Kerinduan di Tengah Puing: Korban Bencana Tapteng Rindu Jokowi, Berharap Datang Melihat Langsung
Suara Pecari, RRI.CO.ID, Sibolga – Di tengah puing-puing rumah yang hancur dan lumpur yang masih membekas, suara kerinduan menggema dari Kampung Hutanabolon, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). Ratusan warga yang masih bertahan di pengungsian mandiri mengaku merindukan sosok Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). Mereka berharap mantan kepala negara yang dikenal blusukan itu dapat menyempatkan diri melihat langsung kondisi masyarakat yang hingga kini masih berjuang bangkit dari bencana banjir dan longsor yang melanda pada akhir Juni lalu.
Harapan itu bukan sekadar angan. Di sepanjang jalan menuju lokasi pengungsian, terpampang sejumlah spanduk buatan tangan warga bertuliskan ‘Selamat Datang Pak Jokowi’ dan ‘Kami Rindu Bapak’. Eva, seorang ibu rumah tangga yang kini tinggal di tenda darurat bersama dua anaknya, mengaku tak kuasa menahan haru saat melihat spanduk-spanduk tersebut. “Saya dengar ada kabar Pak Jokowi berkeliling di daerah di Indonesia, dan saya berharap Pak Jokowi mau datang ke Tapanuli Tengah. Semoga beliau bisa melihat langsung kondisi kami di sini,” ujar Eva, Selasa (11/7/2026).
Senada dengan Eva, Dorlan, seorang petani yang kehilangan lahan dan rumahnya, mengatakan bahwa kehadiran Jokowi akan menjadi penyemangat sekaligus membawa perhatian lebih terhadap percepatan penanganan bencana. “Saya yakin kalau beliau hadir, setidaknya bisa membantu percepatan penanganan bencana ini. Kami sudah lama menunggu penyelesaiannya dan tidak tahu lagi harus mengeluh kepada siapa,” ucapnya dengan nada pasrah.
Duka Berkepanjangan di Tapanuli Tengah
Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Tapteng pada 28-29 Juni 2026 lalu telah menimbulkan kerusakan parah. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapteng, lebih dari 5.000 jiwa terdampak, 12 orang meninggal dunia, dan 3 orang masih dinyatakan hilang. Sebanyak 1.200 rumah rusak, 8 jembatan putus, dan puluhan hektare sawah gagal panen. Hingga pertengahan Juli, masih ada sekitar 1.500 warga yang mengungsi di beberapa titik, termasuk di Hutanabolon.
| Aspek | Data |
|---|---|
| Jumlah korban meninggal | 12 orang |
| Korban hilang | 3 orang |
| Rumah rusak | 1.200 unit |
| Jembatan putus | 8 unit |
| Warga mengungsi (per 13 Juli) | ±1.500 jiwa |
Kronologi Bencana dan Penanganan yang Belum Tuntas
Bencana bermula pada malam 28 Juni 2026, saat hujan deras mengguyur wilayah Tapteng selama lebih dari 8 jam tanpa henti. Akibatnya, sungai-sungai meluap dan tanah di perbukitan longsor, menyapu pemukiman di kaki bukit. Pemerintah daerah langsung menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari dan mendirikan posko-posko pengungsian. Namun, bantuan yang datang dinilai lambat dan belum merata.
“Kami masih kekurangan air bersih dan makanan bergizi, terutama untuk anak-anak dan lansia. Obat-obatan juga terbatas,” keluh Siti, seorang relawan di posko Hutanabolon. Ia menambahkan bahwa warga sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah pusat, khususnya Presiden, agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi bisa dipercepat.
Ericson Maharaja, Ketua DPC Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Tapanuli Tengah, mengaku terharu sekaligus bangga melihat besarnya kerinduan dan harapan masyarakat terhadap sosok kepemimpinan Jokowi. “Aspirasi masyarakat ini akan kami sampaikan ke DPP PSI agar bisa menjadi perhatian, termasuk harapan untuk mengundang Pak Jokowi hadir di Tapanuli Tengah,” kata Ericson.
Dampak dan Implikasi Kunjungan Presiden
Kunjungan presiden ke daerah bencana bukan sekadar seremoni. Secara psikologis, kehadiran kepala negara dapat meningkatkan moral warga dan mempercepat proses pemulihan. Dari sisi kebijakan, kunjungan biasanya diikuti dengan instruksi langsung kepada kementerian terkait untuk menggelontorkan bantuan dan program pemulihan.
“Jika Pak Jokowi datang, saya yakin perhatian terhadap Tapteng akan meningkat. Mungkin ada instruksi untuk percepatan pembangunan infrastruktur dan relokasi warga ke tempat yang lebih aman,” ujar pengamat kebijakan publik dari Universitas Sumatera Utara, Dr. Ahmad Fauzi, saat dihubungi secara terpisah.
Namun, hingga saat ini belum ada kepastian mengenai jadwal kunjungan Jokowi ke Tapteng. Ericson mengakui bahwa wacana kehadiran Jokowi memang ada, namun belum dapat dipastikan kapan waktu kedatangannya. “Memang ada wacana terkait kehadiran Bapak Jokowi ke Tapanuli Tengah. Namun sampai saat ini belum dapat dipastikan kapan waktu kedatangan beliau,” pungkasnya.
Harapan di Tengah Kepastian yang Belum Jelas
Di pengungsian, malam-malam terasa panjang. Anak-anak bermain di antara tenda, sementara orang dewasa bergotong royong memasak dan membersihkan lingkungan. Spanduk bertuliskan ‘Kami Rindu Pak Jokowi’ tetap terpajang, menjadi simbol harapan bahwa pemimpin yang mereka idolakan akan datang membawa secercah terang.
“Kami tidak menyerah. Kami yakin masih ada yang peduli. Dan kami percaya, jika Pak Jokowi datang, semuanya akan berubah,” kata Eva sambil menatap spanduk yang mulai lusuh diterpa angin.
Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian, kerinduan warga Tapteng pada sosok Jokowi bukanlah sekadar nostalgia. Itu adalah jeritan hati yang memohon perhatian, agar puing-puing kehidupan yang hancur bisa segera dibangun kembali. Semoga doa dan harapan mereka tidak sia-sia.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










