Komisi VII Minta TVRI Pikirkan Strategi Berkelanjutan usai Euforia Piala Dunia 2026
Momentum Piala Dunia 2026: Peluang Emas bagi TVRI
Suara Pecari | Jakarta – Anggota Komisi VII DPR RI, Nila Yani Hardiyanti, mendorong TVRI untuk memanfaatkan momentum penyelenggaraan Piala Dunia 2026 sebagai langkah strategis dalam memperkuat layanan publik dan pengembangan bisnis penyiaran nasional. Politikus PDIP ini menilai, TVRI perlu mulai memikirkan strategi keberlanjutan setelah euforia Piala Dunia 2026 berakhir. Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan, yakni menghadirkan konten olahraga dengan basis penonton yang kuat dan berkelanjutan.
“Mulai hari ini setelah event Piala Dunia ini, TVRI bisa mempertimbangkan konten yang memiliki basis penonton yang berkelanjutan. Mungkin bisa dipertimbangkan dengan Liga Indonesia, karena market sepak bola Indonesia ini sangat besar,” kata Nila dalam keterangan persnya, di Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026.
Lebih dari Sekadar Siaran: Akses Merata untuk Seluruh Indonesia
Nila menjelaskan, pembahasan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan LPP TVRI kemarin tidak hanya berfokus pada aspek teknis penayangan pertandingan Piala Dunia 2026. Mengingat pentingnya kesiapan TVRI sebagai penyiar resmi dalam memastikan seluruh masyarakat Indonesia dapat mengakses siaran secara mudah, gratis, dan berkualitas.
“Bukan hanya soal tayangan pertandingan. Tetapi bagaimana masyarakat Indonesia bisa menikmati siaran Piala Dunia dengan mudah, gratis, dan berkualitas. Termasuk di daerah-daerah yang selama ini masih menghadapi keterbatasan akses,” ucap Nila.
Hal ini menjadi krusial mengingat masih banyak wilayah di Indonesia yang memiliki infrastruktur penyiaran terbatas. TVRI, sebagai lembaga penyiaran publik, memiliki tanggung jawab untuk menjembatani kesenjangan akses informasi dan hiburan bagi masyarakat di pelosok negeri.
Kesiapan TVRI: 99,9 Persen Siap Siar
Chief Editor Piala Dunia TVRI, Usman Kansong, memastikan persiapan menyiarkan Piala Dunia 2026 di TVRI sudah mencapai 99,9 persen. Hal tersebut disampaikannya di Jakarta pada Senin, 8 Juni 2026. Kansong menyebut TVRI telah melakukan serangkaian uji coba untuk memastikan kelancaran. Salah satunya adalah dengan menyiarkan tiga pertandingan persahabatan jelang pesta sepak bola terbesar itu.
“Kita sudah siap 99,9 persen untuk menaikkan Piala Dunia dan kita sudah melakukan semacam uji coba simulasi. Kita menyiarkan tiga pertandingan friendly match, pada tanggal 7 (Juni) dua pertandingan dan tanggal 8 (Juni) satu pertandingan,” kata Kansong di ruang Lembaga Pers Dr. Soetomo, Gedung Dewan Pers, Jakarta.
Kansong menambahkan, persiapan mencakup dari sisi peralatan, teknis, maupun sumber daya manusia. Meski masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi, namun ia menegaskan TVRI sudah siap untuk menyiarkan Piala Dunia.
“Tidak ada kendala yang berarti, kendala tentu ada, tapi sifatnya teknis. Misalnya teman-teman yang belum terbiasa berhubungan dengan penyelenggaraan,” ujar Usman Kansong yang juga sebagai pembicara dalam Workshop Menulis Kreatif Suara Laga Piala Dunia 2026, Senin, 8 Juni 2026.
Strategi Pasca Piala Dunia: Membangun Ekosistem Konten Olahraga
Nila menekankan, keberhasilan penyelenggaraan siaran Piala Dunia tidak boleh berhenti pada tingginya antusiasme penonton. TVRI harus menyusun strategi lanjutan agar dampak positif yang diperoleh dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Jangan sampai euforia Piala Dunia berakhir begitu saja tanpa meninggalkan manfaat jangka panjang bagi TVRI dan masyarakat. Berharap TVRI juga mampu membangun ekosistem konten olahraga yang berkelanjutan dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat Indonesia,” ujar Nila.
Beberapa langkah strategis yang dapat dipertimbangkan TVRI antara lain:
- Mengakuisisi hak siar Liga Indonesia (Liga 1, Liga 2) untuk menjaga kontinuitas penonton sepak bola.
- Mengembangkan program olahraga lain yang memiliki basis penggemar kuat, seperti bulu tangkis, basket, dan voli.
- Memanfaatkan infrastruktur dan pengalaman teknis yang telah dibangun selama Piala Dunia untuk produksi konten olahraga berkualitas tinggi.
- Menjalin kemitraan dengan federasi olahraga nasional dan internasional untuk mendapatkan hak siar eksklusif.
Dampak dan Implikasi bagi Industri Penyiaran Nasional
Langkah TVRI ini tidak hanya akan berdampak pada lembaga itu sendiri, tetapi juga pada industri penyiaran nasional secara keseluruhan. Dengan menyediakan konten olahraga berkelanjutan, TVRI dapat:
- Meningkatkan jumlah pemirsa dan pangsa pasar iklan.
- Memperkuat identitas sebagai lembaga penyiaran publik yang relevan dan kompetitif.
- Mendorong pertumbuhan ekosistem olahraga nasional, termasuk peningkatan kualitas liga domestik.
- Memberikan alternatif siaran olahraga gratis di tengah dominasi platform berbayar.
Namun, tantangan juga mengintai. TVRI perlu memastikan pendanaan yang cukup untuk membeli hak siar dan memproduksi konten berkualitas. Selain itu, persaingan dengan stasiun televisi swasta dan platform digital yang sudah mapan menjadi ujian tersendiri.
Peran Komisi VII DPR dalam Pengawasan TVRI
Komisi VII DPR RI yang membidangi energi, riset, teknologi, dan komunikasi, memiliki peran strategis dalam mengawasi kinerja TVRI. Desakan Nila Yani Hardiyanti merupakan bagian dari upaya memastikan TVRI tidak hanya menjadi ‘penonton’ momen besar, tetapi mampu mentransformasikannya menjadi modal pengembangan jangka panjang.
DPR akan terus memantau realisasi strategi pasca Piala Dunia, termasuk penggunaan anggaran dan pencapaian target siaran. Transparansi dan akuntabilitas TVRI dalam mengelola hak siar dan konten akan menjadi sorotan.
Menatap Masa Depan: Lebih dari Sekadar Euforia
Piala Dunia 2026 adalah momentum langka yang harus dimanfaatkan maksimal oleh TVRI. Dengan persiapan yang matang dan strategi pasca-event yang terencana, TVRI berpeluang besar untuk bangkit sebagai kekuatan baru dalam penyiaran olahraga nasional. Keberhasilan ini tidak hanya akan menguntungkan TVRI secara institusional, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia yang haus akan tayangan olahraga berkualitas dan gratis.
Kini, bola ada di tangan TVRI. Apakah euforia Piala Dunia akan menjadi batu loncatan atau sekadar kenangan manis? Jawabannya tergantung pada langkah konkret yang diambil mulai hari ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












