Kemacetan Lima Hari di Pelabuhan Ketapang Merugikan Pengguna Jasa
Suara Pecari – 15 April 2026 | Kemacetan yang telah berlangsung selama lima hari di Pelabuhan Ketapang menimbulkan kerugian signifikan bagi pengemudi dan pedagang yang mengandalkan rute tersebut.
Pada sore Rabu, kepadatan lalu lintas terpantau menjangkau 14 kilometer dari pintu masuk pelabuhan, menambah beban operasional para pengguna jasa.
Kendaraan yang terperangkap mayoritas terdiri dari truk logistik, pikap, bus antarkota, dan mobil pribadi, mencerminkan ragam sektor yang terdampak.
Pengemudi truk logistik menjadi kelompok paling terdampak karena tidak dapat menyalip kendaraan lebih kecil, memperpanjang waktu tempuh secara signifikan.
Selain itu, truk besar tidak dapat langsung memasuki area pelabuhan; mereka harus menunggu di zona parkir khusus hingga mendapatkan giliran menyeberang.
Hanya dermaga LCM dan Bulusan yang dapat melayani truk berukuran besar, sementara dermaga lain tetap terbatas bagi kendaraan kecil.
Made, sopir truk logistik asal Kabupaten Jembrana, mengaku terjebak selama dua hari dan menghabiskan waktu lama di zona parkir menunggu muatan dimuat ke kapal.
“Saya mengangkut kaleng sarden bekas ke Denpasar, dan biaya bahan bakar serta konsumsi naik berlipat karena penundaan,” ujarnya.
Katijo, sopir pikap yang mengangkut sayur dan buah segar ke pasar di Denpasar, melaporkan keterlambatan hingga pukul 02.00 pagi, jauh melewati jadwal pasar yang seharusnya berakhir pada 21.00.
“Keterlambatan ini membuat barang mudah busuk dan menambah biaya bahan bakar,” kata Katijo menambahkan.
Pengemudi bus antarkota Ucok menyampaikan bahwa ia harus menunggu berjam‑jam hanya untuk menempuh jarak beberapa kilometer, meski jam sibuk telah berlalu.
“Penumpang terus mengeluh karena perjalanan menjadi jauh lebih lama daripada biasanya,” ujar Ucok.
Posko transportasi Lebaran telah ditutup oleh otoritas, sehingga alur balik mudik tidak lagi menjadi faktor utama kemacetan saat ini.
Keempat pengemudi tersebut menuntut solusi jangka pendek untuk mengurangi penumpukan kendaraan serta rencana jangka panjang agar kejadian serupa tidak terulang.
Mereka mengusulkan penambahan dermaga baru serta perbaikan prosedur penanganan truk besar sebagai langkah konkret.
Pihak berwenang diharapkan berkoordinasi dengan pengelola pelabuhan untuk mengatur alur masuk‑keluar secara lebih efisien, termasuk penetapan jadwal khusus bagi truk logistik.
Jika tidak ada tindakan segera, kerugian material dan waktu akan terus meningkat, memperburuk kondisi ekonomi lokal dan menurunkan kepercayaan pelaku usaha.
Situasi ini menegaskan kebutuhan akan kebijakan transportasi yang adaptif, terutama pada titik masuk utama seperti Ketapang yang melayani arus barang dan penumpang lintas pulau.
Dengan penanganan yang tepat, kemacetan dapat dikurangi sehingga aktivitas perdagangan dan mobilitas warga kembali lancar.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







