Menjelang Tahun Ajaran Baru, Guru PAUD Diminta Bijak Terapkan AI
Suara Pecari, Menjelang dimulainya Tahun Ajaran Baru 2026/2027 pada 13 Juli mendatang, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi sorotan. Di tengah derasnya arus digitalisasi, para guru PAUD dihadapkan pada tantangan untuk memanfaatkan AI secara bijak tanpa mengorbankan esensi pendidikan anak usia dini yang sarat dengan interaksi, stimulasi, dan pendampingan langsung. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin, menegaskan bahwa AI dapat menjadi alat yang memperkuat kualitas pembelajaran jika digunakan secara proporsional. Namun, ia juga mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh menggeser peran guru sebagai pendamping utama tumbuh kembang anak.
Latar Belakang: Mengapa Kini Guru PAUD Perhatian pada AI?
Dalam beberapa tahun terakhir, akses terhadap teknologi digital semakin mudah, termasuk di lingkungan PAUD. Banyak aplikasi dan platform berbasis AI yang menawarkan konten edukatif interaktif, mulai dari pengenalan huruf dan angka hingga cerita animasi. Namun, para ahli pendidikan anak usia dini menekankan bahwa anak usia 0-6 tahun berada pada masa emas perkembangan otak yang membutuhkan interaksi nyata dengan manusia, bukan sekadar paparan layar. Guru PAUD di Kabupaten Kediri, yang telah memiliki fondasi cukup baik dalam mengadopsi teknologi, kini dihadapkan pada kebutuhan untuk memilah dan memilih penggunaan AI yang tepat.
Kronologi: Persiapan Menjelang Tahun Ajaran Baru
Berikut adalah rangkaian persiapan yang dilakukan Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri dalam menyikapi pemanfaatan AI di PAUD:
- Juni 2026: Dinas Pendidikan menggelar forum diskusi dengan para kepala sekolah PAUD dan perwakilan guru untuk membahas potensi serta risiko AI dalam pembelajaran.
- 4 Juli 2026: Kepala Dinas Pendidikan, Mokhamat Muhsin, secara resmi menyampaikan imbauan agar guru PAUD bijak menggunakan AI. Imbauan ini disampaikan dalam acara sosialisasi tahun ajaran baru.
- 5-12 Juli 2026: Pelatihan singkat tentang literasi digital dan AI bagi guru PAUD di Kabupaten Kediri digelar secara bertahap di lima kecamatan.
- 13 Juli 2026: Tahun Ajaran Baru 2026/2027 dimulai. Sekolah diimbau untuk menerapkan AI secara terbatas dan terpantau.
Pernyataan Resmi: Guru Tetap Pilar Utama
Mokhamat Muhsin menegaskan, “Pemanfaatan AI merupakan keniscayaan yang perlu disikapi secara bijak. Namun pada jenjang PAUD, penggunaannya harus tetap diselaraskan dengan karakteristik perkembangan anak agar teknologi menjadi pendukung pembelajaran, bukan menggantikan proses belajar yang sesungguhnya.” Ia menambahkan bahwa guru PAUD memegang peran penting dalam mengamati tumbuh kembang anak, mulai dari aspek sosial-emosional, bahasa, kognitif, hingga motorik. Kehadiran AI tidak boleh mengurangi fungsi guru dalam melakukan deteksi dini terhadap hambatan perkembangan dan memberikan stimulasi yang sesuai.
Sementara itu, Ketua Program Studi PG PAUD Universitas Nusantara PGRI Kediri, Anik Lestariningrum, menekankan pentingnya peningkatan kompetensi digital guru. Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan untuk menyusun media pembelajaran, mencari referensi, hingga mengembangkan metode belajar yang lebih kreatif. “AI seharusnya menjadi alat bantu yang mempermudah guru dalam merancang pembelajaran, bukan menggantikan peran pendidik. Anak tetap harus dibimbing agar mampu berpikir kritis, kreatif, serta tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi,” ujar Anik.
