjutan. Pemkot Malang telah menunjukkan komitmennya melalui regulasi dan sosialisasi yang masif. Kini, dukungan dari seluruh elemen masyarakat, terutama para ayah, menjadi kunci keberhasilan gerakan ini. Semoga GAMAS menjadi awal dari perubahan budaya pengasuhan yang lebih inklusif dan berkualitas di Indonesia.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.









