Ika Natassa Bicara Kesejahteraan Penulis dan Tantangan Literasi di Indonesia: Perjuangan Pajak hingga Budaya Baca

Ika Natassa Bicara Kesejahteraan Penulis dan Tantangan Literasi di Indonesia: Perjuangan Pajak hingga Budaya Baca

Suara Pecari | Jakarta – Nama Ika Natassa bukanlah nama asing di dunia sastra Indonesia. Penulis novel-novel bestseller seperti Critical Eleven, Twivortiare, dan The Architecture of Love ini kembali menjadi sorotan. Dalam wawancara eksklusif dengan LPP RRI, Ika Natassa bicara kesejahteraan penulis dan tantangan literasi di Indonesia LPP RRI, mengupas tuntas perjuangan panjang yang telah dilalui bersama rekan-rekan penulis untuk mendapatkan keadilan pajak royalti.

Ika Natassa bicara kesejahteraan penulis dan tantangan literasi di Indonesia LPP RRI dengan nada optimis. Sejak 2017, Ika bersama Dewi Lestari, Ahmad Fuadi, dan penulis lainnya gencar menyuarakan beban pajak royalti yang dinilai memberatkan. Hasilnya, pemerintah akhirnya menurunkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) final atas royalti dari 6 persen menjadi 1,5 persen bagi penulis yang bukunya memiliki ISBN. “Dulu aku kurang bayar pajak puluhan juta setiap tahun. Sekarang dengan PPh final 1,5 persen, kami bisa lebih produktif,” ujar Ika.

Namun, Ika Natassa bicara kesejahteraan penulis dan tantangan literasi di Indonesia LPP RRI tidak berhenti di situ. Ia mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Data yang ia sampaikan cukup mencengangkan: dari 278 juta penduduk, hanya 16 juta eksemplar buku terjual per tahun, atau rasio 5,8 persen. Bandingkan dengan Inggris yang populasinya 67 juta tetapi menjual 669 juta eksemplar (10 buku per orang), atau Korea Selatan dengan 51 juta penduduk menjual 200 juta eksemplar (4 buku per orang).

Ika mengidentifikasi beberapa faktor penyebab: distraksi media sosial yang menggerus waktu membaca, akses terbatas ke toko buku dan perpustakaan, koleksi buku yang jarang diperbarui, serta harga buku yang relatif mahal akibat bahan baku kertas impor. Tak kalah penting, pembajakan buku masih marak karena rendahnya kesadaran akan hak kekayaan intelektual. “Pembajakan harus diberantas, karena merugikan seluruh ekosistem,” tegas Ika.

Dalam kesempatan yang sama, Ika Natassa bicara kesejahteraan penulis dan tantangan literasi di Indonesia LPP RRI juga menyoroti perlunya kebijakan yang mendorong minat baca. Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada insentif pajak, tetapi juga pada penyediaan akses buku yang lebih luas dan terjangkau. “Kami tidak hanya memikirkan kesejahteraan penulis, tetapi juga bagaimana agar minat baca masyarakat meningkat,” pungkas Ika.

Perjuangan Ika dan para penulis lainnya membuktikan bahwa kolaborasi antara pelaku kreatif dan pemerintah dapat menghasilkan kebijakan yang berpihak. Kini, dengan beban pajak yang lebih ringan, para penulis diharapkan mampu menghasilkan lebih banyak karya berkualitas. Namun, tantangan literasi masih menjadi pekerjaan rumah besar yang membutuhkan perhatian semua pihak, mulai dari pemerintah, penerbit, hingga masyarakat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan