Triwulan I 2026: Serapan Pupuk Subsidi di Banyuwangi Capai 30 Persen
Suara Pecari – 09 April 2026 | Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melaporkan bahwa pada kuartal pertama tahun 2026, tingkat serapan pupuk subsidi mencapai 30 persen dari total alokasi tahunan.
Data ini dirilis oleh Dinas Pertanian dan Pangan setempat.
Dari total 47.401 ton pupuk urea yang dialokasikan, sebanyak 14.257,4 ton telah didistribusikan kepada petani hingga akhir Maret.
Persentase penyerapan urea berada pada 30,08 persen.
Pupuk NPK menunjukkan hasil paling tinggi dengan 15.333,4 ton terpakai dari 42.035 ton yang tersedia.
Ini berarti 36,48 persen alokasi NPK telah terserap.
Pupuk organik masih berada di level terendah, hanya 100,9 ton terdistribusi dari 652 ton yang dialokasikan.
Persentase serapannya sebesar 15,48 persen.
Sementara pupuk ZA tercatat 1,9 ton terjual dari total 7 ton, menghasilkan tingkat serapan 27,14 persen.
Angka ini berada di antara kategori urea dan organik.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, Danang Hartanto, menilai capaian tersebut masih tergolong baik mengingat distribusi dilakukan secara bertahap.
Ia menegaskan bahwa proses penyaluran direncanakan dalam tiga tahap sepanjang tahun.
“Serapan ini masih tergolong baik, karena dalam satu tahun penyaluran pupuk subsidi terbagi dalam tiga tahap. Jadi pada triwulan pertama ini memang belum maksimal,” ujarnya pada Kamis (9/4).
Danang menambahkan bahwa stok pupuk di wilayah kabupaten tetap aman dan mencukupi kebutuhan petani.
Hal ini penting untuk menghindari kekurangan di musim tanam berikutnya.
Pengawasan distribusi dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
Tim Dinas berkoordinasi dengan kantor pertanian desa dan lembaga koperasi.
Upaya tersebut juga bertujuan mencegah penimbunan atau penyalahgunaan pupuk subsidi.
Pengawasan lapangan mencakup verifikasi penerima dan pencatatan kuantitas.
Kondisi pasar pupuk nasional tahun 2026 mengalami fluktuasi harga, namun kebijakan subsidi tetap menjadi penopang utama bagi petani kecil.
Program ini diharapkan menstabilkan produksi pangan lokal.
Dengan serapan NPK yang paling tinggi, indikasi permintaan pupuk makronutrien tetap kuat di Banyuwangi.
Petani di lahan sawah dan perkebunan mengandalkan NPK untuk meningkatkan hasil.
Rendahnya serapan pupuk organik mengindikasikan tantangan dalam adopsi praktik pertanian berkelanjutan.
Pemerintah daerah berencana meningkatkan sosialisasi manfaat organik.
Pupuk ZA, yang mengandung unsur mikro, masih dalam tahap pengenalan kepada petani.
Penjualan terbatas mencerminkan kebutuhan edukasi lebih lanjut.
Total volume pupuk yang berhasil didistribusikan pada kuartal pertama mencapai 31.692,7 ton, mencakup semua jenis yang disubsidi.
Ini merupakan kontribusi signifikan terhadap target tahunan.
Jika tren serapan tetap stabil, diperkirakan total pencapaian tahunan dapat mendekati 80 persen atau lebih.
Namun, Dinas tetap menekankan pentingnya monitoring intensif.
Pemerintah Kabupaten juga menyediakan mekanisme pengaduan bagi petani yang merasa tidak menerima alokasi yang layak.
Saluran tersebut dapat diakses melalui kantor pertanian setempat.
Dalam rapat koordinasi, pihak Dinas menegaskan komitmen untuk memperluas jaringan distribusi ke daerah terpencil.
Hal ini diharapkan mengurangi kesenjangan akses.
Secara keseluruhan, laporan triwulan I menunjukkan bahwa program subsidi pupuk berjalan sesuai rencana awal, meski belum mencapai puncak penyerapan.
Keberlanjutan program akan bergantung pada efisiensi logistik dan edukasi petani.
Pemerintah mengajak semua pemangku kepentingan untuk berpartisipasi aktif dalam memastikan pupuk sampai kepada penerima yang tepat.
Dengan stok yang terjaga, petani dapat menyiapkan lahan menjelang musim tanam berikutnya tanpa kekhawatiran.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.






