IMF Warns of Global Recession Risks as Middle East Conflict Drives Oil Prices Higher

Mustakim
IMF Warns of Global Recession Risks as Middle East Conflict Drives Oil Prices Higher

Suara Pecari – 15 April 2026 | Jumat, 15 April 2026, Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia setelah harga energi melonjak akibat konflik yang terus berkecamuk di Selat Hormuz. Direksi IMF menegaskan bahwa ketegangan di Timur Tengah kini menjadi faktor utama yang menurunkan ekspektasi pertumbuhan global.

IMF mengidentifikasi tiga skenario pertumbuhan untuk 2026: skenario moderat dengan pertumbuhan 3,4% bila konflik berakhir cepat dan harga minyak kembali ke US$82 per barel, skenario menengah dengan pertumbuhan 2,5% dan harga minyak sekitar US$100 per barel, serta skenario buruk yang memperkirakan resesi dengan harga minyak US$110-125 per barel. Pada skenario terburuk, IMF memperkirakan pertumbuhan dunia turun drastis dan inflasi naik karena tekanan energi.

Kepala Ekonom IMF, Pierre‑Olivier Gourinchas, menyatakan bahwa kondisi saat ini berada di antara skenario menengah dan buruk, menambahkan bahwa setiap hari gangguan energi menambah kemungkinan masuk ke skenario terburuk. “Kami semakin dekat dengan skenario buruk karena konflik energi tidak menunjukkan tanda-tanda akhir,” ujarnya dalam konferensi pers.

Tanpa konflik, IMF memproyeksikan pertumbuhan dapat kembali ke 3,4% berkat peningkatan investasi teknologi, suku bunga yang lebih rendah, dan kebijakan fiskal yang mendukung di sejumlah negara. Namun, realitas harga minyak yang tinggi memaksa bank sentral menyesuaikan kebijakan moneter, yang pada gilirannya menekan konsumsi dan investasi.

Di tengah ketidakpastian global, Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menggelar pertemuan strategis dengan pejabat IMF, Bank Dunia, dan perwakilan S&P Global Ratings di Washington. Dalam pertemuan tersebut, Purbaya menegaskan komitmen Indonesia untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan APBN.

Purbaya menyatakan, “Kami telah menyampaikan rangkaian kebijakan fiskal yang kredibel, termasuk penguatan pendapatan negara dan pengendalian defisit, untuk memastikan Indonesia tetap menarik bagi investor meski kondisi dunia menegang.” Ia menambahkan bahwa dukungan internasional penting untuk menstabilkan pasar keuangan regional.

Presiden ke‑6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memperingatkan bahwa krisis ekonomi 2008 dapat terulang jika konflik Timur Tengah tidak mereda. Dalam pidatonya pada acara Supermentor‑28 On Leadership, SBY menekankan bahwa eskalasi perang dapat mengguncang pasar energi dan memicu gejolak mata uang serta suku bunga.

Paus Leo XIV dan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga memberikan pandangan moral terkait perang, menyoroti dampak ekonomi yang meluas. Paus menekankan pentingnya dialog dan perdamaian, sementara Trump menegaskan bahwa kepentingan keamanan nasional harus dipertimbangkan dalam kebijakan luar negeri.

Secara keseluruhan, prospek ekonomi dunia kini sangat dipengaruhi oleh kemampuan para pemimpin internasional menurunkan ketegangan di Timur Tengah. IMF diperkirakan akan memperbarui perkiraan pertumbuhan dalam beberapa minggu ke depan, sementara Indonesia berupaya memperkuat fondasi fiskal untuk menghadapi volatilitas pasar. Stabilitas global akan sangat tergantung pada penyelesaian diplomatik dan kebijakan energi yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan