Banyuwangi Percepat Revalidasi Geopark Ijen demi Green Card UNESCO
Suara Pecari – 16 April 2026 | Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mempercepat persiapan revalidasi Geopark Ijen guna meraih Green Card UNESCO Global Geopark. Upaya ini menjadi prioritas strategis untuk menjaga status internasional kawasan.
Revalidasi merupakan proses evaluasi menyeluruh yang wajib dilaksanakan setiap empat tahun. Evaluasi menilai kepatuhan terhadap standar lingkungan, edukasi, dan pelestarian budaya.
Hasil evaluasi dibagi menjadi tiga kategori: Green Card untuk status tetap, Yellow Card yang mengharuskan perbaikan dalam dua tahun, dan Red Card yang dapat mencabut status. Kategori tersebut menjadi tolok ukur keberlanjutan pengelolaan geopark.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menekankan pentingnya persiapan matang sebelum asesor UGG melakukan peninjauan lapangan. Ia menegaskan dukungan penuh pemerintah provinsi bagi tim revalidasi.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyampaikan bahwa pertemuan dengan Gubernur telah menghasilkan arahan konkret. “Kami harus menyiapkan semua dokumen dan kegiatan lapangan sebelum asesor datang,” ujarnya pada Rabu, 15 April.
Pertemuan tersebut juga dihadiri Bupati Bondowoso, Abdul Hamid, serta Kepala Bappeda Provinsi Jawa Timur, Mohammad Yasin, dan Kepala Bappeda Banyuwangi, Suyanto Waspotondo. Kolaborasi lintas daerah diharapkan memperkuat sinergi dalam proses revalidasi.
Ipuk menambahkan bahwa semua pemangku kepentingan harus memiliki pemahaman yang sama, komitmen kuat, serta rencana aksi terpadu. Tujuannya adalah memastikan Geopark Ijen tetap berada dalam jaringan UNESCO Global Geopark.
Ia menegaskan, “Dengan semangat gotong royong, dedikasi, dan komitmen yang kuat, kami yakin dapat memenuhi rekomendasi asesor UGG.”
Revalidasi 2026 menjadi evaluasi pertama sejak penetapan resmi Geopark Ijen pada tahun 2023. Persiapan kini difokuskan pada penyempurnaan dokumen dan pelaksanaan program lapangan.
Tim kerja geopark yang melibatkan Kementerian ESDM dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menggelar serangkaian agenda. Agenda tersebut meliputi forum diskusi, survei lapangan, dan kunjungan ke situs-situs strategis.
Forum diskusi (FGD) melibatkan pelaku pariwisata, masyarakat lokal, serta akademisi di wilayah deliniasi geopark, yaitu Banyuwangi dan Bondowoso. Diskusi ini bertujuan mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam rangka revalidasi.
Tim juga meninjau situs-situs penting seperti Teluk Pang‑Pang dan Desa Wisata Wringin Putih. Kunjungan tersebut menilai praktik pemberdayaan masyarakat, terutama dalam pengelolaan mangrove.
Yayan, perwakilan Tim Kerja Geopark, menyatakan bahwa beberapa rekomendasi UNESCO telah dipenuhi secara bertahap. Kerjasama dengan geopark lain di jaringan UGG juga menjadi nilai tambah dalam penilaian.
Ketua Badan Pengelola Geopark Ijen, Abdillah Baraas, menyoroti beberapa rekomendasi utama UNESCO. Rekomendasi meliputi penguatan riset geologi, peningkatan peta tematik, serta penambahan panel edukatif di area geopark.
Ia juga menekankan pentingnya pelestarian warisan budaya lokal. Aktivitas seperti festival budaya dan pelatihan kerajinan diharapkan meningkatkan nilai kebudayaan.
Abdillah menambahkan, “Kegiatan event nasional dan internasional harus terus kami selenggarakan untuk meningkatkan eksposur geopark.” Dokumen terkait telah dikirimkan melalui Bappenas ke UNESCO.
Seluruh data geologi, sosial‑ekonomi, serta rencana pengelolaan kini telah terintegrasi dalam sistem informasi geopark. Sistem ini memudahkan asesmen dan pelaporan kepada UNESCO.
Pemerintah Kabupaten juga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan bagi petugas lapangan. Pelatihan mencakup teknik monitoring lingkungan dan penyuluhan kepada masyarakat.
Investasi infrastruktur pendukung, seperti peningkatan jaringan jalan akses dan fasilitas informasi, sedang dipercepat. Langkah ini diharapkan meningkatkan kenyamanan wisatawan dan mempermudah inspeksi asesor.
Selain itu, program edukasi di sekolah‑sekolah setempat telah diluncurkan. Anak‑anak muda diajarkan nilai penting konservasi geopark sejak dini.
Penguatan jaringan pemasaran digital juga menjadi bagian dari strategi. Media sosial resmi geopark menampilkan konten interaktif untuk menarik pengunjung potensial.
Pemerintah provinsi berjanji menyediakan dana tambahan bagi proyek-proyek berkelanjutan di dalam geopark. Alokasi anggaran tersebut mencakup restorasi habitat dan pengembangan ekowisata.
Berbagai pihak, termasuk lembaga swadaya masyarakat, turut berperan dalam pelaksanaan program. Kolaborasi ini memperluas basis dukungan sosial bagi keberhasilan revalidasi.
Jika proses revalidasi menghasilkan Green Card, Banyuwangi dapat memanfaatkan status tersebut untuk memperkuat posisi kompetitif di pasar pariwisata regional. Hal ini berpotensi meningkatkan pendapatan daerah secara signifikan.
Namun, bila hasilnya Yellow Card, pihak berwenang telah menyiapkan rencana aksi dua tahun untuk memperbaiki aspek yang belum memenuhi standar. Komitmen perbaikan tetap menjadi prioritas utama.
Secara keseluruhan, upaya revalidasi Geopark Ijen mencerminkan tekad Banyuwangi dalam mengintegrasikan pelestarian alam, pengembangan ekonomi, dan pemberdayaan budaya. Semua langkah diarahkan pada pencapaian Green Card UNESCO.
Dengan persiapan yang matang, diharapkan asesmen UGG pada pertengahan tahun ini dapat memberikan hasil yang positif. Keberhasilan ini akan meneguhkan posisi Geopark Ijen sebagai destinasi unggulan dunia.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