Dampak dan Implikasi bagi Pendidikan PAUD
Pemanfaatan AI yang bijak di PAUD membawa sejumlah dampak positif potensial, namun juga risiko yang perlu diantisipasi. Berikut analisisnya:
Dampak Positif
- Efisiensi Guru: AI dapat membantu guru dalam menyusun rencana pembelajaran, membuat bahan ajar visual, dan mengevaluasi perkembangan anak secara lebih cepat.
- Personalisasi Pembelajaran: Beberapa platform AI mampu menyesuaikan tingkat kesulitan materi dengan kemampuan masing-masing anak, sehingga stimulasi lebih tepat sasaran.
- Akses Referensi Luas: Guru dapat dengan mudah mencari ide kegiatan kreatif, lagu, atau cerita yang sesuai dengan tema pembelajaran.
Risiko dan Tantangan
- Ketergantungan Teknologi: Jika tidak dikontrol, anak bisa lebih sering berinteraksi dengan layar daripada dengan guru dan teman sebaya, menghambat perkembangan sosial-emosional.
- Kesenjangan Digital: Tidak semua sekolah memiliki infrastruktur dan koneksi internet yang memadai, berpotensi memperlebar kesenjangan kualitas pembelajaran.
- Privasi Data: Penggunaan aplikasi AI seringkali melibatkan pengumpulan data anak, yang perlu dilindungi sesuai regulasi perlindungan data pribadi.
Panduan Pemanfaatan AI untuk Guru PAUD
Berikut adalah panduan praktis yang dapat dijadikan acuan oleh guru PAUD dalam menerapkan AI di kelas:
| Aspek | Rekomendasi | Contoh Implementasi |
|---|---|---|
| Durasi Penggunaan | Maksimal 15-20 menit per sesi, tidak setiap hari | Menggunakan aplikasi cerita interaktif 2 kali seminggu |
| Konten | Pilih konten yang mendukung interaksi, bukan pasif | Aplikasi menggambar yang bisa digunakan bersama |
| Peran Guru | Guru mendampingi dan mendiskusikan konten | Setelah menonton video, guru mengajak tanya jawab |
| Evaluasi | Gunakan AI untuk asesmen formatif, bukan diagnosis | Aplikasi kuis sederhana untuk mengukur pemahaman |
Perspektif Tambahan: Kesiapan Infrastruktur dan SDM
Kabupaten Kediri sendiri telah berupaya meningkatkan konektivitas internet di sekolah-sekolah, termasuk PAUD. Namun, masih terdapat kesenjangan antara sekolah di perkotaan dan pedesaan. Oleh karena itu, Dinas Pendidikan berencana menyediakan pelatihan berkelanjutan dan modul penggunaan AI yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Anik Lestariningrum menambahkan, “Penguatan kompetensi dan pendampingan masih dibutuhkan agar implementasi AI dapat mendukung peningkatan kualitas pembelajaran sekaligus menjaga pendidikan anak usia dini tetap berorientasi pada tumbuh kembang anak secara optimal.”
Penutup: Masa Depan PAUD di Era AI
Langkah bijak dalam menerapkan AI di PAUD bukanlah sekadar menghindari risiko, melainkan memanfaatkan potensi teknologi untuk memperkaya pengalaman belajar anak tanpa kehilangan sentuhan manusiawi. Guru PAUD di Kabupaten Kediri, dengan dukungan dinas dan akademisi, diharapkan mampu menjadi pionir dalam menyeimbangkan inovasi dan tradisi. Ketika seorang anak kecil tersenyum karena berhasil menyelesaikan puzzle digital, di situlah peran guru yang mendampingi, memotivasi, dan mengarahkan menjadi lebih berarti daripada sekadar algoritma. Tahun ajaran baru ini menjadi momentum untuk membuktikan bahwa AI adalah sahabat, bukan pengganti, dalam perjalanan panjang mencerdaskan generasi penerus bangsa.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










