Seleksi Monolog PEKSIMIDA Jatim 2026: Panggung Talenta Teater Mahasiswa di Universitas Jember
Gelaran Seni Monolog di Bumi Jember
Suara Pecari, Universitas Jember (UNEJ) kembali menjadi pusat perhatian dunia seni kampus Jawa Timur. Pada 8-9 Juli 2026, Gedung KAUJE di kampus setempat menjadi saksi bisu seleksi tangkai lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) Jawa Timur 2026. Sebanyak 24 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur berkompetisi untuk memperebutkan tiket menuju tingkat nasional. Ajang ini tidak hanya sekadar lomba, melainkan juga momentum untuk mengukur kualitas dan kreativitas mahasiswa dalam seni peran, khususnya monolog.
PEKSIMIDA sendiri merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Pusat Prestasi Nasional. Untuk tingkat Provinsi Jawa Timur, seleksi cabang monolog tahun ini dipercayakan kepada Universitas Jember. Pemilihan UNEJ sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNEJ memiliki tradisi kuat dalam pengembangan seni teater, dan hal ini diakui oleh panitia pelaksana.
Peserta dari Berbagai Kampus Ternama
Peserta seleksi monolog PEKSIMIDA Jatim 2026 berasal dari kampus-kampus besar di Jawa Timur. Berdasarkan data panitia, berikut adalah daftar perguruan tinggi yang mengirimkan delegasi:
| No | Nama Perguruan Tinggi | Jumlah Peserta |
|---|---|---|
| 1 | Universitas Jember (UNEJ) | 4 |
| 2 | Universitas Negeri Surabaya (Unesa) | 3 |
| 3 | Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) | 2 |
| 4 | Universitas Brawijaya (UB) | 3 |
| 5 | Universitas Trunojoyo Madura | 2 |
| 6 | Universitas Airlangga (Unair) | 2 |
| 7 | Politeknik Negeri Jember | 1 |
| 8 | Universitas Muhammadiyah Jember | 1 |
| 9 | Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya | 2 |
| 10 | Universitas PGRI Adi Buana Surabaya | 1 |
Data di atas menunjukkan partisipasi yang cukup merata dari berbagai jenis perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Hal ini menandakan antusiasme mahasiswa terhadap seni teater masih sangat tinggi.
Naskah ‘Aeng’ Karya Putu Wijaya: Pilihan Penuh Makna
Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Darul Isan Fernando dari Universitas Trunojoyo Madura, yang tergabung dalam UKM Seni Nanggala. Ia membawakan naskah berjudul “Aeng” karya sastrawan kondang Putu Wijaya. Naskah ini dikenal memiliki kedalaman psikologis yang kuat, mengeksplorasi tema absurditas kehidupan. Menurut Darul, persiapan untuk membawakan naskah ini memakan waktu sekitar satu bulan. “Latihannya kurang lebih satu bulan. Saya optimis bisa lolos, 100 persen optimis,” ujarnya dengan penuh percaya diri.
Pilihan naskah “Aeng” juga dibenarkan oleh sutradara delegasi Universitas Jember, Elika Triana Suryadi Putri. Ia menjelaskan bahwa naskah tersebut dipilih karena memiliki latar psikologis yang sangat kuat. “Kami memilih naskah ini karena memiliki kekuatan psikologis yang sangat kuat,” tuturnya. Sementara itu, aktor Muhammad Reza Dwiki Darmawan mengakui tantangan terbesar dalam pementasan adalah membangun kondisi psikologis tokoh. “Tantangannya adalah bagaimana menampilkan sisi psikologis tokoh dan membangun imajinasi, karena apa yang terjadi pada tokoh tidak terjadi dalam kehidupan saya sendiri,” kata Reza. Hal ini menunjukkan bahwa monolog bukan sekadar hafalan dialog, melainkan sebuah seni menghidupkan karakter.
Dukungan Penuh dari Pembina UKM Teater
Dina Fitria Hasanah, pembina UKM Teater Tiang yang mewakili Universitas Jember dalam ajang PEKSIMIDA tingkat daerah, menegaskan pihaknya memberikan dukungan penuh kepada peserta. “Saya memfasilitasi apa yang dibutuhkan, baik dari segi materi maupun moral. Ruangan latihan, akomodasi, dan kebutuhan lainnya kami koordinasikan bersama ketua, sekretaris, dan aktor agar persiapan dapat berjalan maksimal,” ujarnya. Dukungan seperti ini menjadi kunci keberhasilan peserta dalam menghadapi kompetisi yang ketat.
Selain itu, panitia PEKSIMIDA dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember, Dewi Angelina, menyampaikan harapannya agar kegiatan seni teater di Universitas Jember semakin berkembang. “Harapan saya supaya kesenian, khususnya teater di Universitas Jember, semakin menggeliat dan semakin banyak peminat dari kalangan mahasiswa. Selain itu, semoga pihak yang berwenang dapat menghadirkan gedung pertunjukan yang layak dan cukup besar agar bisa menjadi pusat kesenian di Jember,” katanya. Harapan ini relevan mengingat Jember memiliki potensi besar di bidang seni dan budaya.
Kronologi Seleksi Monolog PEKSIMIDA Jatim 2026
Berikut adalah kronologi kegiatan seleksi monolog yang berlangsung selama dua hari:
- Hari Pertama (8 Juli 2026): Pembukaan resmi oleh Rektor Universitas Jember yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan. Dilanjutkan dengan technical meeting dan pengundian nomor urut tampil. Sesi pertama penampilan peserta dimulai pukul 09.00 WIB hingga 12.00 WIB, dilanjutkan sesi kedua pukul 13.00 WIB hingga 17.00 WIB. Sebanyak 12 peserta tampil pada hari pertama.
- Hari Kedua (9 Juli 2026): Penampilan 12 peserta sisanya mulai pukul 08.00 WIB hingga 12.00 WIB. Setelah itu, dewan juri yang terdiri dari praktisi teater dan akademisi melakukan diskusi untuk menentukan pemenang. Pengumuman hasil seleksi dilakukan pada pukul 15.00 WIB. Para pemenang akan mewakili Jawa Timur ke tingkat nasional.
Dampak dan Implikasi bagi Dunia Teater Mahasiswa
Seleksi monolog PEKSIMIDA Jatim 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga memiliki dampak yang lebih luas. Pertama, kegiatan ini menjadi wadah pengembangan seni teater mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Kedua, melalui kompetisi ini, mahasiswa dapat mengasah kemampuan akting, interpretasi naskah, dan penguasaan panggung. Ketiga, ajang ini juga menjadi ajang networking antar pegiat teater dari berbagai kampus, yang dapat memicu kolaborasi di masa depan.
Bagi Universitas Jember, menjadi tuan rumah seleksi PEKSIMIDA merupakan bentuk pengakuan atas eksistensi seni teater di kampus tersebut. Hal ini juga menjadi momentum untuk mendorong pihak universitas dan pemerintah daerah untuk lebih serius dalam menyediakan fasilitas seni yang memadai. Seperti yang disampaikan Dewi Angelina, kebutuhan akan gedung pertunjukan yang layak menjadi prioritas agar Jember dapat menjadi pusat kesenian di Jawa Timur.
Penutup: Semarak Seni di Tengah Kampus
Gedung KAUJE yang biasanya hening, pada dua hari di bulan Juli itu berubah menjadi panggung yang hidup. Suara para aktor bergema, menghidupkan karakter-karakter fiksi yang sarat makna. Seleksi Monolog PEKSIMIDA Jatim 2026 telah membuktikan bahwa seni teater mahasiswa di Jawa Timur masih memiliki denyut yang kuat. Dengan dukungan dari semua pihak, bukan tidak mungkin talenta-talenta dari ajang ini akan bersinar di panggung nasional, bahkan internasional. Semoga semangat ini terus menyala, dan Jember semakin dikenal sebagai kota yang ramah bagi seni dan budaya.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










