Pemkab Jembrana Gelar Bhakti Penganyar di Pura Mandara Giri Semeru Agung: Wujud Sradha dan Bhakti untuk Keselamatan dan Kesejahteraan Masyarakat
Suara Pecari, Jembrana, 13 Juli 2026 – Suasana khidmat dan religius menyelimuti Pura Mandara Giri Semeru Agung di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Kamis, 2 Juli 2026. Pemerintah Kabupaten Jembrana menggelar upacara Bhakti Penganyar sebagai wujud sradha dan bhakti yang mendalam ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Prosesi suci ini dipimpin langsung oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, didampingi Wakil Bupati Gede Ngurah Patriana Krisna, serta segenap jajaran pejabat di lingkungan Pemkab Jembrana.
Bhakti Penganyar merupakan rangkaian dari Puncak Karya Pujawali yang telah sukses diselenggarakan pada 29 Juni 2026, bertepatan dengan Purnama Kasa, Soma Paing Langkir. Rangkaian upacara piodalan ini dijadwalkan ditutup dengan prosesi upacara penyineban pada Sukra Pon Medangsia, Jumat, 10 Juli 2026. Kehadiran Pemkab Jembrana di tanah Lumajang bukan sekadar seremonial, melainkan simbol kuat ikatan spiritual dan budaya antara masyarakat Jembrana dengan leluhur dan alam semesta.
Makna Bhakti Penganyar dalam Tradisi Hindu Bali
Bhakti Penganyar memiliki makna mendalam dalam tradisi Hindu di Bali. Istilah ‘Penganyar’ berasal dari kata ‘anyar’ yang berarti baru atau segar. Upacara ini merupakan persembahan awal atau pembuka sebelum memasuki rangkaian upacara besar. Dalam konteks Pura Mandara Giri Semeru Agung, Bhakti Penganyar menjadi momentum untuk memohon tuntunan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, khususnya warga Jembrana yang memiliki ikatan historis dan spiritual dengan pura tersebut.
Pura Mandara Giri Semeru Agung sendiri merupakan salah satu pura penting di Jawa Timur, yang menjadi pusat kegiatan keagamaan umat Hindu di wilayah tersebut. Letaknya di lereng Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, memberikan aura sakral dan magis tersendiri. Bagi masyarakat Jembrana, pura ini dianggap sebagai tempat suci yang menghubungkan mereka dengan leluhur dan kekuatan alam.
Prosesi Upacara yang Khidmat
Upacara Bhakti Penganyar dipimpin oleh Ida Peranda Made Dwija Putra dari Griya Mas Taman Sari Baturiti, Tabanan, sebagai pemuput upacara. Beliau menghaturkan puja mantra demi kelancaran prosesi suci tersebut. Kehadiran pemuput upacara dari luar daerah menunjukkan sinergi dan solidaritas antarumat Hindu di Bali dan Jawa Timur.
Bupati Kembang Hartawan hadir didampingi Wakil Bupati Gede Ngurah Patriana Krisna, serta segenap jajaran pejabat di lingkungan Pemkab Jembrana. Tampak hadir di lokasi di antaranya Sekretaris Daerah (Sekda), para Asisten Sekda, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para Camat, hingga jajaran pengurus Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Jembrana. Kehadiran para pejabat ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menjaga nilai-nilai spiritual dan budaya.
Suasana religius semakin kental dengan hadirnya Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kabupaten Jembrana yang ngaturang ayah lewat persembahan sakral Tari Rejang Adri. Tarian ini merupakan bentuk persembahan seni ke hadapan Ida Bhatara-Bhatari, yang melambangkan kesucian dan pengabdian. Tari Rejang Adri biasanya ditampilkan dalam upacara-upacara besar di pura, dan kehadirannya menambah kekhidmatan acara.
Kronologi Rangkaian Upacara
Untuk memberikan gambaran yang jelas, berikut adalah kronologi rangkaian upacara Pujawali di Pura Mandara Giri Semeru Agung:
| Tanggal | Hari | Acara | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 29 Juni 2026 | Senin (Purnama Kasa) | Puncak Karya Pujawali | Upacara inti piodalan |
| 2 Juli 2026 | Kamis | Bhakti Penganyar oleh Pemkab Jembrana | Persembahan khusus dari Pemkab Jembrana |
| 10 Juli 2026 | Jumat (Sukra Pon Medangsia) | Upacara Penyineban | Penutup rangkaian piodalan |
Pernyataan Bupati: Doa untuk Keselamatan dan Kesejahteraan
Usai melaksanakan persembahyangan bersama, Bupati Kembang Hartawan menyampaikan bahwa Bhakti Penganyar ini merupakan momentum spiritual yang penting untuk memohon tuntunan, keselamatan, serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. “Bhakti Penganyar ini kami laksanakan untuk memohon restu dan perlindungan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kami berharap seluruh program kerja Pemerintah Kabupaten Jembrana dapat berjalan dengan lancar, selaras dengan harapan masyarakat, serta mampu membawa manfaat nyata,” ujar Bupati Kembang.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Bupati yang akrab disapa Wabup Ipat juga menambahkan bahwa melalui doa bersama ini, jajaran pemerintah daerah berharap senantiasa dianugerahi keselamatan (kerahayuan) dalam menjalankan roda pemerintahan. “Kami percaya bahwa dengan memohon restu kepada Tuhan, segala urusan akan dimudahkan. Semoga Jembrana senantiasa dalam lindungan-Nya,” ujar Wabup Ipat.
Dukungan Nyata: Dana Punia Rp 10 Juta
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap kelancaran karya suci ini, Pemkab Jembrana juga menyerahkan dana punia sebesar Rp 10 juta kepada panitia pura. Dana punia ini merupakan wujud partisipasi aktif pemerintah daerah dalam mendukung kegiatan keagamaan dan pelestarian budaya Hindu. Penyerahan dana punia dilakukan secara simbolis oleh Bupati Kembang Hartawan kepada perwakilan panitia pura, disaksikan oleh seluruh hadirin.
Dana punia tersebut diharapkan dapat digunakan untuk biaya operasional upacara, perawatan pura, dan kegiatan sosial keagamaan lainnya. Langkah ini menunjukkan komitmen Pemkab Jembrana tidak hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam aspek material untuk mendukung kelangsungan tradisi Hindu.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat Jembrana
Kegiatan Bhakti Penganyar ini memiliki dampak yang luas bagi masyarakat Jembrana, baik secara spiritual, sosial, maupun budaya. Berikut beberapa dampak dan implikasinya:
- Penguatan Identitas Budaya: Upacara ini memperkuat identitas budaya Hindu Bali di tengah arus modernisasi. Masyarakat diajak untuk kembali menghayati nilai-nilai luhur tradisi leluhur.
- Peningkatan Solidaritas: Kehadiran pejabat, tokoh agama, dan masyarakat dalam satu forum doa bersama meningkatkan rasa kebersamaan dan solidaritas antarwarga.
- Dukungan terhadap Pariwisata Religi: Pura Mandara Giri Semeru Agung merupakan destinasi wisata religi yang potensial. Kegiatan seperti ini dapat menarik minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, untuk berkunjung dan memahami budaya Hindu.
- Edukasi Generasi Muda: Dengan melibatkan generasi muda dalam prosesi upacara, mereka mendapatkan pendidikan langsung tentang tata cara upacara dan makna filosofis di baliknya.
Penutup: Harmoni Spiritual dan Pemerintahan
Bhakti Penganyar yang digelar Pemkab Jembrana di Pura Mandara Giri Semeru Agung bukanlah sekadar ritual tahunan. Ia adalah cerminan harmoni antara spiritualitas dan pemerintahan, antara doa dan kerja nyata. Dalam setiap mantra yang dipanjatkan, terkandung harapan akan masa depan yang lebih baik. Dalam setiap langkah bhakti, tersirat tekad untuk membangun Jembrana yang sejahtera, adil, dan makmur. Semoga restu Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa menyertai setiap langkah pembangunan di Bumi Makepung ini.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










