Antrean Truk Logistik di Pelabuhan Ketapang Menggulung 7 km pada H+12 Lebaran

Bambang Darmawan
Antrean Truk Logistik di Pelabuhan Ketapang Menggulung 7 km pada H+12 Lebaran

Suara Pecari – 15 April 2026 | Setelah kebijakan pembatasan operasional truk tiga sumbu dicabut, jalur utama Banyuwangi‑Situbondo mengalami lonjakan kendaraan logistik yang menimbulkan antrean panjang hingga 7 km di pintu masuk Pelabuhan Ketapang pada hari kedua belas setelah Lebaran.

Lonjakan ini menambah kemacetan yang telah berlangsung selama enam hari, menyusul arus balik massal dari Jawa ke Bali pasca perayaan Idul Fitri.

Angkutan barang yang sebelumnya dibatasi kini berbondong-bondong, memaksa pihak pengelola pelabuhan, PT ASDP Indonesia Ferry, untuk mengaktifkan prosedur penanganan terpadu.

Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menyatakan bahwa perusahaan bersama seluruh stakeholder berupaya mempercepat penguraian antrean demi memulihkan layanan normal.

Untuk mengurangi tumpang tindih antara kendaraan penumpang dan truk, dermaga 1, 2, dan 3 kini difokuskan pada mobil, bus, serta kendaraan roda empat, sementara dermaga 4 dan LCM dialokasikan khusus bagi truk logistik.

Skema tersebut, menurut Andale, berhasil menurunkan konflik proses bongkar muat sehingga operasi menjadi lebih seragam dan cepat.

General Manager Cabang Ketapang, Arief Eko, menambahkan bahwa ritme kapal diperkuat dan fasilitas pendukung dipersiapkan untuk menampung volume tinggi.

Eko menegaskan bahwa semua dermaga dan armada kapal dijalankan pada kapasitas maksimum dengan pola layanan yang terarah untuk memperpendek waktu sandar kapal.

Koordinasi dengan aparat keamanan juga ditingkatkan; Mabes TNI mengerahkan 365 personel lintas matra untuk mengatur arus kendaraan menuju pelabuhan.

Pendukung militer tersebut membantu mempercepat pemecahan antrean sekaligus menjaga ketertiban di area masuk.

Selain itu, zona penampungan atau buffer zone di area Pusri dan Bulusan dioptimalkan untuk menampung masing‑masing 150 truk tiga sumbu dan sekitar 600 unit truk campuran.

Pengaturan ini mencegah kepadatan langsung menumpuk di pelabuhan dan memberikan ruang bagi proses penataan kendaraan.

Data Posko Ketapang mencatat pada Jumat pagi, 2 April, antrean kendaraan dari arah utara mencapai panjang 7 km, dominan berupa truk logistik.

Meskipun begitu, kendaraan yang bergerak dari tolgate ke dermaga masih dapat menempuh jarak dengan waktu 20–35 menit.

Selama 24 jam pada H+10 (1 April), tercatat 47.961 penumpang menyeberang dari Jawa ke Bali, naik 16 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sejak H‑10 hingga H+10, total penyeberangan mencapai 761.391 penumpang dan 201.676 unit kendaraan, mencerminkan tingginya mobilitas publik dan distribusi barang di lintas Jawa‑Bali.

ASDP menekankan pentingnya disiplin pengguna jalan; mereka diimbau tidak melawan arus demi menghindari penambahan kepadatan.

Pengguna jasa, khususnya dari arah utara, diminta mengikuti petunjuk petugas agar proses penguraian antrean dapat berjalan lancar.

Dengan sinergi antara operator pelabuhan, TNI, dan pihak transportasi, ASDP optimis layanan penyeberangan akan kembali stabil dalam waktu dekat.

Penguatan operasional dan kepatuhan pengguna dipandang sebagai kunci utama untuk mempercepat normalisasi layanan di pelabuhan Ketapang.

Tinggalkan Balasan