Koster Saksikan Parade Gong Kebyar Duta Gianyar dan Badung: Dukungan Nyata untuk Seniman Bali
Suara Pecari, Denpasar, 14 Juli 2026 – Panggung Terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Provinsi Bali menjadi saksi kemegahan Parade Gong Kebyar Dewasa pada Rabu, 8 Juli 2026. Acara yang merupakan bagian dari Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII ini dihadiri langsung oleh Gubernur Bali, Wayan Koster, sebagai bentuk dukungan nyata terhadap para seniman yang tampil. Kehadiran Gubernur bukan sekadar seremoni, melainkan simbol komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan dan mengembangkan seni budaya Bali, khususnya Gong Kebyar yang merupakan salah satu warisan budaya tak benda.
Kronologi Acara: Dua Duta, Empat Penampilan Spektakuler
Parade dimulai dengan penampilan dari Komunitas Seni Sanggar Naya Art, Duta Kabupaten Gianyar, yang membawakan garapan Tabuh Lima Lelambatan berjudul “Guntur Madu”. Tabuh ini menggambarkan kegagahan dan keagungan alam, dengan irama yang megah dan dinamis. Disusul oleh Duta Kabupaten Badung dari Komunitas Seni Baturenggong yang menampilkan Tabuh Lima Lelambatan Kreasi “Lawas”, sebuah komposisi yang memadukan unsur tradisional dengan sentuhan modern, menciptakan harmoni yang unik.
Babak kedua diisi oleh Tari Kreasi Kekebyaran. Duta Gianyar menampilkan tari “Gonggang”, yang mengisahkan tentang keseimbangan alam dan kehidupan, sementara Duta Badung membawakan “Masepuh”, sebuah tarian yang merefleksikan proses penyucian diri. Kedua tarian ini mendapat sambutan hangat dari penonton yang memadati area panggung.
Puncak Pertunjukan: Fragmen Tari Penuh Makna
Puncak acara adalah persembahan fragmen tari oleh masing-masing duta. Duta Gianyar melalui Sanggar Naya Art menampilkan fragmen “Sri Tanjung”, sebuah kisah epik tentang kesetiaan, fitnah, dan pengorbanan. Cerita berpusat pada Sri Tanjung, seorang istri setia yang difitnah oleh Prabu Sulakrama. Suaminya, Sidapaksa, terbakar amarah dan membunuh Sri Tanjung. Namun, setelah mengetahui kebenaran, Sidapaksa menebus kesalahannya dengan memenggal kepala Prabu Sulakrama. Pertunjukan ini sarat dengan nilai moral tentang pentingnya kepercayaan dan akibat dari kebutaan emosi.
Sementara itu, Duta Badung dari Komunitas Seni Baturenggong menyuguhkan fragmen “Jero Luh”. Kisah ini berlatar tahun 1890 Masehi, menceritakan perjalanan hidup Si Luh Punggul, seorang perempuan sepuh yang mengabdikan dirinya sebagai abdi setia di Puri Gede Abiansemal. Berkat kekuatan spiritual dan ikatan batin dengan permaisuri, ia dipercaya sebagai pelindung abdi dan pawang hujan. Menjelang akhir hayatnya, ia meminta agar Tapel Rangda diletakkan di atas jasadnya sebagai simbol pengabdian abadi. Dramatisasi cerita ini mencapai puncaknya ketika hujan turun tepat pada momen klimaks, disambut tepuk tangan meriah dari ribuan pasang mata.
Tabel Data Pertunjukan Parade Gong Kebyar
| Duta Kabupaten | Komunitas Seni | Garapan 1 (Tabuh) | Garapan 2 (Tari) | Garapan 3 (Fragmen) |
|---|---|---|---|---|
| Gianyar | Sanggar Naya Art | Guntur Madu | Gonggang | Sri Tanjung |
| Badung | Baturenggong | Lawas | Masepuh | Jero Luh |
Dampak dan Implikasi bagi Seni Budaya Bali
Parade Gong Kebyar bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan wadah regenerasi seniman dan pelestarian budaya. Kehadiran Gubernur Wayan Koster memberikan sinyal kuat bahwa pemerintah serius mendukung ekosistem seni tradisional. Dampak langsungnya, para seniman mendapatkan motivasi dan pengakuan, sementara masyarakat diajak untuk lebih mengapresiasi warisan leluhur.
Dalam jangka panjang, kegiatan seperti ini dapat mendorong pariwisata budaya, menarik wisatawan mancanegara yang ingin menyaksikan keunikan Gong Kebyar. Selain itu, kolaborasi antara desa adat dan pemerintah daerah melalui PKB memperkuat identitas budaya Bali di tengah arus globalisasi. Tidak hanya itu, pertunjukan fragmen seperti “Sri Tanjung” dan “Jero Luh” juga mengajarkan nilai-nilai luhur yang relevan dengan kehidupan modern, seperti kesetiaan, pengabdian, dan pentingnya introspeksi.
Daftar Kehadiran Pejabat Penting
- Gubernur Bali: Wayan Koster
- Bupati Badung: Nyoman Adi Arnawa
- Wakil Bupati Gianyar: Anak Agung Gde Mayun
- Kadis Kebudayaan Provinsi Bali: Ida Bagus Alit Suryana
- Kadis PMA Provinsi Bali: I.G.A.K Kartika Jaya Saputra
Acara ditutup dengan sesi foto bersama, di mana Gubernur Koster menyempatkan diri berdialog dengan para seniman. Beliau menekankan pentingnya inovasi tanpa meninggalkan tradisi, serta berjanji akan terus mendukung kegiatan serupa di masa mendatang. Momen ini menjadi penutup yang sempurna untuk sebuah perayaan seni yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkaya jiwa.
Di tengah gemuruh tepuk tangan dan suara gamelan yang masih terngiang, Parade Gong Kebyar kali ini telah membuktikan bahwa seni tradisional Bali tidak pernah kehilangan relevansinya. Ia terus hidup, beradaptasi, dan menginspirasi generasi baru. Dan dengan dukungan dari semua pihak, dari pemerintah hingga masyarakat, Gong Kebyar akan terus bergema, tidak hanya di panggung Ardha Candra, tetapi di hati setiap orang yang mencintai budaya Bali.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










