Kapten Maroko Achraf Hakimi Terjerat Kasus Kekerasan Seksual Usai Tersingkir dari Piala Dunia 2026

Kapten Maroko Achraf Hakimi Terjerat Kasus Kekerasan Seksual Usai Tersingkir dari Piala Dunia 2026

Suara Pecari, Kekalahan Maroko dari Prancis di babak perempat final Piala Dunia 2026 tidak hanya menyisakan kekecewaan, tetapi juga memicu kontroversi baru yang melibatkan kapten tim, Achraf Hakimi. Pemain bertahan Paris Saint-Germain itu kembali menjadi sorotan setelah kasus hukum yang menjeratnya di Prancis kembali mencuat ke permukaan. Achraf Hakimi, yang sebelumnya telah didakwa melakukan pemerkosaan, menghadapi gelombang kecaman dari warganet yang menuntut keadilan. Tagar seperti “Hakimi penjara” dan “rapist” ramai di media sosial usai pertandingan yang berakhir dengan skor 2-0 untuk Prancis.

Dalam laga yang digelar di Stadion Boston, Foxborough, Massachusetts, pada Kamis (9/7/2026), Prancis sukses mengamankan tiket semifinal berkat gol Kylian Mbappé dan satu assist dari pemain yang sama. Namun, perhatian publik justru tertuju pada Achraf Hakimi yang tampil kurang memuaskan. Media Maroko, seperti situs “360”, memberikan nilai 4,5 dari 10 kepada Hakimi, terendah di lini pertahanan, dengan kritik bahwa ia terlalu sering maju dan meninggalkan celah di belakang. Penampilannya dinilai jauh dari level terbaiknya dan gagal memberikan kontribusi ofensif yang berarti.

Setelah peluit panjang berbunyi, sikap Achraf Hakimi kembali menjadi perdebatan. Sebuah video yang viral memperlihatkan ia tersenyum saat berbicara dengan rekan setimnya di PSG, Désiré Doué, sesaat setelah kekalahan. Senyuman itu dianggap tidak pantas oleh sebagian besar pendukung Maroko, yang menilainya sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap kekalahan tim. Meskipun dalam cuplikan lain Hakimi tampak tegang, insiden ini semakin memperuncing suasana.

Di sisi lain, persahabatan antara Achraf Hakimi dan Kylian Mbappé juga menjadi sorotan. Keduanya berpelukan hangat sebelum dan sesudah pertandingan, namun Mbappé menegaskan bahwa hubungan pribadi tidak memengaruhi permainannya. “Di lapangan tidak ada emosi. Saya datang untuk menang dan dia juga datang untuk menang,” ujar Mbappé kepada M6. Pernyataan ini menegaskan bahwa persahabatan mereka harus dikesampingkan demi profesionalisme di lapangan.

Kasus hukum yang membayangi Achraf Hakimi bukanlah hal baru. Pemain berusia 27 tahun itu telah menghadapi tuduhan pemerkosaan sejak 2024, dan proses peradilan masih berlangsung. Setelah kekalahan Maroko, banyak warganet yang kembali mengungkit kasus ini, dengan komentar seperti “Hakimi bisa langsung masuk penjara setelah ini” dan “Achraf Hakimi masih seorang pemerkosa!” Hal ini menunjukkan bahwa publik tidak melupakan tuduhan serius yang dihadapinya, meskipun Hakimi terus membantah dan mengklaim dirinya tidak bersalah.

Kekalahan ini juga menjadi pukulan telak bagi Maroko, yang sebelumnya menjadi tim Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia pada 2022. Harapan untuk mengulangi prestasi tersebut pupus setelah Prancis kembali mengalahkan mereka dengan skor yang sama, 2-0. Achraf Hakimi, sebagai kapten, harus menanggung kritik tidak hanya dari segi teknis, tetapi juga dari sisi moral. Kombinasi antara penampilan buruk, sikap kontroversial, dan kasus hukum yang belum selesai membuat posisinya semakin sulit.

Kesimpulannya, Achraf Hakimi kini berada dalam pusaran masalah yang kompleks. Di satu sisi, ia harus berjuang membersihkan namanya di pengadilan, sementara di sisi lain, reputasinya sebagai pemain dan kapten tim nasional terus dipertanyakan. Publik menanti keputusan hukum yang adil, namun hingga saat itu, bayang-bayang kasus ini akan terus mengikuti langkahnya, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *