Suka Duka Pemain Barongsai: Antara Gairah Budaya, Cuan, dan Risiko Cedera

Suka Duka Pemain Barongsai: Antara Gairah Budaya, Cuan, dan Risiko Cedera

Suara Pecari, Singaraja – Di balik gemerincing alat musik dan decak kagum penonton, para pemain barongsai memikul beban fisik dan mental yang berat. Mereka harus menanggung panas pengap di dalam kostum, menghafal koreografi yang menguras stamina, dan berjuang melawan risiko cedera demi melestarikan budaya di tengah masyarakat. Seni tari tradisional Tiongkok yang sarat akan makna keberuntungan ini menuntut dedikasi tinggi dari para pelakunya. Namun, realitas suka dan duka yang dialami oleh para pemain barongsai patut menjadi perhatian.

Dedikasi di Balik Gerakan Lincah

Bagi para pemain, menampilkan barongsai adalah hobi yang menghasilkan cuan. Itulah yang dikatakan Sandi, salah seorang pemain barongsai asal Singaraja. Melihat senyum dan antusiasme penonton, terutama anak-anak, adalah kebahagiaan terbesar. Pertunjukan mereka selalu dinantikan dalam berbagai perayaan besar seperti Imlek dan Cap Go Meh. Lebih jauh lagi, barongsai kini telah menjadi seni yang inklusif. Di berbagai daerah, pemainnya datang dari latar belakang suku dan agama yang beragam, menjadikannya simbol toleransi dan kebersamaan di lingkungan masyarakat.

Beban Fisik dan Risiko Cedera

Di balik beragam suka yang dialami, beban fisik dan risiko cedera juga harus dirasakan. Berada di dalam kostum bukanlah hal yang mudah. Sandi yang merupakan anggota grup Barongsai Wong Tiang Long menyebut pemain bagian depan harus memikul beratnya kepala barongsai yang terbuat dari rotan dan bulu domba, sementara pemain belakang harus menopang rekannya dalam berbagai gerakan akrobatik. Risiko cedera seperti keseleo, kaki patah, hingga benturan akibat jatuh dari ketinggian sangat membayangi para atlet setiap kali berlatih maupun tampil.

“Lecet, baret, jatuh, patah tulang mah udah biasa kita, itu risiko,” ucapnya santai saat ditemui RRI Sabtu, 4 Juli 2026 di sela-sela latihan.

Untuk bisa tampil memukau selama belasan hingga puluhan menit, para pemain harus menjalani latihan yang intensif. Gerakan tari, keseimbangan saat menaiki tonggak, serta sinkronisasi dengan pemusik harus berjalan sempurna.

Jenis CederaPenyebabFrekuensi
KeseleoGerakan akrobatik tiba-tibaSering
Patah tulangJatuh dari tiang atau panggungJarang
Lecet/baretGesekan dengan kostumSangat sering

“Di dalam kostum panas dan pengap, tapi semua itu terbayar lunas saat kita melihat senyum penonton dan tepuk tangan meriah dari masyarakat yang memadati arena pertunjukan,” ujar Sandi dengan mata berbinar bangga.

Kejar Cuan: Antara Musim dan Ketidakpastian

Jasa pertunjukan barongsai biasanya sangat bergantung pada musim perayaan tertentu, sehingga penghasilan pemain sering kali tidak menentu. Berdasarkan data dari beberapa grup barongsai di Bali, pendapatan per pertunjukan berkisar antara Rp 2 juta hingga Rp 5 juta, tergantung pada durasi dan kompleksitas atraksi. Namun, dalam satu bulan, grup hanya bisa mendapatkan 3-5 undangan di luar musim Imlek. Saat musim Imlek, frekuensi bisa meningkat hingga 15-20 pertunjukan per bulan.

  • Pendapatan per pertunjukan: Rp 2-5 juta
  • Frekuensi di luar musim: 3-5 kali per bulan
  • Frekuensi saat musim Imlek: 15-20 kali per bulan
  • Pembagian honor: 60% untuk pemain, 40% untuk operasional dan pelatih

Regenerasi: Tantangan Besar Pelestarian

Regenerasi pemain menjadi salah satu tantangan besar karena generasi muda kerap enggan menjalani latihan fisik yang keras dan disiplin tinggi. Sandi mengakui, dari 15 anggota grupnya, hanya 5 yang berusia di bawah 25 tahun. Sebagian besar pemain berusia 30-40 tahun. Untuk menarik minat anak muda, beberapa grup mulai memberikan pelatihan gratis dan menjadwalkan latihan di akhir pekan. Namun, hasilnya belum maksimal. “Anak muda sekarang lebih suka main gadget daripada latihan fisik,” keluh Sandi.

Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat

Keberadaan barongsai tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat pemersatu. Di Bali, misalnya, pemain barongsai tidak terbatas pada etnis Tionghoa. Banyak pemain dari suku Bali, Jawa, bahkan Madura yang bergabung. Hal ini memperkuat toleransi dan kebersamaan. Namun, jika regenerasi terus terhambat, dikhawatirkan seni ini akan punah dalam beberapa dekade. Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan dukungan berupa subsidi, pelatihan, dan promosi agar barongsai tetap lestari.

Kisah Sandi: Antara Rasa Sakit dan Kebanggaan

Sandi, yang telah bergelut dengan barongsai selama 12 tahun, pernah mengalami patah tulang tangan saat latihan. Ia harus menjalani operasi dan istirahat selama 3 bulan. Namun, ia tidak kapok. “Cinta saya pada barongsai lebih besar daripada rasa sakit,” ujarnya. Baginya, melihat penonton bersorak dan anak-anak tersenyum adalah obat paling mujarab. Ia berharap suatu hari nanti barongsai bisa diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO, seperti yang telah dilakukan untuk beberapa seni tradisional Indonesia lainnya.

Penutup

Meskipun harus menghadapi berbagai rintangan yang menguras tenaga dan air mata, semangat para pemain barongsai tidak pernah pudar. Mereka terus melompat, menari, dan melestarikan tradisi agar seni ini terus hidup. Di tengah gemerlap lampu panggung dan dentuman musik, ada jiwa-jiwa yang rela berkorban demi budaya. Barongsai bukan sekadar tarian, melainkan denyut nadi kebersamaan yang terus berdetak di hati para penggiatnya.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *