Bulgaria Tolak Bergabung dengan Koalisi Pendukung Ukraina, PM Radev: ‘Kami Tak Punya Tempat’

Bulgaria Tolak Bergabung dengan Koalisi Pendukung Ukraina, PM Radev: 'Kami Tak Punya Tempat'

Suara Pecari, Perdana Menteri Bulgaria, Rumen Radev, dalam wawancara eksklusif dengan stasiun televisi btv pada Selasa (14/7/2026), menegaskan bahwa negaranya tidak akan bergabung dengan koalisi negara-negara yang mendukung Ukraina secara militer. Pernyataan ini disampaikan setelah Radev menolak undangan Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk menghadiri KTT Koalisi yang Bersedia (Coalition of the Willing) di Paris, Senin lalu.

Dalam wawancara yang disiarkan langsung oleh btv, Radev menyatakan, “Saya tidak percaya Bulgaria memiliki tempat dalam koalisi yang bersedia.” Ia menambahkan bahwa Sofia tidak mendukung bantuan militer berkelanjutan kepada Ukraina dan lebih memilih upaya diplomatik untuk mengakhiri perang. “Kami bukan bagian dari koalisi yang mendorong bantuan finansial dan militer terus-menerus ke Ukraina. Kami tidak memberikan bantuan semacam itu, karena saya tidak percaya cara menyelesaikan konflik ini adalah melalui upaya diplomatik yang kuat untuk mengakhiri eskalasi, bukan dengan memperpanjangnya melalui cara militer,” tegas Radev di hadapan kamera btv.

Keputusan Bulgaria ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya tekanan internasional untuk mendukung Ukraina. Koalisi yang Bersedia, yang terdiri dari sekitar 25 pemimpin dari lebih 30 negara, bertujuan untuk mengoordinasikan bantuan militer dan keuangan bagi Ukraina. Namun, Radev menegaskan bahwa Bulgaria lebih memilih jalur diplomasi. Ia juga menanggapi inisiatif pertahanan rudal balistik Eropa yang baru diumumkan di Paris, dengan mengatakan bahwa keputusan yang memengaruhi keamanan kolektif Bulgaria dibuat dalam kerangka NATO dan Uni Eropa. “Bulgaria secara aktif terlibat dalam semua format ini, di mana pun keputusan sebenarnya dibuat,” ujarnya.

Pernyataan Radev di btv ini menegaskan posisi Bulgaria yang berbeda dari mayoritas negara Eropa lainnya. Di tengah krisis global seperti perang Rusia-Ukraina dan ketegangan di Selat Hormuz, Bulgaria memilih untuk tidak terlibat dalam eskalasi militer. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk menjaga stabilitas regional dan menghindari keterlibatan langsung dalam konflik yang berkepanjangan.

Keputusan Bulgaria untuk tidak bergabung dengan koalisi pendukung Ukraina mendapat beragam reaksi. Beberapa pihak mengapresiasi sikap independen Bulgaria, sementara yang lain mengkhawatirkan melemahnya solidaritas Eropa. Namun, Radev menegaskan bahwa prioritas Bulgaria adalah perdamaian dan keamanan nasional. “Kami percaya bahwa penyelesaian konflik harus dicapai melalui diplomasi, bukan dengan memperpanjang perang,” pungkasnya.

Artikel ini berdasarkan laporan langsung dari berbagai sumber, termasuk wawancara eksklusif dengan PM Radev di btv. Bulgaria tetap berkomitmen pada keputusan bersama di NATO dan UE, namun menolak untuk menjadi bagian dari koalisi yang mendorong eskalasi militer.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *