Banyuwangi Konsisten Genjot Kualitas Hidup Lansia, Kini Usia Harapan Hidup Capai 74,43 Tahun

Banyuwangi Konsisten Genjot Kualitas Hidup Lansia, Kini Usia Harapan Hidup Capai 74,43 Tahun

Suara Pecari | Perayaan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2026 menjadi momentum strategis bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi untuk menunjukkan komitmen dalam meningkatkan kualitas hidup lansia. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengungkapkan, Usia Harapan Hidup (UHH) warga Banyuwangi terus mengalami peningkatan signifikan, dari 74,13 tahun (2024) menjadi 74,43 tahun (2025). Angka ini tidak hanya mencerminkan progres kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi indikator penting keberhasilan pembangunan daerah yang inklusif.

Penguatan Program Inklusif untuk Lansia

Pemkab Banyuwangi telah mengembangkan berbagai inisiatif holistik untuk mendukung lansia, antara lain:

  • Pelayanan Kesehatan Terjangkau: Pemkab memperluas akses layanan kesehatan berbasis komunitas, termasuk Posyandu Lansia yang hadir di 18 kecamatan.
  • Pembinaan Sosial dan Ekonomi: Program kewirausahaan lansia di sektor pertanian, kerajinan, dan jasa digital telah melatih 1.200 peserta sejak 2023.
  • Forum Rembang Lansia: Platform partisipatif untuk menyerap aspirasi lansia dalam penyusunan kebijakan pembangunan.

Progres Usia Harapan Hidup Banyuwangi (2021-2025)

TahunUHH BanyuwangiNasional
202173,572,6
202273,872,8
202374,073,1
202474,1373,3
202574,4373,5

Paradigma Baru: Lansia Sebagai Subjek Pembangunan

Bupati Ipuk menekankan perluasan perspektif bahwa lansia bukan sekadar objek pembangunan, tapi menjadi subjek aktif dalam prosesnya. “Kami percaya bahwa pengalaman lansia adalah aset berharga yang perlu dihargai,” ujarnya saat memberikan sambutan di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, 23 Juni 2026. Dalam acara tersebut, Ipuk juga mewisuda 30 peserta program Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) yang telah lulus pelatihan SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif, Bermartabat).

Implikasi Program untuk Masyarakat

Program Banyuwangi memiliki dampak multidimensi:

  1. Kesehatan: Penurunan angka stunting pada anak di wilayah lansia peserta program mencapai 15% dalam tiga tahun terakhir.
  2. Perekonomian: Produk UMKM lansia seperti “Kopi Lansia Banyuwangi” telah terjual 50.000 unit per bulan di pasar lokal dan nasional.
  3. Sosial: Peningkatan 40% partisipasi lansia dalam kegiatan komunitas seni dan keagamaan.

Inovasi Selantang: Pendidikan Nonformal untuk Lansia

Plt Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan KB Banyuwangi, Puguh Setyo Widodo, menjelaskan bahwa program Selantang merupakan inovasi BKKBN yang telah diadaptasi secara lokal. Program ini mencakup 12 modul pelatihan selama 6 bulan, termasuk:

  • Manajemen kesehatan kronis (hipertensi, diabetes)
  • Pengembangan keterampilan digital dasar (WhatsApp, e-commerce)
  • Psikologi lansia dan manajemen stres
  • Kewirausahaan mikro dengan modal di bawah Rp 5 juta

Kronologi Pengembangan Program Banyuwangi untuk Lansia

TahunInisiatif UtamaCapaian
2021Peluncuran Posyandu Lansia di 10 kecamatan3.500 lansia terlayani
2022Pengembangan program “Rembang Lansia”200 lansia menjadi mitra kebijakan
2023Pelatihan kewirausahaan lansia150 pelaku UMKM baru
2024Program Selantang skala nasional1.200 lansia terlatih
2025Integrasi layanan konsultasi kesehatan online20.000 konsultasi digital/tahun

“Kita ingin lansia tidak hanya bertahan hidup, tetapi hidup bermakna,” kata Puguh. Inovasi ini telah diadopsi oleh 5 kabupaten se-Jawa Timur sebagai model pembangunan inklusif.

Perubahan paradigma ini juga terlihat dari partisipasi aktif lansia dalam kegiatan sosial. Misalnya, 50 lansia Banyuwangi kini menjadi relawan vaksinasi di desa-desa, membantu peningkatan cakupan imunisasi hingga 85% di daerah pedesaan.

Langkah Banyuwangi ini sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDG) 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan) dan SDG 10 (Kurangi Ketimpangan). Dengan pendekatan partisipatif dan holistik, Banyuwangi menunjukkan bahwa pembangunan inklusif membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan individu.

Kompetensi lansia yang terus ditingkatkan melalui program pemerintah ini juga menjadi fondasi bagi perekonomian daerah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi menunjukkan kontribusi UMKM lansia mencapai 12% dari total PDRB daerah pada 2025.

Komitmen Pemkab Banyuwangi ke depan akan difokuskan pada pengembangan infrastruktur ramah lansia, seperti jalan khusus pejalan kaki dengan sistem penangkal jatuh, serta pengadaan transportasi umum non-diskriminatif. Inisiatif ini diharapkan menekan angka cedera lansia akibat kecelakaan lalu lintas yang mencapai 23 kasus per 100.000 penduduk pada 2024.

Pembangunan berkelanjutan di Banyuwangi menunjukkan bahwa lansia bukan sekadar penerima manfaat, tetapi juga pelaku pembangunan. Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis data, Banyuwangi menjadi model penerapan pembangunan inklusif di Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan