Gerabah Bumijaya: Warisan yang Nyaris Mati, Kini Didorong Bangkit Kembali

Gerabah Bumijaya: Warisan yang Nyaris Mati, Kini Didorong Bangkit Kembali

Suara Pecari, Di tangan para pengrajin Kampung Kosambi, Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, tanah liat bukan sekadar bahan baku. Dari gumpalan tanah itulah lahir gerabah-gerabah khas yang menyimpan sejarah panjang, identitas budaya, sekaligus denyut ekonomi masyarakat. Namun, kejayaan gerabah Bumijaya tak lagi segemilang dulu. Di sentra gerabah yang pernah menjadi ikon Kabupaten Serang itu, aktivitas produksi kini tak seramai masa jayanya. Banyak tungku yang mulai dingin. Sebagian pengrajin memilih berhenti. Sebagian lainnya bertahan dengan pesanan kecil, sekadar menjaga tradisi agar tak benar-benar hilang.

Sejarah Panjang Gerabah Bumijaya

Gerabah Bumijaya memiliki sejarah yang panjang dan erat dengan kehidupan masyarakat Serang. Sejak zaman kolonial, gerabah dari daerah ini telah dikenal hingga ke berbagai wilayah di Jawa dan luar Jawa. Motif-motif khas yang dihasilkan, seperti motif geometris dan flora, mencerminkan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Namun, seiring berjalannya waktu, minat generasi muda terhadap kerajinan ini mulai menurun. Banyak pengrajin tua yang pensiun tanpa regenerasi yang memadai. Akibatnya, jumlah perajin aktif menyusut drastis dalam dua dekade terakhir.

Kondisi Terkini: Antara Harapan dan Keprihatinan

Saat ini, hanya segelintir pengrajin yang masih bertahan di Kampung Kosambi. Mereka kebanyakan adalah pengrajin senior yang sudah puluhan tahun menekuni profesi ini. Aspuri, salah satu pengrajin gerabah di Kampung Kosambi, mengungkapkan keprihatinannya. “Kalau bahan baku dan modal usaha terpenuhi, kualitas dan kapasitas produksi kami pasti bisa meningkat,” ujarnya. Persoalan utama yang dihadapi pengrajin bukan hanya pemasaran, tetapi juga akses bahan baku tanah liat berkualitas dan keterbatasan modal usaha. Ironisnya, bahan baku terbaik justru banyak keluar dari Kabupaten Serang dan berakhir di daerah lain. Wakil Bupati Serang, M. Najib Hamas mengaku, dirinya menemukan persoalan mendasar itu saat turun langsung ke sentra gerabah Kosambi. Ia menyebut bahan baku tanah liat dari wilayah Ciruas selama ini justru banyak dibeli pemodal dari luar daerah, termasuk Bali. “Gerabah ini ikon Kabupaten Serang, tapi kenapa tidak berkembang? Ternyata salah satunya karena tanah bahan bakunya dibeli pemodal dari Bali. Orang Ciruasnya juga dibawa ke sana untuk bekerja,” kata Najib, Sabtu (4/7/2026).

Rencana Kebangkitan: Tiga Langkah Strategis

Pemerintah Kabupaten Serang tidak tinggal diam. Melalui Wakil Bupati M. Najib Hamas, mereka merumuskan tiga langkah utama untuk membangkitkan kembali gerabah Bumijaya:

LangkahDeskripsiTarget
1. Penguatan KelembagaanMendorong pengrajin membentuk koperasi, KUBE, atau BUMDes untuk memudahkan akses modal dan pasar.Terbentuknya minimal 5 koperasi aktif pada akhir 2027.
2. Peningkatan Kualitas ProduksiMenghadirkan tenaga ahli untuk melatih pengrajin, terutama generasi muda, agar produk lebih variatif dan modern.Meningkatnya variasi produk dan daya saing di pasar modern.
3. Perluasan Jaringan PemasaranMembuka pasar baru melalui instansi pemerintah, swasta, dan digital marketing, serta menjadikan sentra gerabah sebagai destinasi wisata edukasi.Peningkatan omzet pengrajin sebesar 50% dalam 2 tahun.

Langkah pertama, Pemkab Serang mendorong para pengrajin berhenti berjalan sendiri-sendiri. Dengan wadah yang kuat, para pengrajin dinilai akan lebih mudah mengakses modal, pelatihan, hingga pasar yang lebih luas. Langkah kedua menyasar kualitas produksi. Najib menegaskan, inovasi penting agar gerabah Kosambi mampu bersaing di pasar yang semakin dinamis. “Anak-anak muda harus mulai tertarik. Produk gerabah harus lebih variatif, lebih kekinian, tapi jangan meninggalkan ciri khas lokalnya,” katanya. Langkah ketiga adalah memperluas pemasaran. Pemerintah Kabupaten Serang ingin membuka pasar baru dengan mendorong instansi pemerintah, swasta, lembaga pendidikan, hingga sektor perhotelan menggunakan produk gerabah khas Kosambi. Selain itu, Pemkab juga menyiapkan penguatan digital marketing agar para pengrajin tidak hanya mengandalkan penjualan konvensional.

Wisata Edukasi: Peluang Baru Gerabah Bumijaya

Najib bahkan melihat peluang besar menjadikan sentra gerabah Kosambi sebagai destinasi wisata edukasi. Ia membayangkan anak-anak sekolah, wisatawan, hingga masyarakat umum datang langsung ke sentra gerabah untuk belajar sejarah, filosofi motif, hingga proses pembuatan gerabah. “Kalau sudah tertata rapi, ini bisa jadi eduwisata. Orang datang bukan cuma lihat gerabahnya, tapi juga belajar sejarah dan makna budaya di balik setiap motif,” ujarnya. Untuk memperkuat perlindungan produk lokal, Pemkab Serang juga mendorong pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bagi motif khas gerabah Kosambi. Langkah ini dinilai penting agar identitas gerabah Serang tetap terjaga dan tidak mudah diklaim pihak lain.

Dukungan dan Harapan

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Dsikoperindag) Kabupaten Serang, Adang Rahmat menilai, konsistensi para pengrajin selama ini menjadi kekuatan utama yang menjaga sentra gerabah tetap hidup. Menurutnya, aktivitas produksi gerabah di Kampung Kosambi, Desa Bumijaya, terus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Di tengah gempuran modernisasi dan perubahan zaman, para pengrajin masih bertahan dengan harapan sederhana: menjaga warisan leluhur tetap hidup. Kini, harapan itu mulai menemukan jalan. Jika dukungan pemerintah, inovasi pengrajin, dan pasar yang kuat mampu berjalan beriringan, bukan tidak mungkin gerabah Bumijaya kembali bangkit – bukan sekadar sebagai produk kerajinan, tetapi sebagai simbol kebangkitan ekonomi kreatif Kabupaten Serang.

Penulis: Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor: Gilang Fattah

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *